"Jangan pergi, kumohon."
Senyuman tipis namun tulus terbit di bibir Angelia, seolah semua beban dan kecemasan yang selama ini menumpuk perlahan-lahan mencair. Ia merapat kembali memeluk Edward dengan erat, tubuhnya bersandar di dada bidang pria itu, merasakan detak jantung yang selama ini ia rindukan. Kehangatan yang sama yang dulu selalu menenangkan hatinya, kini kembali menyelimuti.
"Maaf," lirih Angelia, suaranya serak terselip rindu dan penyesalan dalam satu tarikan napas.
Edward menggeleng pelan, tangannya bergerak perlahan mengusap surai rambut Angelia dengan penuh kasih, seperti ingin menenangkan semua kegelisahan yang tersimpan dalam dirinya. Lalu, dengan ketulusan yang jarang sekali ia tunjukkan Edward menundukkan kepala dan mengecup dahi Angelia berulang kali, lalu setelah itu mengecup seluruh wajah wanita itu, setiap ciuman seperti menegaskan janji yang tak terucapkan selama ini.
"Aku berjanji, Angelia tidak akan pernah melepaskanmu lagi, tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di sisimu, melindungimu, hingga rambutmu memutih bersamaku," ucap Edward dengan suara berat, bergetar oleh emosi yang selama ini ia simpan rapat.
Siapa yang menyangka, pria dingin yang biasanya tegas dan sulit didekati itu mampu mengeluarkan kata-kata yang mampu membuat hati Angelia menghangat hingga ke dasar jiwa. Kedua pipi wanita itu memerah, malu sekaligus bahagia karena merasakan cinta yang begitu tulus dari laki-laki yang selama ini menjadi dunianya.
"Kau tidak ingin membalas perkataanku?" suara Edward terdengar kesal, tapi dalam nada yang lebih lembut dari biasanya menyiratkan rasa ingin diakui dan diterima.
Angelia terkekeh geli, jantungnya berdegup kencang mendengar nada itu. "Yayaya, aku menunggu itu. Semoga kau bisa menepatinya," balasnya, senyum yang tersungging di bibirnya tak bisa disembunyikan.
"Tck, hanya itu yang kau ucapkan setelah panjang lebar aku berbicara?" Edward melepaskan pelukan mereka, mundur selangkah, wajahnya kembali dingin dengan kening berkerut menandakan kekesalan.
Melihat itu, Angelia tak bisa menahan diri. Dengan tangan lembutnya, ia mengusap gemas rambut Edward, tersenyum manis sambil menatap mata pria itu. Hatinya terasa lega, akhirnya mereka bisa berada di sini, bersama, tanpa ada jarak lagi di antara mereka.
"Akh, kau merusak tatanan rambutku," keluh Edward sambil menyingkirkan tangan Angelia dari kepalanya. Suaranya terdengar manja, membuat Angelia menahan tawa kecilnya.
"Kau pasti lelah, 'kan? Istirahatlah," ujar Angelia lembut, nada suaranya dipenuhi perhatian yang tulus.
Dengan langkah ringan, Angelia membalikkan badannya dan bersiap pergi. Namun, belum sempat ia melangkah jauh sebuah tangan kekar menempel dan memeluk perutnya dari belakang, membuat tubuhnya terhenti seketika.
"Dasar, kau tidak sopan jika meninggalkanku seperti ini," lirih Edward di telinga Angelia, suaranya berat tapi penuh kehangatan yang membuat dada Angelia berdebar tak karuan.
Angelia terkekeh kecil, menahan rasa gemas yang muncul di hatinya. "Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya sambil menoleh sedikit, pipinya memerah karena jarak mereka yang begitu dekat.
"Aku tidak ingin beristirahat di kamar, temani aku di taman ini sampai pagi," jawab Edward.
Angelia membalikkan badan sepenuhnya, menatap wajah Edward. Mata pria itu tajam, menembus sampai ke hati namun sekaligus hangat. "Yakin? Apa kau tidak lelah?" tanya Angelia, suaranya terdengar sedikit khawatir.
Edward menggeleng mantap. "Rasa lelahku sudah hilang karenamu," ucapnya, suara yang terdengar begitu tulus.
Mendengar itu, pipi Angelia memerah secara otomatis. Tanpa berpikir panjang, ia menimpali dengan memukul perut Edward keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasíaAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
