BAB 11 - Berdamai Dengan Hati

1K 155 35
                                        

Janu gelisah. Pikirannya malah terus melayang ke wajah seseorang. Ia benci mengakuinya, tapi bayangan itu terlalu jelas—Liana.

Siang tadi, tanpa sengaja ia melihat gadis itu di pinggir lapangan. Pandangan kosongnya seperti menyimpan letih yang tak bisa ia bagi pada siapa pun. Ada sesuatu yang menusuk dada Janu, saat melihat gadis itu tak seceria biasanya.

Dan sebelum sempat menimbang, kakinya sudah bergerak. Janu bahkan tidak tahu kapan ia berdiri di hadapan Liana, menatap wajah yang berusaha menyembunyikan luka di balik senyum tipis. Seolah ada magnet aneh yang menyeretnya.

"Janu?"

Suara itu lirih tapi cukup untuk bikin Janu tersentak. Ia sempat celingukan kayak maling ketahuan. Pemuda itu akhirnya hanya bisa mengangkat tangan dengan cengiran kaku.

"Ha-lo!" katanya kaku, terlalu dipaksakan ramah.

Liana justru tersenyum geli, matanya menyipit, seolah tingkah laku pemuda itu jadi hiburan kecil di tengah letihnya hari. Gadis itu menghela napas panjang, lalu menepuk pelan bangku kosong di sebelahnya.

"Duduk aja. Juna nggak akan marah kok." Katanya seakan paham akan kekhawatiran pemuda itu.

"Oh!" Janu refleks mengangguk. Ia melangkah mendekat, menjatuhkan tubuhnya di samping Liana.

Hening. Angin siang itu berhembus pelan membuat rambut Liana berantakan sedikit. Janu ingin membereskan helai itu, tapi ia menahan diri. Dia takut terlalu jauh. Di sisi lain, Liana menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri. Sesekali ia melirik ke samping. Keduanya larut dalam dunia masing-masing

"Ada apa?" suara Liana memecah keheningan, setelah cukup lama hanya ditemani desir angin.

"Gak," sahut Janu cepat, seolah takut rahasianya terbongkar.

Liana menoleh setengah, "Apa kabar?" tanyanya, mencoba mencairkan suasana.

"Baik."

"Syukur deh," Liana tersenyum samar.

Giliran Janu balik menatap. "Lo sendiri gimana?" nada suaranya pelan, tapi matanya jelas-jelas melirik ke arah kepala Liana.

Liana paham maksudnya. Gadis itu menyentuh perban di pelipisnya, lalu tersenyum tipis. "Minggu depan baru bisa dilepas."

Janu mengangguk pelan,sedikit lega mendengar penjelasan itu. Tapi kemudian, tatapannya menajam. "Ada masalah?"

"Gak, emangnya kenapa?" Liana menatap tak paham.

"Senyuman lo hilang."

Liana langsung terdiam. Dadanya terasa sesak, seakan ucapan sederhana itu berhasil membongkar dinding yang susah payah ia bangun. Ia memilih menatap ke depan, ke arah lapangan kosong, daripada harus menahan tatapan Janu yang entah kenapa terasa terlalu dalam.

"Tolong..." suara hatinya berbisik panik, berharap pemuda itu berhenti bertanya.

"Gak ada!" Liana buru-buru menjawab. Senyum tipisnya dipaksakan, bibirnya bergetar sedikit.

Pembohong. Kata itu bergema jelas di benak Janu. "Hubungan kamu sama Karina gimana?" Liana mencoba mengalihkan pembicaraan.

Pertanyaan itu membuat Janu terdiam sejenak. Ia menoleh sebentar. "Baik!" jawabnya singkat, terlalu singkat untuk terdengar meyakinkan.

"Hm." Liana hanya bergumam.

Mereka kembali tenggelam dalam keheningan, seolah taka da lagi hal yang ingin mereka katakan. Tanpa keduanya sadari, di kejauhan ada sepasang mata lain yang memperhatikan. Sosok itu bersandar santai di balik tiang besi dekat tribun lapangan. Senyum tipis menghiasi bibirnya, senyum yang penuh tanda tanya.

HEARTBREAKER  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang