Setelah pemilihan gaun Angelia dan jas Edward selesai, keduanya melangkah keluar dari butik dan mulai berjalan menyusuri pasar kerajaan. Alasan resmi mereka hanyalah menyapa rakyat, memperlihatkan wajah calon penguasa yang dekat dengan masyarakat. Namun pada kenyataannya, suasana di antara mereka terasa jauh dari hangat.
Edward berjalan di depan dengan langkah panjang dan tegap, seolah dunia di belakangnya tidak perlu ia perhatikan. Angelia berjalan beberapa langkah di belakang, berusaha menyamakan langkah—namun semakin lama, jarak di antara mereka justru makin melebar.
“Hei,” tegur Angelia akhirnya, nadanya tertahan. “Bisakah kau berjalan lebih lambat?”
Tidak ada jawaban.
Edward tetap melangkah dengan wajah datarnya, seolah suara Angelia hanya angin lalu. Angelia mengernyit, mempercepat langkahnya, lalu memanggil lagi.
“Edward.”
Masih tidak ada respons.
Kesabaran Angelia mulai menipis. Dadanya naik turun, dan amarah yang sejak tadi ia tekan akhirnya menemukan celah untuk keluar. Ia berhenti sejenak, menatap punggung laki-laki itu dengan kesal.
“Jika sekali lagi kupanggil dan kau tidak juga berbalik,” ucapnya dengan nada sarkas yang menusuk, “aku akan menyumpahimu agar tuli selamanya.”
Namun Edward tetap berjalan, tanpa sedikit pun niat menoleh.
Amarah Angelia meledak.
“Mampus saja kau!” teriaknya kesal, suaranya menggema di tengah pasar.
Keramaian yang semula hidup perlahan meredup. Para pedagang berhenti menata dagangan, pembeli menoleh dengan mata membulat. Semua perhatian tertuju pada Angelia—putri kerajaan yang berdiri dengan wajah merah padam dan ekspresi uring-uringan tanpa sedikit pun usaha menutupinya.
Edward akhirnya menghentikan langkahnya. Rahangnya mengeras saat ia menyadari tatapan rakyat yang kini tertuju pada mereka. Dengan tarikan napas berat, ia berbalik badan.
Tatapannya langsung tertumbuk pada Angelia.
Angelia menatap balik tanpa gentar. “Kenapa kau berhenti, ha?” bentaknya, suaranya tajam dan penuh tantangan.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan. Wajah-wajah terkejut, raut tidak percaya. Tingkah Angelia jelas tidak mencerminkan sikap seorang putri—terlebih di hadapan Edward, pangeran yang dikenal dingin dan kejam.
Edward memijit keningnya, menutup mata sejenak. Kepalanya berdenyut. Ia benar-benar kelelahan—bukan oleh pasar, bukan oleh rakyat, melainkan oleh gadis di hadapannya yang seolah tidak pernah belajar menahan kata-kata.
“Kemarilah,” ucap Edward akhirnya, suaranya lebih rendah, berusaha terdengar tenang meski emosinya bergejolak.
“Aku tidak mau,” balas Angelia cepat. “Dari tadi aku memanggilmu, tapi kau berjalan seperti tidak punya telinga. Dan sekarang kau tiba-tiba mau membujukku?” Ia mendengus meremehkan. “Tcih.”
Kerumunan membeku.
Wajah-wajah pucat menatap mereka dengan ngeri. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Meludah di depan Pangeran Edward—di depan laki-laki yang satu perintahnya bisa membuat kepala melayang—adalah tindakan nekat yang nyaris seperti menantang kematian.
Edward menatap Angelia tajam. Sorot matanya gelap, dingin, dan berbahaya—seolah ia benar-benar ingin menelan gadis itu hidup-hidup.
Namun Angelia tidak mundur.
“Matamu kenapa?” tantangnya lagi, dagunya terangkat. “Kau kira aku akan takut dengan wajahmu itu? Ayo sini agar aku bisa memukul wajahmu! "
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasíaAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
