Angelia terbangun perlahan dari tidurnya.
Kesadarannya kembali sedikit demi sedikit saat sinar matahari menembus tirai jendela dan jatuh tepat ke wajahnya. Hangat—namun terasa asing. Ia mengerang pelan, mencoba menggerakkan tubuhnya, namun sesuatu terasa ganjil.
Ada beban di tangan kanan dan kirinya.
Alis Angelia berkerut. Ia menggerakkan jari-jarinya perlahan, merasakan tekstur kain yang lembut, jauh berbeda dari seprai kamarnya yang biasa.
“Apa…?” gumamnya lirih.
Matanya menyipit, mencoba beradaptasi dengan cahaya terang yang menyilaukan. Namun detik berikutnya, bola matanya melebar, napasnya tertahan, dan tanpa sadar tubuhnya langsung terduduk tegak.
Mulutnya menganga.
Kamar ini… bukan kamarnya.
Dindingnya tinggi, dihiasi ukiran rumit berwarna emas. Tirai panjang menjuntai anggun dari jendela besar. Langit-langitnya dihiasi lukisan indah yang menggambarkan langit biru dan awan putih. Semuanya tampak begitu mewah—terlalu mewah untuk disebut nyata.
“Ini… apa?” bisik Angelia nyaris tak bersuara.
Pandangannya berkeliling dengan jantung yang berdegup kencang.
“Seperti… kamar kerajaan…”
Itulah satu-satunya kesimpulan yang bisa ia ambil.
Belum habis keterkejutannya, pintu kamar terbuka perlahan. Seorang perempuan muda masuk dengan langkah hati-hati, lalu langsung menunduk hormat di hadapan Angelia.
“A—apa yang kau lakukan?” tanya Angelia refleks, suaranya terdengar kaku.
Perempuan itu menoleh, tampak bingung dengan reaksi Angelia.
“Saya memberi hormat pada Tuan Putri,” jawabnya polos.
“Berdiri!” bentak Angelia tanpa sadar. “Aku tidak menyukai hal seperti itu.”
Perempuan itu tersentak, lalu buru-buru berdiri tegak.
“Tuan Putri, hari ini agenda Anda adalah makan malam bersama keluarga besar Kerajaan,” ucapnya hati-hati.
“Apa maksudmu?” Angelia mengernyit. “Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Dan satu hal lagi—aku bahkan tidak tahu aku ada di mana!”
Perempuan itu tampak semakin kebingungan.
“Putri Angel sedang berada di Kerajaan Magic.”
“Cih.” Angelia mendecih. “Siapa kau sampai berani memanggilku Putri? Aku bukan Putri kerajaan mana pun.”
Perempuan itu langsung menunduk lagi.
“Tapi tidak sopan jika saya memanggil Putri Angelia tanpa gelar.”
“Ganti,” ucap Angelia dingin. “Aku tidak menyukainya. Panggil aku Angelia. Aku bukan Putri.”
Perempuan itu menatap Angelia dengan raut takut.
“A—apakah Tuan Putri baik-baik saja?”
“Apa kau melihatku tidak baik-baik saja?” balas Angelia tajam.
“Tuan Putri… Anda berlaku aneh sejak bangun tidur. Tidak biasanya Anda sekasar ini…”
Angelia mengusap wajahnya frustasi.
“Ck… sebenarnya apa yang terjadi denganku…”
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
