BAB 28 - Yang Tersisa Dari Sebuah Perpisahan

636 85 11
                                        

Entah kenapa, hari ini rasanya kayak lagi nonton episode terakhir dari drama panjang yang gak kelar-kelar. Semua orang punya panggungnya sendiri, dan masing-masing sibuk jadi pemeran utama di kisah mereka.
Naya cuma bisa menarik napas pas tahu kelompok tugasnya bareng Rendra. Astaga, padahal dia udah mati-matian ngindarin skenario ini. Tapi ya namanya nasib, kadang bisa segitu kejam.

Rendra dan Naya satu kelompok, sementara Sherly—pacarnya Rendra, malah kepisah di kelompok lain. Ironi banget. Dunia seolah sengaja main-main sama perasaan Naya.

Ya Tuhan, tolong selamatkan hati aku, gumamnya pelan, sambil memeluk buku-buku tebal di dada. Langkah kakinya berhenti di taman belakang sekolah. Tadi ia dan Rendra janjian di sana sepulang sekolah. Cahaya sore menembus sela dedaunan, membuat bayangan mereka jatuh panjang di atas meja taman. Rendra sudah duduk di sana, wajahnya teduh, tapi entah kenapa bikin jantung Naya berdetak gak karuan.

"Lama?" tanya Naya, mencoba datar.

Rendra menggeleng pelan. "Gak."

"Oh," balas Naya pendek.

Ia buru-buru duduk, mengeluarkan buku dan print-out tugas dari tasnya. Suasana hening menggantung. Hanya suara dedaunan yang berdesir, dan sesekali suara anak-anak lain yang sedang latihan futsal di lapangan belakang.

Rendra masih memandanginya. Sedangkan Naya, berpura-pura fokus pada buku catatan. Tangannya sibuk membuka halaman demi halaman, tapi pikirannya jelas melayang. Dia berusaha keras tidak sadar kalau sorot mata cowok itu gak pernah lepas darinya.

"Ini semua bahan-bahannya udah lengkap kan?" tanya Naya tanpa menatap.

"Iya."

Jawaban singkat. Naya menahan napas—heran kenapa Rendra cuma bisa ngomong "iya" dan "nggak" aja sejak tadi. Akhirnya dia menyerah. Ia mendongak, menatap Rendra yang masih diam tapi matanya menatap dalam, seperti menyimpan sesuatu yang gak bisa diucapkan.

"Lo kenapa? Sakit?"

Rendra menggeleng.

"Terus kenapa?"

"Maaf."

"Ha?" dahi Naya langsung berkerut. "Maaf buat apa?"

Rendra menunduk, suaranya serak. "Everything."

Naya mendengkus, berusaha menutupi debar yang mulai mengganggu. "Oke. Tapi gue gak mau bahas apa pun lagi."

"Until when?" suara Rendra lebih tegas kali ini.

"Rendra," Naya menatap matanya dalam, "gue ke sini buat kerja kelompok. Dan gue rasa gak ada yang perlu dibicarain lagi. Gue baik-baik aja."

Rendra menatapnya lama. "Kalau lo baik-baik aja, kenapa lo terus ngindarin gue, Nay? Kenapa lo gak pernah mau ngomong? Kenapa harus pergi gitu aja?"

Kata-kata itu seperti menampar Naya. Gadis itu membisu. Dalam hatinya, semua kenangan lama itu mulai berdesakan keluar, menabrak dinding waktu yang sudah lama ia bangun.

Dulu ... dia dan Rendra memang dekat. Tapi perasaan mereka berjalan tanpa nama. Rendra ingin menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman, sementara Naya lebih takut kehilangan. Jika persahabatan itu berubah, nanti suatu saat jika terjadi sesuatu pada hubungannya, Naya hanya takut Rendra menjauh darinya.

Ia masih ingat, hari itu. Rendra bilang, kalau Naya datang ke tempat yang ia sebut, berarti Naya juga punya perasaan yang sama. Tapi saat Rendra menunggu, yang datang justru Sherly bukan Naya.

Namun dari kejauhan, di balik semak, Rendra sempat melihat seseorang berjongkok, menangis perlahan. Itu Naya. Dia datang. Tapi tak berani menghampiri. Sherly datang bukan karena Rendra yang memanggil, melainkan karena Naya yang menyuruhnya. Karena Sherly pernah bilang pada Naya, dia juga suka pada Rendra.
Dan Naya, dengan logika bodohnya saat itu, berpikir lebih baik kehilangan sosok Rendra yang dia suka, daripada kehilangan pemuda itu sebagai sahabatnya. Sejak itu, semuanya berubah. Tak lama Sherly resmi jadi kekasih Rendra. Dan peran Naya tak lebih dari sahabatnya.

HEARTBREAKER  [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang