Extra part 2

29 2 0
                                        

“Edward, lepaskan. Putri Rose sedang melihat kita,” bisik Angelia pelan, suaranya bergetar karena gugup sekaligus bingung.

Namun tidak ada jawaban.

Pelukan itu justru semakin mengerat, seolah Edward takut jika sedikit saja ia melonggarkan tangannya Angelia akan menghilang seperti sebelumnya.

“Edward,” Angelia menelan ludah, mencoba menarik napas, “apa kau tidak mendengar--”

Ucapan itu terhenti.

Angelia merasakan sesuatu yang hangat dan basah meresap ke bahunya. Tubuhnya menegang. Perlahan, dengan gerakan ragu ia memalingkan wajahnya ke samping.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Edward menangis.

Bukan tangis yang keras, melainkan isak yang tertahan, gemetar, seolah selama ini Edward dipaksa kuat terlalu lama hingga tubuhnya lupa bagaimana caranya menumpahkan luka. Bahu laki-laki itu naik turun, napasnya tersengal, dan genggamannya justru semakin erat seperti anak kecil yang takut ditinggal sendirian di tengah gelap.

Angelia terpaku.

Raja yang ditakuti banyak orang itu, laki-laki galak yang selalu berdiri tegak tanpa cela, kini runtuh di hadapannya. Tangisnya sunyi, tapi menyayat. Tangis seseorang yang kehilangan, menunggu, berharap, lalu nyaris menyerah.

Lalu, dengan suara serak yang hampir tak terdengar, Edward berbisik,
“Jangan pergi lagi, Angelia…”

Kalimat itu begitu lirih, namun menghantam keras ke dalam hati Angelia.

“Tetaplah di sisiku,” lanjutnya, napasnya bergetar, “kumohon jangan menghilang lagi, aku sudah mencarimu terlalu lama, sudah kehilanganmu entah berapa lama, aku hancur Angelia. ”

Di dekat mereka Rose memandangi mereka dengan mata kecil yang tenang tanpa rasa takut, tanpa tanya seolah anak itu sudah lama menunggu momen ini.

Angelia menelan ludah, suaranya nyaris tak keluar. “L--lepas, lepaskan aku. Lepaskan aku--hiks--” Ia berbisik lirih dengan badan yang gemetaran, ia benci perasaan ini.

Bruk---

Tubuh Edward terdorong keras ke belakang, punggungnya menghantam batang pohon dengan bunyi berat yang memecah keheningan. Napasnya tercekat, bukan karena sakit di tubuhnya, melainkan karena kata-kata yang menyusul sesudahnya.

“Jangan seenaknya menyentuhku!” teriak Angelia, suaranya pecah, penuh amarah yang bercampur luka.

Angelia menggeleng pelan, seolah menyangkal perasaannya sendiri. Bibirnya bergetar, dadanya naik turun menahan sesak yang tak mampu ia jelaskan. Ia sudah tidak sanggup lagi berdiri di sana, menatap Edward yang membuka kembali luka-luka lama yang belum sembuh.

Tanpa menoleh lagi, Angelia berbalik dan berlari.

Langkahnya tergesa, napasnya tersengal, air matanya akhirnya tumpah tanpa bisa ditahan. Setiap langkah terasa seperti meninggalkan sesuatu yang seharusnya ia hadapi, namun belum cukup kuat untuk ia terima. Edward hanya bisa memandang punggung itu semakin menjauh, hingga lenyap di balik pepohonan.

Hening kembali menyelimuti tempat itu.

Edward menunduk, bahunya merosot. Dunia seolah menyempit menyisakan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya pelan-pelan. Saat itulah sebuah sentuhan kecil hadir, hangat dan penuh hati-hati.

“Semuanya akan baik-baik saja, Ayah,” ucap Rose lembut. Tangan mungilnya mengelus kepala Edward, gerakannya penuh ketulusan. “Ibu hanya syok  karena Ayah tiba-tiba memeluknya.”

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang