❄bagian 22

58 13 4
                                        

Angelia menyelinap kembali ke perpustakaan, kali ini lebih berhati-hati daripada sebelumnya. Entah kenapa hari ini banyak penjaga yang berjaga di pintu masuk, seakan ada sesuatu yang sedang dipersiapkan di dalam sana. Gadis itu segera bersembunyi di balik tiang tinggi, matanya menelusuri setiap gerakan para penjaga.

“Kenapa hari ini ada penjaga? Padahal kemarin tidak ada sama sekali,” gumamnya lirih, rasa penasaran dan waswas bercampur aduk dalam dadanya.

Tiba-tiba, suara yang tak asing terdengar memecah keheningan.

“Ayah.”

Angelia menahan napas, matanya membulat saat melihat Raja dan Edward keluar dari perpustakaan. Edward terlihat tegang, wajahnya memerah dan sorot matanya menatap tajam Raja.

“Sudah kubilang dari pertama dia datang dari sini, Edward. Jangan sampai kau jatuh cinta dengannya dan kau mengiyakan hal itu. Tapi lihatlah sekarang, bagaimana kau berusaha melindunginya!” bentak Raja dengan suara menggelegar.

Angelia dapat melihat tangan Edward terkepal erat, rahangnya menegang. “Hentikan semua ini, Ayah! Jangan pernah menumbalkan seseorang hanya karena kerajaan sialan ini!” teriak Edward dengan nada marah yang bergetar di udara.

Plak… plak…

Tangan Raja mendarat di pipi Edward dua kali, keras dan dingin. Laki-laki paruh baya itu menatap Edward dengan mata penuh amarah dan otoritas. “Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah berhenti. Kau mengerti!”

Setelah itu, Raja langsung berbalik dan berjalan pergi, diikuti para penjaga yang tegap di belakangnya. Angelia hanya bisa berdiri terpaku, matanya masih menatap Edward yang berdiri diam, tubuhnya tegang namun wajahnya menahan amarah dan perasaan yang tak bisa diungkapkan.

“Apakah ini ada kaitannya denganku?” gumam Angelia dalam hati, dadanya terasa sesak.

Namun sedetik kemudian, Angelia terkejut. Edward tiba-tiba menghilang dari pandangannya, seakan menyelinap dalam bayangan.

“Sedang mengintip, hm?”

Angelia terlonjak, berbalik cepat dan hampir terjatuh saat menyadari Edward berdiri di belakangnya. Matanya membulat, jantungnya berdebar kencang. “Se--jak kapan kau ada di sini?” tanyanya terbata-bata, rasa malu dan kaget bercampur aduk.

“Jangan pernah bersembunyi dari pengendali sihir api,” ucap Edward sambil tersenyum sinis. “Kau bisa langsung ketahuan.”

Angelia menghela napas panjang, menepuk dadanya pelan. “Menyusahkan,” gerutunya sambil menunduk.

Edward menatapnya, mata hitamnya tajam. “Jadi, sedang apa kau di sini?”

“Pertanyaan bodoh, tentu saja aku ingin membaca buku,” jawab Angelia dengan nada cepat, ingin menutupi rasa bersalahnya karena telah menguping.

Edward mendekat selangkah, suaranya lebih tajam. “Jika kau ingin membaca buku, kau seharusnya tidak berada di sini menguping pembicaraanku dengan Raja.”

Angelia langsung menunduk, pipinya memerah. Ia merasa seperti tertangkap basah.

“Kau mendengar semuanya?” tanya Edward lirih.

Angelia mengangguk, menatapnya.

Edward menundukkan kepalanya, suaranya menjadi lebih lembut. “Begitu ya… kuharap kau tidak kecewa.”

Angelia tersenyum tipis, air matanya hampir menetes kembali. “Mungkin aku akan kecewa… jika itu ditujukan untukku,” ucapnya sambil tersenyum manis, mencoba menenangkan hatinya sendiri.

Edward mengangkat wajahnya, menatap Angelia dengan tatapan yang sulit dibaca. “Angelia, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu,” ucapnya perlahan.

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang