Arabella sedang melangkah pelan menuju kamarnya, tubuhnya kini terasa lebih ringan dan segar dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hari ini menjadi hari yang berbeda karena Angelia dengan sukarela membantu mengurus Rose, sehingga beban yang biasanya terasa berat kini sedikit terangkat.
Arabella merasa bersyukur, hatinya lega mengetahui bahwa ingatan Angelia telah kembali sepenuhnya dan dengan itu wanita itu kini bisa menjalankan perannya sebagai ibu bagi putri kecil mereka. Ya, putri Edward dan Angelia itu memang sangat merepotkan, dengan tingkah laku yang tak pernah berhenti mengundang canda maupun kekesalan, Arabella tetap tersenyum kecil di dalam hati menyadari bahwa gadis kecil itu membawa warna tersendiri bagi hidup mereka.
Namun, ketika langkahnya hendak diteruskan ke kamar, matanya menangkap sosok Angelia yang berdiri di balkon, menatap jauh ke depan dengan pandangan kosong.
"Angelia, tidak istirahat?" suara Arabella terdengar lembut, menembus hening sore yang dingin.
Angelia menoleh sekilas, matanya bertemu pandang dengan Arabella, namun kemudian ia kembali menatap ke luar, menatap kosong ke arah langit yang perlahan mulai memudar ke jingga senja.
Arabella menghela napas panjang, menepuk bahu Angelia dengan lembut. "Kau pasti lelah karena mengurus Rose hari ini, Angel. Sudah waktunya istirahat, biarkan tubuhmu pulih," katanya.
Angelia menopang dagunya dengan tangan, wajahnya berubah masam, kerut kekhawatiran menghiasi dahinya. "Aku---aku tidak bisa tidur. Rasanya pikiranku selalu tertuju padanya, aku khawatir Edward belum kembali," lirihnya, suaranya bergetar meski berusaha terdengar tenang.
Arabella menunduk sedikit, menarik napas panjang, kemudian menatap Angelia dengan tatapan yang menenangkan. "Aku sudah bilang Edward pergi bukan untuk berperang atau menghadapi bahaya, tapi hanya untuk melakukan kerja sama dengan kerajaan lain. Dia selalu berhati-hati, dan dia tahu apa yang dilakukannya," jelas Arabella, nadanya lembut namun meyakinkan.
Angelia masih menatap jauh, matanya menyingkap rasa cemas yang tak mudah terhapus. "Aku tahu tapi tetap saja, hatiku tidak bisa tenang. Aku merasa… merasa ada sesuatu yang bisa terjadi padanya kapan saja. Dua hari ini terasa seperti selamanya. Aku takut kehilangan dia lagi," ucapnya, suara yang tadinya lembut kini pecah oleh rasa takut dan kerinduan yang mendalam.
"Salam, putri Angelia dan putri Arabella," seoran pelayan datang mendudukkan tubuhnya dengan sempurna di hadapan kedua wanita itu.
Arabella menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Ada apa?" tanyanya, nada suaranya lembut namun menuntut penjelasan.
"Raja Edward… sudah kembali, Yang Mulia. Saat ini Raja sedang berada di taman Rooster menikmati udara sore sambil menenangkan diri setelah perjalanan panjangnya."
Mata Angelia seketika berbinar, tubuhnya seolah mendapatkan dorongan energi yang tak bisa ditahan. "Akhirnya," lirihnya.
Arabella tersenyum tipis melihat reaksi Angelia, lalu menoleh kepada pelayan itu. "Baiklah, kau boleh pergi sekarang," ucap Arabella. Pelayan itu membungkuk sekali lagi, kemudian berbalik meninggalkan balkon.
Setelah pintu menutup rapat, Arabella kembali menatap Angelia. "Kau ingin menemuinya malam ini?" tanyanya tampak cemas.
Angelia mengangguk cepat, semangatnya begitu terlihat jelas di sorot matanya. "Ya, aku harus menemuinya. Aku---aku tidak bisa menunggu lagi," jawabnya Angelia pelan.
Arabella menarik napas panjang, matanya menatap jauh ke taman Rooster yang terlihat dari balkon. "Kurasa tidak baik jika kau menemuinya malam ini, Angel," ucapnya lembut, mencoba menahan kegembiraan Angelia.
"Kenapa?" tanya Angelia, nadanya cepat, seakan tak sabar menunggu jawaban.
Arabella menunduk sedikit, tangannya menepuk bahu Angelia dengan lembut. "Edward mungkin sangat lelah, Angel. Setelah perjalanan panjangnya biasanya dia duduk di taman Rooster seorang diri, menikmati ketenangan. Jika dia terlalu lelah dan kau datang saat ini, dia mungkin akan terganggu atau bahkan merasa bersalah karena tidak bisa membalas perhatianmu," jelas Arabella dengan nada lembut namun penuh kepedulian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
