Angelia menutup matanya, mencoba untuk tertidur meski jantungnya masih berdebar kencang karena kehadiran Edward di sampingnya. Pikiran gadis itu tak juga tenang, takut laki-laki itu tiba-tiba macam-macam dengannya.
“Tenanglah, Angelia… jika dia macam-macam, kau tinggal menendangnya saja dari kasur,” batin Angelia sambil menahan napas.
Matanya kembali terbuka, menatap Edward yang tampaknya sudah tertidur. Napasnya naik-turun dengan tenang, seakan tidak terganggu berada sedekat ini dengan Angelia. Gadis itu sedikit lega, namun tetap merasa cemas. Ia kembali menutup mata, mencoba menghitung domba satu, dua, tiga… hingga seratus dalam pikirannya.
“Sialan… insomnia ini kumat lagi,” gumamnya pelan, menahan rasa kesal sekaligus lelah.
Tiba-tiba terdengar suara pergerakan--
Srekk…
Edward menggeser tubuhnya dan menengok ke arah Angelia, membuat dada gadis itu berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
“Sepertinya aku tidak akan tidur semalaman,” batin Angelia, matanya masih menatap Edward dengan was-was.
“Ibu.”
Angelia yang baru saja menutup matanya langsung tersentak kaget mendengar suara itu, sontak saja ia kembali membuka mata dan menatap Edward bingung.
“Ibu...” ucap Edward lagi, suaranya terdengar lirih, nyaris seperti bisikan yang keluar dari mulutnya dalam tidur.
“Omo! Dia menggigau...” gumam Angelia, terkejut.
Namun kekagetan itu segera berganti kekhawatiran, ketika tubuh Edward mulai bergetar halus, seakan seluruh dirinya digerayangi oleh rasa takut atau duka yang mendalam. Angelia menelan napasnya, jantungnya berdebar lebih cepat. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi nalurinya menuntun untuk bertindak. Tanpa ragu, dengan keberanian yang ia kumpulkan, Angelia meraih tangan Edward yang dingin dan gemetar, menggenggamnya dengan erat.
“Tenanglah... semuanya akan baik-baik saja, aku ada disini” bisiknya, suara lembutnya bergetar sedikit karena khawatir.
Dingin tangan Edward terasa menusuk hingga ke tulang, dan Angelia mencondongkan tubuhnya, mengusap wajahnya dengan lembut. Wajah Edward hangat, namun tangannya terasa sedingin es, hal itu membuat Angelia sedikit cemas. Ia menyalurkan kehangatan tubuhnya ke tangan Edward, berharap rasa dingin itu perlahan akan mereda.
Tubuh Edward tiba-tiba tersentak, membuat Angelia kaget. Mata hitamnya berkedut dan perlahan terbuka, memandang Angelia dengan pandangan yang tajam, intens, dan dingin. Pandangan itu jatuh ke tangan Angelia yang masih menggenggam tangannya, lalu ke wajahnya yang menatap penuh perhatian.
“Lepaskan tanganmu,” tukas Edward dengan suara serak.
Buru-buru Angelia melepaskan genggamannya, sedikit tersenyum kecut pada dirinya sendiri.
“Padahal barusan kau bilang kalau aku menyentuhmu, kau akan menamparku… tapi lihatlah?” Alis Edward terangkat naik mempertanyakan tindakan Angelia barusan.
“Tck, aku memegang tanganmu karena tubuhmu bergetar hebat. Aku takut kau akan mati jadi aku mengambil inisiatif untuk mencoba menolongmu,” jelas Angelia memberengut.
Mata Edward yang tadinya tajam mulai melunak. Ia menunduk perlahan, suara hatinya hampir terdengar, getir dan sayu.
“Ah… itu...” ucapnya pelan, hampir berbisik. “Aku selalu mengalami ini setiap malam.”
“Apa itu semacam penyakit?” tanya Angelia, nada suaranya berubah lembut, menyiratkan perhatian yang tulus.
Edward mengangkat bahu, raut wajahnya murung. “Mungkin... aku mulai merasakannya setelah ibu meninggal,” jawabnya, suaranya berat, penuh kesedihan yang tak mampu ia sembunyikan.
Angelia menahan napasnya, hatinya seakan tertusuk oleh kesedihan Edward. Ia tahu rasa kehilangan itu—karena dirinya pun pernah merasakan kesedihan yang begitu dalam, dan trauma yang menyertainya. Dorongan hati dan keberaniannya mendorongnya untuk menenangkan laki-laki itu. Dengan lembut, Angelia menyentuh rambut hitam Edward, ujung jarinya menelusuri helai demi helai dengan penuh kehangatan.
Edward menatapnya, terkejut. Matanya yang tadinya gelap dan tajam kini dipenuhi campuran kebingungan dan haru. Dia membiarkan tangan Angelia tetap di rambutnya, membiarkan kehangatan itu meresap ke dalam dirinya yang dingin dan terguncang.
“Tenanglah... aku juga pernah kehilangan ibu,” bisik Angelia, suaranya bergetar namun tegas. “Rasanya memang sakit, sangat menyakitkan. Tapi kita tidak bisa terus tenggelam dalam kesedihan, kan? Kita harus bangkit, melawan rasa sakit itu, dan terus berjalan. Kita harus belajar tersenyum meski dunia kadang terasa kejam.”
Edward menunduk, matanya menatap lantai sejenak sebelum perlahan mengangkat wajahnya, menatap Angelia. Dalam diam itu, keduanya tidur berdekatan, hanya terhubung oleh kehangatan, perhatian, dan rasa saling mengerti yang jarang mereka rasakan. Malam itu, di kamar yang sepi dan hangat, mereka tidak perlu kata-kata lagi. Hanya ada rasa tenang yang membungkus mereka, membiarkan rasa takut, kesedihan, dan ketegangan hari itu mereda, sedikit demi sedikit.
Untuk pertama kalinya, Edward merasakan bahwa kehadiran seseorang di sampingnya sesuatu yang sederhana, seperti genggaman tangan dan sentuhan lembut dapat menenangkan hatinya yang selama ini rapuh. Dan Angelia? Gadis itu merasakan kehangatan dan ketenangan yang sama, menyadari bahwa di balik sosok pangeran yang dingin dan tegas, ada hati yang rapuh dan membutuhkan kehangatan-kehangatan yang kini bisa ia berikan.
Edward menutup matanya perlahan, napasnya terdengar berat.
“Rasanya… sangat menyakitkan,” bisiknya, suaranya nyaris bergetar. “Seperti ada sebagian dari diriku yang menghilang ketika kepergiannya…”
Angelia menatap wajahnya, hatinya tersentuh oleh kesedihan yang terpancar dari mata Edward. Dengan lembut, ia mengusap rambut hitam laki-laki itu, jari-jarinya menelusuri helai demi helai seakan mencoba menyalurkan kehangatan dan ketenangan yang ia miliki. “Tidurlah,” bisiknya, suaranya lembut namun penuh kepastian. “Aku akan ada di sisimu, selalu.”
Mendengar itu, Edward bergerak sedikit, mendekat, hingga tubuhnya menempel hangat dengan tubuh Angelia. Tanpa kata-kata lagi, ia merengkuh Angelia dengan lembut, memeluknya erat seperti seorang anak yang mencari kehangatan ibunya, seperti seseorang yang hanya ingin merasakan rasa aman dan nyaman.
"Huft jika sudah begini aku bahkan tidak tega menyingkirkan tanganmu, " lirih Angelia.
Mata mereka perlahan menutup, keduanya tenggelam dalam keheningan yang hangat, hanya terdengar napas yang saling bersautan. Dunia di luar kamar seakan lenyap, yang ada hanya mereka dua jiwa yang saling menenangkan dan menemukan ketenangan satu sama lain di malam pertama yang penuh kehangatan ini.
Angelia merasakan dada Edward yang naik-turun mengikuti napasnya, dan sejenak, semua rasa cemas, lelah, dan kekhawatiran hari itu menghilang. Hanya tersisa rasa aman, rasa nyaman, dan ikatan yang tak terucapkan ikatan yang lebih kuat daripada kata-kata apa pun.
Dan dalam pelukan itu, Angelia pun menutup matanya, tersenyum kecil, merasakan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya kehangatan yang bukan sekadar fisik, tetapi hangat sampai ke hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasiaAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
