Ketika Angelia terbangun dari tidurnya, hal pertama yang ia sadari bukanlah cahaya pagi—melainkan kehadiran seseorang.
Matanya yang masih berat perlahan terbuka, dan samar-samar ia melihat sosok Shana yang tengah duduk di tepi kasur. Posturnya tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan, seolah takut membuat suara sekecil apa pun.
Angelia mengerjap beberapa kali, berusaha memastikan apa yang ia lihat bukan ilusi.
“Apa yang kau lakukan di sini…?” tanyanya akhirnya, suaranya serak dan masih dipenuhi sisa kantuk.
Shana segera berdiri, menundukkan kepala dengan hormat.
“Selamat pagi, Tuan Putri.”
Angelia menghela napas pelan, lalu mendudukkan dirinya. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya, matanya setengah terpejam. Dunia ini masih terasa terlalu cepat untuknya.
“Ada perlu apa pagi-pagi begini?” tanyanya lagi, kali ini sedikit lebih sadar.
“Ini sudah pagi, Tuan Putri. Saatnya mandi dan bersiap. Kita akan berangkat ke Kerajaan Athelia.”
Kata berangkat langsung membuat Angelia terjaga sepenuhnya.
“Apa?” matanya membulat. “Bukankah aku harus dilatih dulu?”
Ia menatap Shana dengan ekspresi campur aduk—takut, bingung, dan sedikit panik.
Shana terlihat ragu sejenak sebelum menjawab.
“Maafkan saya, Tuan Putri. Raja memerintahkan agar kita segera berangkat pagi ini.”
“Kenapa harus terburu-buru?” Angelia mengerutkan kening.
“Kita harus tiba sebelum matahari terbenam.”
“Dan alasannya?” desak Angelia.
Shana menarik napas kecil.
“Kita akan melewati hutan. Hewan-hewan buas di sana akan aktif saat malam tiba. Raja tidak ingin Tuan Putri terluka.”
Kata-kata itu justru membuat dada Angelia terasa sesak.
“Tapi aku bahkan belum tahu cara menggunakan sihir air,” keluhnya lirih. “Aku pergi tanpa persiapan apa pun.”
Untuk sesaat, Angelia merasa kecil. Terlalu kecil untuk dunia yang memaksanya melangkah sejauh ini.
Shana menatapnya dengan penuh empati.
“Kalau begitu… saya akan melatih Tuan Putri sesampainya kita di Kerajaan Athelia. Sedikit demi sedikit.”
Angelia menatap Shana. Matanya berbinar, seolah baru saja diberi secercah harapan.
“Benarkah…?”
Shana tersenyum dan mengangguk mantap.
Tanpa berpikir panjang, Angelia langsung memeluknya erat.
“Terima kasih,” ucapnya tulus—bukan sebagai Putri, tapi sebagai gadis yang sedang ketakutan.
Shana terdiam sejenak, lalu membalas pelukan itu dengan canggung sebelum Angelia melepaskannya sendiri.
“Sekarang,” kata Shana lembut, “Tuan Putri harus berendam. Perjalanan kita panjang.”
Angelia mengangguk pelan, lalu mengikuti Shana keluar kamar.
---
Halaman istana mulai ramai.
Para pengawal mengangkat peti-peti besar, suara roda kereta beradu dengan batu, sementara udara pagi masih terasa dingin. Angelia berdiri di antara Raja dan Ratu—dua sosok yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus perih.
Sejak tadi, matanya tak lepas dari wajah Ratu.
Wajah itu… terlalu mirip dengan ibunya.
“Jaga dirimu di sana,” ucap Ratu lembut sambil menggenggam tangan Angelia. “Doa ibu akan selalu menyertaimu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
