ICE POV
"Vina!! Ck sialan! Siapa orang itu?!" gumamku kesal. Saat aku sedang menelepon dengan Solar, tiba-tiba ada yang ingin menarik tas Vina dan menyodorkan pisau kelehernya.
Aku dengan cepat memeluk Vina yang ketakukan setelah aku berurusan dengan orang misterius itu. Sekujur tubuhnya bergetar. Aku akan melaporkan ini pada polisi.
YAYA POV
"Kamu bohong kan!?" bentakku pada Liya yang sedang menjenguk ku dipenjara. Setelah mendengar bahwa Hali nyaris mati, aku sangat terkejut.
Aku takut jika ia kenapa-napa, karena aku belum sempat membalas dendam. Liya hanya dapat menunduk lesu, ia pun mendapat kabar ini saat berada dimarkas rahasia kami.
"Siapa yang ngelakuin itu sama Hali?!" tanya ku dengan menyelidik dan intens. Aku berjanji akan membalas perbuatan orang tersebut.
"Adiknya, Solar" ucapnya membuka suara dan memberikan jawaban padaku. Mata ku sontak membulat. 'Solar sekejam itu?' pikirku. Baiklah, aku akan merebut Hali ku kembali, xixi.
AUTHOR POV
"Menarik." jawaban singkat dan padat yang Yaya berikan. Sebelah sudut bibirnya terangkat, seringaian ini menandakan sesuatu akan dimulai.
"Waktu besuk sudah habis. Silahkan datang kembali besok" sahut seorang polisi wanita mulai memegang Yaya karena takut ia Yaya akan kabur.
Liya hanya mengangguk. Yaya menatap netra nya seperti memberi kode. Sekali lagi, Liya hanya mengangguk lagi sebagai jawaban.
--
SOLAR POV
Setelah kejadian semalam, tidak ada yang ingin berbicara dengan ku. Termasuk ibu ku sendiri. Jadi semalam aku tidak dirumah melainkan menumpang dirumah temanku.
Hari ini aku memberanikan diri untuk datang ke rumah sakit membesuk Kak Hali dan (name). Ku dengar, (name) selalu menyebut nama Hali dimasa komanya. Namun ia sudah sadar.
Terlalu lama berjalan sambil melamun sampai tidak sadar bahwa aku sudah sampai didepan ruangan mereka dirawat. Aku mengetuk pintu, dan terdengar suara "Masuk" yang mengijinkanku untuk masuk.
Melihat (name) yang sudah sadar sedang duduk disamping ranjang pesakitan milik Hali membuat ku tersenyum tipis. Saat (name) melihatku, dia membuang wajahnya ke sembarang arah.
'Dia marah padaku?'
"Em.. (name)" panggil ku lembut. Mencoba mengundang perhatiannya.
"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu, Solar" jawabannya ketus. Terdengar sangat kecewa.
"Apa salah ku?" tanya ku lagi, lebih baik jika aku memastikan.
"Hali begini karna siapa?" aku terkejut. Apakah ia mengetahuinya dari ayah? Seharusnya akan lebih baik jika dia tidak mengetahuinya dari orang lain.
"Darimana kau mengetahui hal ini!?"
"Ayah memberi tahu ku." tamatlah riwayatku, dia mengetahuinya dari orang lain.
"Maaf" aku menunduk menandakan aku menyesal atas perbuatanku.
Hatiku berdenyut sakit. Baiklah, aku akui ini semua memang salahku. Tapi aku melakukan ini diluar kendali. Bahkan (name) lebih memilih Hali. Aku kecewa pada (name).
"(name), aku mencintaimu! Aku melakukan ini demi dirimu (name)! Hali selalu menyakiti dirimu, jika kau bercerai dengannya, menikahlah dengan ku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia seperti saat kau bersama dengan Gempa!"
Nafasku memburu, aku memegang kedua pundaknya dan memaksa ia menatap diriku. Aku berharap dia mengerti akan perasaanku.
"Tapi aku tidak mencintaimu, aku mencintai Hali. Karena sekarang aku adalah istrinya"
Hatiku hancur berkeping-keping. Baiklah, aku benar-benar tidak memiliki harapan lagi iya kan?
"Baiklah, maaf aku tadi terbawa emosi dan memaksa dirimu"
Dia hanya mengangguk, dia mengengam sebelah tangan Hali dan ia mengelus surainya lembut. Pemandangan ini membuat hatiku panas.
--
"AGHHHHH!! SIAL SIAL SIAL!! AKU MEMILIH DIRIMU, TAPI APA YANG KAU BERIKAN UNTUKKU? AKU BENCI DIRIMU (NAME)!!" satu batu aku lempar ke dalam air. Memberi jeda untuk amarahku.
"AKU NYARIS MEMBUNUH HALI DEMI MENDAPATKAN DIRIMU! TAPI APA HAH? HAHAHAHA SIAL!" batu kedua menyusul masuk ke dalam air pantai. Bahkan sekarang air mata juga turun membasahi wajahku.
Jika bisa, aku ingin membuat diriku melupakan semua masalah ini sejenak. Tapi aku bukan seorang bajingan seperti Hali, yang pergi mabuk-mabukan jika memiliki masalah. Dan lagi, aku terpelajar.
Melihat sunset di ujung pantai rasanya membuatku sedikit tenang. Jika aku masih berada di Amerika, aku tidak akan kesepian, aku memiliki sahabat perempuan disana.
Dia tempat ku berbagi, segala keluh kesah dan masalah. Jujur, aku merindukannya...
--
AUTHOR POV
Dia seorang wanita, pekerja kantoran. Dia cantik dan rapi, serta anggun dan berwibawa. Usia nya berkisar 18. Mungkin dia anak magang?
Sekarang ia sedang sibuk mengurusi dokumen yang menumpuk diatas meja kerjanya. Manager nya bilang...
"Tonight is deadline, Wilona. If you can finish this all before 8 o'clock, i'll give you, that you dream skincare as bonus."
Mengingat itu terus menerus sehingga membuatnya senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba telepon miliknya berbunyi, ia mengangkatnya. Saking fokusnya, ia tidak sadar kalau itu telepon pribadi.
"Hello" ucap pria disebrang telepon memulai pembicaraan.
"Yeah, Wilona here. Who is speaking?" sambil mengerjakan sambil juga teleponan, demi skincare sampai ga fokus dia.
"I'm Solar" datar pria yang melepon. Ia pikir bahwa sahabatnya hanya berpura-pura.
"Ohh.. So? Maybe i help you sir?" Solar mengernyitkan dahi bingung, kemudian ia mengecek kembali nomor yang ia telepon.
'Perasaan aku nelponnya bener' batin Solar berucap. Solar memutuskan untuk diam, menunggu orang yang ditelponnya mengenali dirinya terlebih dahulu.
1
2
3
"Ehh! Solar! I'm sorry. Did you eat? And why does your voice heard tired? What happend there?" Solar tau dan terbiasa akan hal ini, sahabatnya satu ini sungguh cerewet namun perhatian.
"I'm going back to America in 3 days" ujar Solar to the point.
"Why? You haven't ans my question!" wanita bernama Wilona itu terdengar kesal. Pasti ia sedang memasang wajah cemberut, begitu pikir Solar sambil terkekeh kecil saat ini.
"Do you miss me?" tanya Solar memancing Wilona, pasalnya ia tidak suka bertele-tele. Jika wanita cerewet ini bertanya, maka akan banyak waktunya yang terbuang.
"Very much!" ya, seperti biasa. Selalu antusias. Itulah penyebab Wilona bisa menjadi yang terbaik dalam apapun yang ia lakukan.
"Yeah, i'll going back." 'terpancing kau, xixi' batin Solar senang. Setelah sedikit berbincang-bincang, mereka pun melanjutkan aktivitas masing-masing.
--
"Tenangkan dirimu, Hali. Aku memaafkan mu kok"
"Kita mulai dari awal?"
--
Author's note :
Beberapa chapter menuju ending ahay ≥3≤. Gada sequel segala, author sibuk di rl. Masih bingung nieh maunya happy atau sad ending yahh? Btw jangan lupa vote dan komen! See you guys <3
KAMU SEDANG MEMBACA
Maybe We Can Love?
Fan-FictionMenikahi seseorang yang seharusnya menjadi Kakak Ipar mu adalah hal yang paling tidak disangka! Sosok Adik Tiri yang selalu saja ingin menghancurkan hidupmu tak pernah membiarkan mu hidup dengan tenang. Bagaimana kelanjutan kisah romansa mu dengan s...
