BAB 6 - Jaket dan Jarak

923 140 39
                                        

Pagi itu, udara masih lembap. Jalanan depan rumah Liana berkilau tipis, memantulkan cahaya matahari yang baru muncul dari balik awan.

"Dek, kamu berangkat sama siapa?" tanya Giana, menoleh dari ruang makan begitu mendengar suara langkah kaki. Matanya langsung menangkap sosok Liana—rambut hitamnya tergerai rapi, ujungnya sedikit bergoyang seiring langkah, kemeja putih seragamnya tampak bersih seperti baru disetrika.

"Naik angkot deh kayaknya, bun. Atau nggak, naik ojek!" jawabnya santai, berusaha memberi senyum, meski suaranya terdengar sedikit terburu-buru.

Giana sempat mengerling ke arah pintu, seakan mempertimbangkan sesuatu. "Bunda anterin aja, ya? Sekalian bunda mau—"

"Bun, nggak usah!" potong Liana cepat, tapi nada bicaranya tidak kasar, hanya tegas. Ia bahkan sampai mengangkat telapak tangannya, memberi tanda 'stop' sambil tersenyum menenangkan. "Bunda baru seminggu pulang dari rumah sakit. Istirahat aja, nggak usah capek-capek nganterin."

Giana menatapnya dalam, lalu tersenyum tipis. Dia tahu, sejak kepulangannya dari rumah sakit, anaknya itu jadi lebih protektif. Terlalu protektif, malah. Seakan takut kalau ia akan jatuh sakit lagi hanya karena berjalan sedikit lebih jauh.

Liana melangkah ke depan pintu, meraih sepatu hitamnya. "Lagipula, aku mau berangkat lebih awal. Nanti bunda istirahat aja, jangan lupa minum obatnya." Ia menunduk, mengikat tali sepatu, sementara di luar, suara klakson angkot terdengar samar dari ujung jalan.

"Emang nggak bareng Juna?" tanya Giana lagi, kali ini dengan nada yang setengah penasaran.

"Nggak, bun. Juna mana bangun jam segini!" Ia terkekeh kecil, membayangkan wajah Juna yang masih terbenam di bantal, tak terganggu bahkan oleh suara alarm paling keras sekalipun.

Giana menaikkan alis. "Loh, kenapa?"

"Hari ini tuh kita bebas mau datang kapan aja karena memang jam bebas, ada acara bazar di sekolah. Liana yakin, Juna baru buka mata kalau matahari udah di atas kepala." Nada bicaranya ringan, tapi bibirnya tersenyum lebar.

Giana ikut tersenyum, menggeleng pelan. "Ya udah, kalau gitu hati-hati, ya."

"Ya udah, Liana pergi dulu. Assalamualaikum!"

Liana berdiri, lalu menunduk sedikit mencium tangan ibunya. Ritual itu diikuti dengan kecupan singkat di kedua pipi Giana. Aroma lotion bunga yang Giana gunakan menyentuh indera penciuman Liana, memberi rasa tenang yang ia bawa saat melangkah keluar.

Di luar, angin pagi menyambut Liana dengan hembusan lembut. Cahaya matahari menembus celah pepohonan, menorehkan bayangan bergerak di sepanjang jalan. Ia melangkah mantap, menuju hari yang akan penuh warna di sekolah.

Langkah Liana mantap menapaki jalan setapak kecil di depan rumah. Namun tak lamaa, langkah Liana terhenti. Ia sempat tertegun.

Pagi yang ia kira akan diisi dengan perjalanan santai menuju sekolah, kini berubah sejak sosok pemuda itu muncul. Janu duduk tegak di atas motor sport hitamnya, jaket kulit separuh terbuka memperlihatkan kaos abu-abu di dalamnya. Sorot matanya teduh tapi sulit ditebak.

"Kamu ngapain ke sini?" tanya Liana, suaranya bercampur antara kaget dan heran.

Ia yakin seratus persen tidak menghubungi pemuda itu tadi malam. Ia bahkan ingat hari ini bukan jadwal pemuda itu untuk menjemputnya ke rumah.

Janu hanya menghela napas tipis, menatapnya singkat. "Nggak usah banyak tanya, buru naik!" Ucapannya singkat. Tangannya terulur, menyodorkan helm hitam mengilap ke arah Liana.

Liana berdiri di tempat, menatap helm itu lalu menatap wajah Janu. "Aku bisa naik angkot atau ojek sendiri, tahu." Ia berusaha menahan nada suaranya tetap datar, walau hatinya sedikit berdebar melihat ekspresi dingin pemuda itu.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang