Rose tersenyum semakin lebar, seolah menyimpan rahasia besar yang terlalu menyenangkan untuk dipendam sendiri.
“Paman Chris yang bilang,” ucapnya ringan, nyaris bernada bangga.
Wajah Edward langsung mengeras. Ia mendengus pelan. “Tck, lelaki sialan itu,” gerutunya tanpa sadar.
“Tidak boleh begitu, Ayah,” tegur Rose cepat. Nada suaranya kecil, tapi tegas terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Arabella yang masih berada tak jauh dari mereka tak bisa menahan tawa kecil.
“Rasain,” serunya sambil tersenyum geli, lalu beranjak pergi, sengaja memberi ruang hanya untuk ayah dan anak itu.
Begitu Arabella menghilang dari pandangan, Edward berjongkok dan memegang kedua bahu Rose. Tatapannya berubah serius, jauh berbeda dari raut sebelumnya.
“Sweety,” ucapnya perlahan, seolah memilih kata dengan hati-hati, “ayah ingin kamu melakukan sesuatu untuk ayah.”
Rose menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Apa itu, Ayah?”
Edward mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya diturunkan.
“Dengar baik-baik. Sebelum ayah memberitahumu, kamu tidak boleh mengatakan ini kepada siapa pun bahkan kepada Bibi Arabella sekalipun.”
Mata Rose langsung berbinar. Gadis kecil itu bertepuk tangan kecil penuh semangat. “Ayah, ini misi rahasia ya?” katanya antusias, seakan sedang diajak bermain petualangan besar.
Edward terkekeh pelan. “Tentu saja,” katanya sambil tersenyum tipis. “Jadi, tidak boleh ada yang tahu hanya ayah dan Rose. Mengerti?”
“Baik, Ayah!” jawab Rose mantap.
Edward menarik napas panjang, lalu berbicara dengan nada yang lebih berat.
“Sweety, kamu pasti tahu saat ini ayah dan ibu tidak bisa bersama. Ada sesuatu yang menghalangi kami. Ibumu sangat enggan berbicara dengan ayah, dan ayah pun tidak tahu alasannya.”
Senyum Rose memudar. Wajah kecil itu berubah murung. “Aku tahu, Ayah,” katanya lirih. “Aku bisa melihatnya dari wajah ibu setiap kali dia menatap Ayah.”
Ucapan itu menusuk hati Edward. Ia menelan ludah, lalu melanjutkan,
“Itulah sebabnya ayah ingin Rose mendekati ibu mulai sekarang. Setiap hari pergilah ke kamar ibu, temani dia, ajak bicara, buat hatinya hangat kembali. Jika hati ibu sudah luluh ayah yang akan berjuang selanjutnya.”
Rose terdiam sesaat, lalu senyum lebarnya kembali merekah. “Rose boleh menemui ibu setiap hari?” tanyanya penuh harap. “Kalau begitu, Rose mau menjalankan tugas dari Ayah sekarang juga!”
Edward mengelus rambut halus putrinya dengan penuh rasa sayang, lalu mengecup kening Rose lama sebuah ciuman penuh harapan dan rasa terima kasih yang tak terucap. “Terima kasih, Rose. Ayah sangat menyayangimu.”
Dua tangan kecil itu langsung melingkar di leher Edward, memeluknya erat dengan seluruh ketulusan seorang anak.
“Rose juga menyayangi Ayah.”
Edward memejamkan mata sejenak, membalas pelukan itu dengan lebih erat.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Angelia berdiri diam di balkon kamarnya, bersandar pada pagar dingin sambil memandangi pemandangan di bawah sana. Dari kejauhan, ia melihat jelas bagaimana Edward menunduk, bagaimana Rose memeluk leher ayahnya dengan tangan kecil yang penuh kepercayaan, dan bagaimana laki-laki itu membalas pelukan putrinya seolah dunia hanya tersisa mereka berdua.
Ada sesuatu yang perlahan menghangat di dada Angelia perasaan yang asing namun akrab. Hangat, tapi juga perih. Pemandangan itu menariknya jauh ke masa lalu, ke kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Saat ia masih kecil saat ayahnya masih hidup, saat dirinya menjadi pusat dunia seseorang. Ia teringat bagaimana ayahnya dulu menggendongnya tinggi-tinggi, bagaimana tawa ayahnya selalu datang lebih dulu sebelum pelukan, bagaimana ia merasa begitu aman karena tahu ada sepasang lengan yang tak akan membiarkannya jatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
