❄bagian 9

71 16 0
                                        

Mata Angelia masih terpaku, seakan tak mampu berkedip, menatap Edward dengan intensitas yang membuat udara di sekelilingnya terasa hangat.

“Apa… aku begitu tampan sehingga matamu seperti ingin keluar dari ronggamu?” suara Edward terdengar datar, tapi ada nada menggodanya yang samar.

Merasa tertangkap basah, Angelia buru-buru memalingkan wajahnya, pipinya memerah tak tertahan, hatinya berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Ayo… turun, sepertinya harimau itu sudah tidak ada lagi,” gumam Angelia sambil menundukkan pandangannya, menatap ke bawah pohon dengan hati-hati.

“Kau tahu dia ada di mana?” tanya Edward, suaranya tenang tapi waspada.

“Mungkin… sudah pergi,” jawab Angelia ragu-ragu.

“Tidak… dia masih ada,” sahut Edward datar, matanya memindai sekeliling.

“Dimana? Kok aku tidak melihatnya?” Angelia menoleh, sedikit panik.

Edward menggeser tubuhnya sedikit dan menunjuk ke samping. “Ada di sampingku.”

Dengan cepat Angelia menoleh ke kiri, dan betapa terkejutnya dia saat menemukan sosok harimau itu masih berdiri tak jauh dari mereka, menatap mereka berdua dengan mata penuh ketajaman dan amarah.

“Hei! Lakukan sesuatu!” teriak Angelia, tubuhnya gemetar ketakutan.

Tanpa menunggu lebih lama, Edward melompat turun dari pohon dengan sigap, masih memegang Angelia dalam gendongannya agar gadis itu tetap aman.

Sesampainya di tanah, Angelia segera melompat keluar dari genggaman Edward, menjejakkan kakinya dengan hati-hati, sambil menatap sosok harimau yang kini bergerak lebih dekat.

Edward mengangkat tangan kanannya ke arah makhluk itu, dan dalam sekejap, api membara muncul dari tangannya, membentuk bayangan seperti naga raksasa yang dengan cepat menerkam harimau tersebut. Dengan suara gemuruh, makhluk itu lenyap, dan keheningan kembali menyelimuti hutan.

“Sudah selesai,” ucap Edward tenang, menatap Angelia dengan wajah datar.

“Kau… sangat berdosa!” teriak Angelia, suaranya memecah kesunyian, pipinya masih merah karena takut dan marah sekaligus.

“Kenapa?” tanya Edward datar.

“Kau membunuh seekor harimau yang… tidak bersalah!” suara Angelia gemetar, meski berusaha terdengar tegas.

“Dan kau… bisa saja mati dimakan harimau itu jika aku tidak bertindak,” balas Edward tenang, suaranya datar, seolah itu hal biasa baginya.

“Kan… kau bisa mengusirnya tanpa harus membunuhnya!” protes Angelia, pandangannya masih waspada ke arah pohon.

Edward menghela napas panjang, matanya menatap ke segala arah seolah menilai situasi. “Dia bukan harimau biasa. Makhluk itu… siluman yang menyamar menjadi harimau,” jelasnya singkat.

“Bohong!” Angelia mendengus, tak percaya.

“Bebas kalau kau tak percaya. Tapi aku hanya mengingatkan agar kau selalu waspada. Di dunia ini, banyak makhluk yang tak tampak seperti apa adanya,” ucap Edward, nada seriusnya menegaskan bahaya yang baru saja mereka hadapi.

Angelia menatap Edward dengan ekspresi julid, alisnya terangkat. “Dengan makhluk sepertimu pun aku harus tetap hati-hati, ya?” bisiknya sinis.

“Dasar tidak tahu diri,” balas Edward singkat, matanya masih memindai sekitar, mencari ancaman lain.

“Kau kenapa?” tanya Angelia, penasaran dengan keseriusan laki-laki itu.

“Ck… bagaimana kita bisa pergi dari sini jika kudanya saja tidak ada,” keluh Edward, nada kesalnya terdengar jelas.

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang