Satu bulan kemudian…
“Edward!” teriak Angelia dengan suara lantang yang memecah keheningan taman.
Edward yang tengah duduk santai di bawah pohon langsung terkejut, menoleh ke arah suara itu. Matanya membulat melihat Angelia yang berlari kencang ke arahnya. Tanpa menunggu, gadis itu meloncat ke pelukan Edward, memeluknya erat seolah tak ingin lepas.
“Hei, kenapa?” tanya Edward, terengah, meski ada senyum hangat di wajahnya.
Angelia melepaskan pelukannya perlahan, mengambil tangan Edward dengan lembut dan meletakkannya di perutnya sendiri. Mata Edward melebar, pandangannya tak lepas dari tangan mereka yang saling bertaut.
“Bergerak?” tanya Edward dengan suara setengah tak percaya.
Angelia mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Dia… dia sedang tumbuh di sini,” jawabnya, suaranya lembut tapi penuh kebahagiaan.
Detik itu juga, Edward merasakan gelombang kebahagiaan yang membanjiri hatinya. Tanpa sadar, ia merengkuh Angelia kembali, memeluknya dengan erat seolah ingin menyalurkan seluruh rasa syukur yang membuncah. “Astaga… aku benar-benar syok,” gumam Edward di telinga Angelia, nadanya dipenuhi keharuan.
Angelia tertawa kecil, namun air mata tetap jatuh menetes di sudut matanya. “Aku senang, Ed… senang sekali,” ucapnya, suaranya lembut tapi penuh makna.
Edward melepaskan pelukan sejenak, menatap wajah Angelia dengan tatapan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. “Sudah berapa minggu?” tanyanya, suaranya gemetar setengah tidak sabar.
“Sudah dua minggu,” jawab Angelia sambil terkikik pelan, nada suaranya hangat dan ringan.
Edward menatap perut Angelia, matanya masih dipenuhi keheranan. “Benarkah? Tapi… kenapa perutmu belum terlihat besar sama sekali?”
Angelia mengelus rambut Edward dengan lembut, senyumnya menenangkan. “Sabar, lama-lama perutku juga akan semakin besar. Kau akan melihatnya,” ucapnya, matanya berbinar penuh keyakinan dan kasih sayang.
Edward mengangguk, senyum tipisnya muncul, lalu tanpa ragu ia menggendong Angelia dengan hati-hati. “Hei… mau ke mana kau membawaku?” tanya Angelia, sedikit terkejut namun tetap tersenyum.
“Kamar. Kau harus beristirahat sekarang. Tidak baik ibu hamil berada di luar di jam seperti ini,” jawab Edward dengan nada tegas, namun lembut.
Angelia mengerutkan alisnya dan menatap jam yang tergantung di dinding. “Ayolah… ini baru jam tiga sore,” cetusnya.
Edward menatap Angelia dengan mata tajam tapi hangat. “Tetap saja… kau harus cukup istirahat. Tubuhmu sedang menyiapkan kehidupan baru di dalam dirimu,” ujarnya, suaranya penuh perhatian.
Angelia hanya bisa mengangguk pasrah, senyum tipis menghiasi wajahnya. Meskipun ia merasa sedikit dipaksa, hatinya dipenuhi rasa hangat. Dia tahu Edward tidak hanya menganggapnya sebagai istrinya, tapi juga sebagai ibu dari anak mereka, sebagai bagian dari masa depan yang kini perlahan mereka rajut bersama.
Edward menatap wajah Angelia sejenak, memeluknya sedikit lebih erat dalam gendongan, seakan ingin menegaskan bahwa di sampingnya, Angelia dan bayi kecil mereka aman, dicintai, dan terlindungi.
Edward melangkah pelan menuju kamar, menggendong Angelia dengan hati-hati agar tidak membuatnya kelelahan. Setiap langkahnya terasa lembut, seperti menyesuaikan irama tubuh wanita itu yang kini membawa kehidupan baru di dalam rahimnya. Angelia menutup mata sejenak, menikmati sentuhan hangat Edward, rasanya aman seperti berada dalam pelukan seorang pelindung yang selalu ada untuknya.
Sesampainya di kamar, Edward meletakkan Angelia di tempat tidur dengan perlahan. Gadis itu merebahkan tubuhnya, tangan kecilnya masih memegang tangan Edward, seolah ingin meyakinkan diri bahwa laki-laki itu tidak akan pergi. Edward tersenyum tipis, menundukkan wajahnya untuk mencium dahi Angelia. “Tidurlah sebentar, aku akan menyiapkan segalanya agar kau nyaman,” bisiknya lembut.
Angelia membuka mata, menatap Edward dengan senyum penuh kasih. “Ed… kau selalu terlalu perhatian padaku,” ucapnya, suaranya lembut tapi ada nada bercanda.
Edward mengangkat alisnya, sedikit tersenyum. “Itu karena kau sekarang bukan hanya istriku… tapi juga ibu dari anak kita. Aku tidak ingin ada yang terjadi padamu.”
Angelia menutup matanya lagi, memejam dalam-dalam, merasakan hangatnya tubuh Edward di sampingnya. “Aku merasa aman jika kau di sini,” gumamnya, hampir tanpa suara.
Edward duduk di tepi tempat tidur, memegang tangan Angelia, dan menatap wajahnya dengan serius. “Angelia, kau tahu… aku ingin setiap hari yang kita jalani penuh ketenangan. Aku tidak ingin kau stres atau cemas, terutama sekarang. Kau harus menjaga diri dan bayi kita.”
Angelia mengangguk pelan, hatinya hangat mendengar perkataan Edward. “Aku akan mencoba, Ed… tapi kau juga harus janji, jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku ingin kau sehat juga, untuk kita semua.”
Edward tertawa kecil. “Kau selalu memikirkan orang lain… itu yang membuatmu istimewa,” bisiknya, lalu menatap perut Angelia. “Kau yakin kita bisa melalui semua ini dengan baik?”
Angelia tersenyum tipis, tangannya mengelus perutnya sendiri. “Aku yakin, Ed. Karena kita bersama,” jawabnya mantap.
Beberapa jam kemudian, Edward kembali ke kamar dengan membawa air hangat dan beberapa kudapan ringan untuk Angelia. “Ini untukmu… agar kau tidak lapar dan tetap bertenaga,” ujarnya sambil meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.
Angelia tersenyum, hatinya terasa hangat. “Terima kasih, Ed. Kau selalu tahu apa yang aku butuhkan,” ucapnya, menatap mata Edward yang penuh perhatian.
Edward membalas senyum itu, lalu duduk kembali di samping tempat tidur, merengkuh Angelia dengan lembut. “Kau tahu… aku tidak pernah merasa seutuh ini. Denganmu di sini, aku merasa… rumah ini lengkap. Aku merasa hidupku punya tujuan selain kerajaan ini,” bisiknya pelan, suara dipenuhi emosi.
Angelia menundukkan kepalanya di dada Edward, merasakan detak jantungnya yang hangat dan stabil. “Aku senang kau merasa begitu, Ed… karena aku juga merasakannya. Meskipun hidup kita penuh dengan risiko, aku tidak menyesal sama sekali,” gumamnya.
Mata Edward menatap Angelia penuh perasaan, lalu mengecup lembut rambutnya. “Aku janji, aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu atau anak kita.”
Angelia tersenyum, memejamkan mata, dan membiarkan tubuhnya bersandar penuh pada Edward. “Aku percaya padamu, Ed… selalu.”
Senja perlahan berubah menjadi malam. Cahaya lembut dari lampu-lampu di kamar memantul di wajah Edward dan Angelia, membingkai mereka dalam kehangatan rumah tangga yang baru terbentuk. Meski dunia luar penuh dengan bahaya, di sini--di kamar itu--mereka hanya fokus pada satu sama lain, saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mencintai.
Edward mengelus punggung Angelia, sementara gadis itu perlahan tertidur dengan senyum tipis di bibirnya, perasaan hangat memenuhi dada mereka berdua. Malam itu, di bawah langit-langit kamar kerajaan, lahirlah kedamaian sementara, di tengah badai yang mengintai dari luar sebuah rumah tangga yang tumbuh dari cinta, keberanian, dan pengorbanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
