Istana Athelia malam itu tidak setenang biasanya. Langit terlihat gelap, awan hitam menggantung rendah seolah menekan seluruh bangunan istana. Di ruang pertemuan kerajaan, para bangsawan dan prajurit elit berkumpul dengan wajah tegang.
Edward berdiri di ujung meja panjang, kedua tangannya bertumpu kuat di atas permukaan meja kayu. Tatapan matanya tajam menatap peta wilayah kerajaan yang terbentang di hadapannya.
“Hutan Barat kembali memakan korban,” ucap seorang jenderal dengan suara berat. “Tiga desa diserang dalam dua malam terakhir. Monster-monster itu semakin berani mendekati wilayah penduduk.”
Arthur menyilangkan kedua tangannya. “Hutan itu sudah lama terkutuk. Sejak segel lama melemah, makhluk-makhluk di dalamnya menjadi tidak terkendali.”
Edward mengatupkan rahangnya. Ia menatap simbol hutan di peta itu dengan sorot mata dingin.
“Jika dibiarkan, mereka akan mencapai gerbang kota dalam hitungan hari,” ujar Edward pelan namun tegas.
Para bangsawan saling bertukar pandang.
“Pasukan utama sedang tersebar di perbatasan timur,” lanjut Arthur. “Tidak mungkin mengirim seluruh pasukan ke sana.”
Edward menegakkan tubuhnya. “Kalau begitu, aku yang akan pergi.”
Ruangan langsung ricuh.
“Apa?!”
“Pangeran, itu terlalu berbahaya!”
“Hutan itu penuh monster tingkat tinggi!”
Arthur menoleh tajam ke arah Edward. “Kau tidak bisa bertindak gegabah.”
“Aku tidak gegabah,” jawab Edward dingin. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan pewaris kerajaan sekaligus panglima perang.”
Keheningan jatuh.
Edward menghela napas pendek. “Jika pusat sarang monster tidak dihancurkan, serangan tidak akan berhenti. Aku akan memimpin pasukan kembali agar monster itu bisa kuhabisi dalam satu malam. ”
Arthur terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baik. Aku ikut.”
Edward menoleh. “Tidak perlu. Kau tetap di istana, kau Pangeran pertama yang harus menjaga istana ini.”
“Karena aku adalah Pangeran pertama jadi aku berhak ingin ikut atau tidak, jangan membantahku! ”
Edward mendecih, namun tidak membantah lagi.
"Kalau begitu biarkan aku saya yang menjaga istana ini, akan ku pastikan monster itu tidak akan bisa menyentuh istana, " ujar Pangeran Fynn tegas.
Arthur menepuk pundak Pangeran Fynn dan meremasnya pelan. "Aku percayakan padamu istana ini dan orang-orang berharga Fynn! "
***
Kabar keberangkatan itu sampai ke telinga Angelia tanpa sengaja. Wanita itu mendengarnya dari dua pelayan yang berbisik di lorong istana. Langkahnya terhenti, dadanya terasa sesak.
“Hutan Barat… monster… pasukan kecil…”
Angelia menggenggam ujung gaunnya. Ingatan tentang Edward yang selalu menempatkan dirinya di garis terdepan membuat jantungnya berdebar tidak nyaman.
Tanpa berpikir panjang, Angelia langsung menuju kamar Edward.
Pintu kamar terbuka, dan benar saja Edward sedang mengikat pedangnya di pinggang, wajahnya datar seperti biasa.
“Kau mau ke hutan,” ucap Angelia tanpa basa-basi.
Edward menoleh sekilas. “Kau dengar dari mana?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
