Angelia merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya, seolah setiap sarafnya terbakar. Perlahan, ia membuka matanya, dan seketika cahaya terang menyilaukan membuatnya menutup mata kembali. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh dadanya, dan hatinya langsung berdebar ada sesuatu yang berdetak di sana, sesuatu yang nyata.
“Angelia…” terdengar suara samar, seperti panggilan akrab yang sering Angelia dengar.
Cahaya yang benderang itu perlahan memudar, dan tubuhnya seakan ditarik dengan kuat ke belakang.
“Hah…” Angelia tersentak dan membuka matanya lagi, kali ini di sebuah ruangan asing.
Tit… tit… tit…
Detak monitor yang berirama terdengar di telinganya, menandakan nyawanya masih ada. Ia menatap sekeliling, bingung, mencoba mengingat apa yang terjadi. “Aku… ada di mana?” gumamnya, suaranya serak.
Tiba-tiba, seorang gadis muda melompat dan memeluknya erat. “Angelia! Kau akhirnya bangun juga!” bisik gadis itu sambil meneteskan air mata. Bajunya basah, dan Angelia dapat merasakan kelembutan pelukan itu. Jantungnya berdebar aneh, tubuhnya gemetar.
“Kau… siapa?” tanya Angelia dengan suara lemah, mata masih bingung dan hati tak menentu.
Gadis itu tersentak dan segera melepaskan pelukannya. Matanya menatap Angelia dengan intens. “Ini… aku, Irene,” jawabnya.
Sejurus itu, semua kenangan tentang Edward, dunia lain, dan bayi mereka menyerbu otak Angelia. Tangisnya pecah. “Aku… tidak mati?” bisiknya, suaranya pecah oleh kesedihan.
Irene menepuk pundaknya dengan tegas, hampir marah. “Kenapa kau ngomong begitu bodoh?! Kau harus bersyukur masih diberi kesempatan hidup! Kau harus sadar!”
Tangis Angelia semakin tak tertahankan. Semua yang ia alami, semua kebahagiaan dan cinta yang ia rasakan di dunia lain, kini seakan hilang begitu saja. Ia seharusnya ada di sana, bersama Edward dan bayi mereka, tapi kenyataannya ia terbaring di sini, sendirian di dunia nyata.
“Dimana bayiku?” suara Angelia pecah, penuh putus asa, menatap Irene dengan mata membara.
Irene menatapnya kebingungan. “Bayi apanya? Kau kan belum menikah…”
Hati Angelia seakan dihancurkan kata-kata itu. Tubuhnya lemas, lututnya nyaris tak mampu menopang beratnya. Ia merasa dunia runtuh di sekitarnya. “Bawa aku ke Edward! Aku harus bertemu Edward sekarang juga!” teriaknya, suaranya bergetar dan hampir pecah.
Melihat itu, Irene segera memanggil dokter. Angelia menolak, menangis tersedu-sedu, tubuhnya memberontak keras, semua kenangan indah bersama Edward membanjiri pikirannya, membuat hatinya terasa ditusuk belati berkali-kali. Dokter datang, mencoba menenangkan, namun ia malah semakin panik dan mengamuk. Para suster bergegas memegang tubuhnya, sementara dokter menyuntik obat penenang untuk menenangkan Angelia.
Ketika obat mulai bekerja, tubuh Angelia menjadi lemas, matanya mengantuk, dan ia perlahan dibaringkan kembali di tempat tidur. Dalam kepayahan itu, matanya masih sedikit terbuka, melihat Irene berdiri di sampingnya dengan wajah cemas.
Dokter menatap Irene, suara tenangnya menenangkan. “Tidak apa-apa, dia mungkin mengalami trauma karena kecelakaan yang menimpanya.”
Irene mengangguk, menelan ludah, hatinya sesak melihat sahabatnya yang dulu ceria kini terjebak dalam kesedihan dan kebingungan. Ia melangkah mendekat, mengusap lembut surai rambut Angelia yang basah karena air mata.
“Edward… Putriku…” lirih Angelia, suaranya nyaris tak terdengar, namun penuh kerinduan dan penyesalan.
***
“Ayolah, Angelia, satu suapan saja,” bujuk Irene sambil menyodorkan sendok berisi nasi, mencoba terdengar lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
