A BABY BETWEEN US
Chanrene!
Divorce, Romance
Chanyeol menyingkirkan kacamata yang bertengger di hidung bangir. Mengalihkan netra dari layar komputer berukuran 20 inchi menuju kasur, dimana seorang bayi menggemaskan menempatinya.
Menghela nafas menatap buntalan berselimut biru dengan botol dot yang belum lepas. Dari tempat ia duduk terlihat bahwa bulu mata lentik itu terpejam nyenyak.
Sejak beberapa bulan terakhir pria itu memang sengaja memindahkan meja kerjanya menyatu dengan kamar tidur. Tujuannya agar memudahkan ia mengawasi bayi mungil yang enggan ia tinggalkan.
Kafein yang menemani Chanyeol sudah mendingin sepenuhnya ketika cairan itu ia sesap melalui belah bibir, ia lalu menyandarkan punggung pada tumpuan kursi dibelakang sembari menguap samar.
Jam digital yang diletakkan bersisian dengan komputer menunjukkan pukul 2 lebih seperempat dini hari. Waktu yang terlampau larut bagi jam normal.
Namun belum ada tanda-tanda bahwa Chanyeol akan merampungkan pekerjaannya sebelum pukul 3 sesuai target.
Tenggat waktu pekerjaannya masih tersisa 3 hari, tetapi seperti kebiasaan Chanyeol yang tak ingin menunda-nunda sesuatu, lelaki Park itu akan memilih segera menuntaskannya. Dengan begitu waktunya untuk berleha-leha juga akan semakin cepat ia dapatkan.
Bukankah jauh lebih menyenangkan jika memiliki banyak waktu luang tanpa beban setumpuk pekerjaan yang menghantui isi kepala.
Suara rengekan kecil sedikit mendistraksi kegiatan Chanyeol, jari-jemarinya bergerak lincah diantara keyboard serta mouse begitupun matanya yang memindai screen seakan dikejar waktu.
"Sebentar lagi sayang. Tunggu sebentar lagi.."
Tinggal finishing akhir sebelum akhirnya tangis pecah mengisi kamar pribadi bernuansa monokrom.
Chanyeol akhirnya menyerah dan memilih bangkit setelah menekan tombol save.
"Susumu habis ya? Jihoon-ie lapar hm?"
Chanyeol mengangkat tubuh gempal bayi laki-laki bernama Jihoon itu untuk bertumpu pada pundak kirinya. Tangan kanannya mengambil alih botol dot sembari menepuk lembut punggung mungil. Bayi itu terus merengek dan bergerak ketika Chanyeol membawanya menuju dapur.
Tangannya dengan cekatan membuat sebotol susu, menakarnya dengan air hangat yang sesuai.
Ketika susu sudah siap, jemari-jemari kecil Jihoon bergerak tak sabaran menggenggam pegangan kecil botol membuat Chanyeol terkekeh. Bahkan disela kegiatan meminumnya bayi itu masih saja merengek dengan mata terpejam.
Chanyeol menggendong Jihoon kembali ke kamar, mendudukkan diri didepan layar komputernya sembari menimang-nimang pelan.
Belum ada sepuluh menit susu dalam botol itu telah tandas tak bersisa. Jihoon yang tadinya sudah mulai diam kini kembali menangis. Bahkan bayi mungil itu membuang botol susunya ke sembarang arah.
"Jihoon. Astaga."
Chanyeol menghela nafas, kali ini pria itu menggelar karpet kecil di lantai dan meletakkan Jihoon berbaring pada bantal yang telah ia susun. Lalu secepat kilat Chanyeol kembali ke dapur membawakan botol dot berisi susu untuk si bayi.
Tangis Jihoon masih mengisi dini hari di apartemen yang Chanyeol tinggali seorang diri. Ia nyaris menyerah lantaran Jihoon selalu menggeleng dan menepis botol susu yang disodorkan Chanyeol ke mulutnya.
Mungkin popoknya sudah penuh.
Chanyeol memeriksa pantat bayi laki-laki itu , mengela nafas sesudahnya karena dugaannya salah. Tangis Jihoon semakin kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗦𝗵𝗼𝗿𝘁 𝗖𝗮𝗸𝗲 • 𝐶ℎ𝑎𝑛𝑅𝑒𝑛𝑒
NouvellesChanRene ! Kumpulan cerita pendek ChanRene satu kali gigitan 🍰 Highest rank in Short Story and ChanRene #1 in ChanRene 28/9/18 #3 in ChanRene 13/7/19 Start Update : 3/12/2017 Finish : 23/11/2019
