9 TAHUN KEMUDIAN
HALILINTAR POV
Sudah berkisar 3 hari aku dan istriku bertengkar, hanya karena masalah ekonomi yang membuat kami sedikit sengsara. Perusahaan bangkrut sedangkan banyak biaya yang harus dikeluarkan.
"AKU UDAH GA SUDI BUAT HIDUP SAMA KAMU!! KAMU MISKIN, DAN KAMU CUMA BISA BUAT AKU SENGSARA!!" teriak nya sambil merapikan kopernya tepat di hadapanku.
"Aku mohon jangan tinggalin aku, kasian anak kita (name)!!" aku bersujud dihadapannya. Aku memohon demi mempertahankan rumah tangga kami.
"Aku ga peduli. Intinya aku udah capek sama kamu. Aku nyesal ga nerima Solar waktu itu... Seandainya aku sama Solar, hidup aku ga akan susah, Li." jelasnya padaku, hal itu membuat hatiku sakit. Apa ini karma untukku dimasa lalu?
"Mama..." tanpa kami sadari, anak pertama kami yang berusia 8 tahun melihat pertengkaran kami. Aku yakin dia tidak akan sanggup menahan beban seberat ini.
"Kalian ikut aja papa kalian. Mama gamau punya kenangan masa lalu sama papa kalian." ujar (name) pada anak kami. Kenapa perbuatan ku dimasa lalu berbuah terhadap anakku juga?
"(name) aku mohon (name)!! Aku... Aku bakal lakuin apa aja. Please (name) aku gabisa hidup tanpa kamu!! Anak kita masih kecil, mereka butuh ibunya..."
"(name)... Aku mohon. Aku butuh kamu buat mengerti dan dukung aku disaat kek gini..."
"Maaf, tapi aku ga peduli." sarkas (name) sambil menutup reselting koper dan mulai menyeret koper berisi barang-barangnya.
"(name)!! Udah belum?" panggil lelaki selingkuhannya di depan sana. Dapat kulihat dia memiliki mobil mewah dan barang-barang mahal.
Tapi, yang membuat ku terkejut adalah dia sahabatku, Blaze.
"Iya Blaze. Udah kok" jawab (name) dengan setengah berteriak tetapi nada bicaranya lembut.
"Bl-Blaze... Kau!!?" gagap ku.
"Ups, maaf ya, Li. Kamu sekarang udah miskin. Bahkan istrimu pun lebih memilih diriku. Siapa suruh dulu kamu bajingan?" sinis Blaze. Sungguh kurang ajar.
"Jaga diri baik-baik. Jangan suka mabuk lagi. Anak-anak perlu ayahnya." terkesan seperti pesan terakhir darinya untuk diriku.
"TIDAK (name)!!!"
--
AUTHOR POV
"Hali, aku disini. Kamu kenapa hah? Mimpi buruk? Ini minum dulu." sahut (name) terkejut karena Hali tiba-tiba meneriaki namanya. Lalu ia menyodorkan segelas air putih dan membantu Hali untuk duduk.
'Dia... Dia tetap baik awalau aku selalu kasar kepadanya...'
'Apa mimpi tadi adalah pertanda untukku?'
BRUKK
"Ha... Halihh... A... Aku gabisa nafas..." ucap (name) secara terbata karena Hali tiba-tiba menerjang dirinya dengan pelukan.
"Aku ga akan lepas! Kamu... Kamu harus maafin aku (name)! Aku gamau kehilangan kamu. Maafkan sikapku selama ini... Maaf karena sudah menyalahkan dirimu atas kematian Gempa... Maaf... Maaf... Maaf" lirih Hali dipundak (name). Bahkan dapat dirasakan pundak (name) basah secara mendadak.
"Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf Hali... Emangnya kamu kenapa tiba-tiba gitu? Sini cerita kalau mau" tawar (name) dengan tulus. Hali jadi teringat dengan mantan kekasihnya.
FLASHBACK
"Aku numpang nyandar dipundak kamu boleh?" pinta Hali pada gadis berjilbab pink disebelahnya. Saat ini mereka berada di rooftop sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maybe We Can Love?
FanfictionMenikahi seseorang yang seharusnya menjadi Kakak Ipar mu adalah hal yang paling tidak disangka! Sosok Adik Tiri yang selalu saja ingin menghancurkan hidupmu tak pernah membiarkan mu hidup dengan tenang. Bagaimana kelanjutan kisah romansa mu dengan s...
