❄bagian 12

68 15 1
                                        

Angelia dengan langkah malas mendudukkan dirinya di samping Putri Arabella. Wajahnya tampak muram, matanya sedikit menunduk seolah enggan terlibat dalam suasana pagi itu. Aula istana terasa jauh lebih ramai dari biasanya—para bangsawan telah berkumpul, para pangeran duduk di tempat masing-masing, bahkan Raja dan Ratu pun hadir, duduk di singgasana dengan wibawa yang tak tergoyahkan.

Putri Arabella melirik Angelia sekilas, seakan ingin bertanya keadaan gadis itu, namun memilih diam ketika suasana mendadak menjadi lebih serius.

“Apakah ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan?” tanya Pangeran Arthur, suaranya tenang namun tegas, memecah keheningan aula.

Raja mengangguk pelan. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada dua sosok—Edward dan Angelia.

“Ada,” jawab Raja singkat.

“Apa itu?” Arthur kembali bertanya.

Raja menghela napas kecil, lalu berkata dengan suara yang jelas dan berwibawa, “Ini tentang pernikahan Pangeran Edward dan Putri Angelia.”

Jantung Angelia seolah terhenti sesaat. Gadis itu refleks menundukkan wajahnya lebih dalam. Tangannya mengepal di atas pangkuannya, perasaan di dadanya bercampur aduk—takut, tertekan, dan sedikit kecewa.

“Kenapa nasibku malah jadi seperti ini…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

“Ekhem.”

Suara Raja membuat Angelia tersentak. Ia segera duduk tegak, menegakkan punggungnya dan menatap ke arah singgasana dengan wajah gugup.

“Apakah Tuan Putri baik-baik saja?” tanya Raja, nadanya terdengar datar namun penuh perhatian.

“Sa—saya baik-baik saja, Raja,” jawab Angelia cepat, menundukkan kepala dengan sikap hormat.

Raja mengangguk kecil. “Baiklah. Kalau begitu, rapat hari ini kita mulai.”

Seluruh aula mendadak hening. Tak satu pun berani bersuara. Semua mata tertuju pada Raja, menanti setiap kata yang akan keluar dari mulutnya.

“Mulai hari ini,” ucap Raja, “kita akan disibukkan dengan persiapan pernikahan Pangeran Edward dan Putri Angelia. Oleh karena itu, aku meminta seluruh pihak terkait untuk ikut andil dalam persiapan ini.”

Tatapan Raja beralih pada Arthur.
“Terutama kau, Pangeran Arthur. Sebagai pangeran pertama, tanggung jawab utama ini kuserahkan kepadamu. Pastikan seluruh rangkaian acara dipersiapkan dengan sebaik mungkin.”

Pangeran Arthur bangkit sedikit dari duduknya dan membungkuk hormat. “Saya akan menjalankan perintah Ayah sebaik mungkin.”

Raja lalu menoleh kembali ke arah Angelia.

“Putri Angelia.”

“Ya, Raja,” jawab Angelia pelan.

“Mulai hari ini, kau akan mengundurkan diri dari kompetensi ini,” kata Raja tegas. “Namun, kau tidak perlu bersedih hati. Kau masih memiliki kesempatan untuk menjadi ratu utama melalui perlombaan antara Pangeran Edward dan kedua kakaknya dalam memperebutkan tahta kerajaan.”

Angelia terdiam sesaat. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun lidahnya terasa kelu. Pada akhirnya, ia hanya mengangguk pelan.
“Baik, Raja.”

Raja lalu memalingkan wajahnya ke arah Ratu. “Istriku, apakah ada yang ingin kau sampaikan?”

Ratu mengangguk anggun. Ia menoleh, menatap Angelia dengan sorot mata yang lembut namun sarat makna.

“Aku berharap,” ucap Ratu perlahan, “kau dapat mulai mengubah sikapmu menjadi lebih baik. Kau akan menjadi bagian dari kerajaan ini, bahkan calon ratu.”

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang