2 tahun kemudian...
“Angelia.”
Wanita itu yang semula tengah sibuk membereskan peralatannya di atas meja langsung menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan perlahan saat mendengar suara yang begitu ia kenal.
“Irene?”
Irene sudah berdiri tak jauh darinya, menatap Angelia dengan ekspresi santai sambil menyampirkan tas di bahunya. Ia melangkah mendekat.
“Mau pulang ke rumah?” tanyanya, matanya melirik tumpukan buku dan alat tulis yang sudah rapi di tangan Angelia.
Angelia mengangguk kecil. “Iya.”
Irene melirik jam tangannya sekilas, lalu kembali menatap Angelia. “Memangnya kau tidak ada jam kuliah lagi?” tanyanya heran.
“Nggak,” jawab Angelia singkat, sambil memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya.
Tanpa banyak bicara, Irene langsung menarik tangan Angelia. “Kalau gitu, yuk party!” serunya ceria sambil mengepalkan tangan ke atas, penuh semangat.
Angelia terkekeh kecil, langkahnya mengikuti Irene. “Yuk, tapi kau yang traktir, ya.”
Senyum Irene langsung lenyap seketika. Wajahnya berubah masam. “Aku belum gajian,” keluhnya panjang.
Angelia langsung melepaskan genggaman tangan Irene. Ia bersidekap dada, memalingkan wajah dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
“Ya sudah,” ujarnya dingin. “Aku nggak mau jalan sama kamu.”
Irene mendesah pelan, lalu buru-buru menarik kembali tangan Angelia dan menggenggamnya erat, takut kalau wanita itu benar-benar pergi.
“Duh, baru segitu aja udah ngambek,” gumamnya. “Ya sudah, ya sudah. Aku rela mengorbankan uang berhargaku demi mentraktirmu.”
Mendengar itu, wajah Angelia langsung berubah. Senyum sumringah terukir jelas di wajahnya. “Nah, gitu dong,” ujarnya senang. “Yuk, let’s go!”
Angelia melangkah lebih dulu dengan langkah ringan, nyaris melompat kecil. Irene hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu, namun senyum tipis terbit di bibirnya.
Dalam hati, Irene merasa sangat bersyukur. Angelia kini kembali ceria, kembali menjadi wanita yang ia kenal selama ini. Tidak ada lagi tatapan kosong, tidak ada lagi gumaman nama Edward yang dulu sering membuatnya khawatir.
Dan meski Irene tidak tahu apakah luka di hati Angelia benar-benar sudah sembuh, setidaknya hari ini Angelia terlihat bahagia.
***
“Kita mau ke mana lagi, Nona?” tanya Irene sambil tetap memfokuskan pandangannya ke jalanan di depan.
Angelia menoleh perlahan, wajahnya terlihat lelah meski ia berusaha menutupinya. “Pulang saja,” jawabnya pelan. “Aku sudah capek.”
Irene menghela napas lega, seolah baru saja menurunkan beban dari dadanya.
“Kalau begitu… aku nginep di rumahmu ya.”
“Enggak.” Jawaban Angelia terdengar cepat dan tegas, tanpa ragu sedikit pun. “Aku nggak mau waktu tidurku terganggu dengan kehadiranmu.”
Irene melirik ke arahnya dengan wajah kesal. “Dasar monyet! Nggak ada rasa terima kasihnya sama aku,” gerutunya, setengah marah setengah kesal.
Angelia terkekeh kecil. “Lagian aku memang nggak bisa tidur kalau ada kamu. Ribut banget, sampai aku nggak bisa merem,” keluhnya.
Tangan Irene yang bebas langsung menoyor kepala Angelia. “Untung aku baik, jadi ucapanmu nggak aku masukin ke hati,” omelnya.
Angelia tertawa, namun tawa itu cepat mereda.
“Tapi…” suara Irene berubah lebih pelan dan hati-hati, “Kau benar-benar tidur dengan baik, kan?”
“Iya,” jawab Angelia singkat. “Kenapa? Kau nggak percaya?”
Irene menghela napas lagi, kali ini lebih berat. Ia melirik mata Angelia dari sudut pandangannya. “Tapi kantong matamu kelihatan jelas. Aku takut kau bohong.”
Angelia terdiam sejenak. Senyum tipis terbit di bibirnya. “Tenang saja,” ujarnya lembut. “Aku tidur dengan baik. Cuma akhir-akhir ini sering begadang karena tugas kuliah yang numpuk.”
Irene kembali menarik napas panjang.
“Kalau kau kesulitan, aku dengan senang hati bakal bantu.”
Angelia menghembuskan napas perlahan. “Jangan terlalu baik, Irene. Aku nanti nggak tahu harus membalasnya bagaimana.”
Irene menggeleng tanpa ragu. “Aku sudah menganggapmu adik. Jadi wajar kalau aku mengkhawatirkanmu.”
Ucapan itu membuat dada Angelia menghangat. Senyum kecil penuh haru tersungging tanpa ia sadari.
Ckitt…
“Sudah sampai,” ujar Irene sambil menghentikan mobil. “Silakan turun, Nona manis.”
Angelia mengangguk, lalu membuka pintu dan turun. Ia menatap Irene sejenak. “Hati-hati di jalan.”
Irene mengangkat ibu jarinya.
“Bye. Sampai ketemu besok.”
Mobil itu perlahan melaju pergi.
Angelia berbalik, membuka pintu rumahnya, lalu menutupnya kembali begitu ia masuk ke dalam.
Begitu pintu tertutup--
Tubuh Angelia langsung merosot ke lantai.
Kakinya tak lagi mampu menopang beban yang sejak tadi ia paksa tanggung sendiri. Air mata yang ia tahan akhirnya luruh, mengalir membasahi pipinya tanpa bisa dihentikan.
“Maaf, Irene…” lirihnya dengan suara gemetar. “Aku sebenarnya sama sekali nggak baik-baik saja. Aku cuma berpura-pura kuat supaya kamu nggak khawatir.”
Pandangan Angelia menyapu seluruh penjuru rumah sunyi, kosong, dingin. Sama seperti hatinya saat ini.
“Ya Tuhan…” bisiknya lirih. “Beri aku kesempatan kedua. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Rindu ini… sangat menyiksa.”
Tangannya mencengkeram kuat bajunya di dada. “Aku terlalu mencintai laki-laki itu,” suaranya pecah oleh tangis. “Itu sebabnya… tolong. Sekali saja. Izinkan aku memeluknya.”
Tubuh Angelia meringkuk di lantai yang dingin. Dadanya terasa sesak, napasnya tersengal, air mata tak henti mengalir dari mata cokelatnya yang menatap kosong ke depan.
“Aku akan menyerahkan seluruh hidupku…” suaranya nyaris berbisik, penuh keputusasaan. “Asalkan Kau menghadirkan dia di hadapanku.”
Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, seolah mencoba menahan hatinya yang hampir runtuh. “Bawa dia kepadaku, bawa Edwardku.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasiAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
