“Chris,” ucap Angelia lirih. Suaranya nyaris tak lebih dari bisikan, seolah ia takut namanya sendiri akan pecah jika diucapkan terlalu keras.
Pria itu menoleh. Tatapannya menyiratkan keterkejutan yang tertahan. “Kau mengenalku?” tanyanya, alisnya sedikit terangkat.
Angelia mengangguk pelan, jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. “Apa kau juga terjebak dalam dunia ini?” Suaranya mengandung harap yang samar, seakan jawaban Chris bisa menentukan kewarasannya sendiri.
Chris mengerutkan dahinya. Kata-kata itu jelas tidak ia pahami. “Terjebak?” ulangnya, ragu.
Saat itulah Angelia tersadar. Ia menarik napas, lalu tertawa kecil—tawa hampa yang tidak membawa kelegaan apa pun.
“Kau bukan Chris temanku… yang berada di dunia nyata, ya?”
“Hah?” Chris membeku sesaat, menatapnya seperti mencoba mencari makna tersembunyi di wajah gadis itu.
“Ah, sudahlah,” Angelia mengibaskan tangan, seolah menepis pikirannya sendiri. “Aku hanya asal berbicara.” Ia tersenyum, tapi senyum itu rapuh.
Chris memilih mengangguk, lalu matanya kembali menangkap sesuatu yang tertinggal di wajah Angelia. “Tadi kau menangis,” katanya lembut. “Apa hatimu sedang terluka?”
Angelia segera menggeleng. “Tidak,” jawabnya cepat, terlalu cepat. “Aku baik-baik saja.” Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Aku hanya… merindukan orang tuaku.”
“Itu sebabnya kau menangis?” tanya Chris, kali ini tanpa menyela.
Angelia mengangguk kecil.
Hening sejenak menyelimuti mereka. Angin malam menyapu pelan, membawa aroma tanah basah.
“Bolehkah aku duduk di sampingmu?” tanya Chris akhirnya.
“Silakan.”
Chris tersenyum tipis dan duduk di samping kanan Angelia, menjaga jarak sewajarnya, seolah tidak ingin mengganggu ruang rapuh yang mengelilingi gadis itu.
“Apa kau seorang pangeran?” tanya Angelia tiba-tiba, menatap ke depan.
“Iya.”
Angelia terkejut. Tanpa sadar kepalanya menoleh. “Tapi… setahuku Edward adalah pangeran bungsu.”
Chris menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil, suara tawanya ringan. “Apa hanya karena aku pangeran, kau langsung berpikir aku saudara kandung Edward?”
Angelia terkekeh pelan, merasa sedikit malu.
“Aku dan Edward sepupu,” lanjut Chris. “Bukan saudara kandung.”
“Oh…” Angelia mengangguk, seolah baru merangkai potongan yang hilang.
“Oh iya,” Chris kembali bersuara, “siapa nama tuan putri?”
“Angelia Rooster.”
“Nama yang indah.” Nada suara Chris tulus.
Angelia tersenyum, pipinya sedikit memanas.
“Kau memiliki sihir apa?” tanya Chris lagi.
Angelia ragu. Ada jeda yang terlalu panjang sebelum ia menjawab. “Air.”
Chris terdiam. “Air?” ulangnya pelan.
“Iya. Memangnya kenapa?”
Chris menahan ekspresinya, meski keterkejutan itu gagal sepenuhnya ia sembunyikan. “Aku hanya tidak menyangka… masih ada pengendali sihir air yang hidup.” Senyumnya kali ini pahit.
Angelia terdiam. Kata-kata itu menusuk tepat di tempat yang ia sembunyikan paling dalam. Ia tahu—hanya dirinya yang tersisa.
“Dan sayangnya,” Chris melanjutkan lirih, “hanya tinggal kau.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasíaAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
