❄bagian 19

52 14 0
                                        

Hutan Barat tidak menyambut mereka dengan baik. Langit yang semula cerah perlahan meredup begitu mereka melewati batas wilayah hutan. Udara menjadi berat, seolah menekan paru-paru setiap orang yang melangkah masuk. Daun-daun bergoyang tanpa angin, dan tanah di bawah kaki terasa lembap, dingin, serta berbau darah lama.

Edward menghentikan langkah kudanya. “Turun,” perintahnya singkat.

Semua mengikuti tanpa bertanya.

Angelia baru saja menjejakkan kaki ke tanah ketika suara geraman rendah terdengar dari kejauhan. Bukan satu, melainkan beberapa, bergema dari segala arah.

Arthur mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti. “Mereka sudah mencium kita.”

Arabella berdiri di sampingnya, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam. “Jumlahnya tidak sedikit.”

Chris terkekeh kecil, namun tangannya sudah menyala samar. “Akhirnya.”

Edward melangkah ke depan, lalu tanpa sadar menarik Angelia ke belakang tubuhnya. “Kau tetap di sini. Jangan melangkah sejengkal pun tanpa izinku.”

“Aku--” Angelia hendak membantah.

Tatapan Edward menghentikannya. “Ini bukan perdebatan, patuhi perintahku.”

Angelia terdiam.

Detik berikutnya, tanah bergetar.

Dari balik pepohonan, makhluk-makhluk itu muncul dengan tubuh besar kulit gelap bersisik, mata merah menyala, dan kuku tajam yang menghantam tanah setiap kali mereka bergerak.

“Arthur!” seru Edward.

Arthur mengangguk cepat, kedua tangannya terangkat. Angin di sekitar mereka langsung berputar, semakin lama semakin kencang. Daun-daun terangkat ke udara, tanah berdebu berputar mengikuti pusaran.

“Sekarang!” teriak Arthur.

Arabella melangkah maju, rambutnya berkibar liar. Ia mengangkat kedua tangannya, menyatukan sihir anginnya dengan Arthur. Angin yang tadinya hanya berputar kini berubah menjadi bilah-bilah tajam, melesat menghantam monster-monster terdepan.

Raungan kesakitan menggema.

Namun monster-monster itu tidak mundur.

“Chris!” panggil Arthur.

Chris tersenyum lebar. Api menyala di telapak tangannya, panasnya langsung terasa. “Dengan senang hati.”

Ia mengayunkan tangannya ke depan, dan api menyembur seperti gelombang, membakar semak-semak dan menghantam tubuh monster dengan kekuatan brutal. Api menjilat udara, membuat hutan seketika terang oleh cahaya merah menyala.

Monster-monster itu terbakar, namun beberapa tetap bergerak, mengaum marah.

Edward maju selangkah.

Udara di sekitarnya langsung berubah.

Api yang muncul dari tubuh Edward berbeda lebih pekat, lebih dalam, seolah hidup. Api itu tidak liar, tapi terkendali, mengikuti setiap gerakan tangannya.

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang