Di aula pertunjukan, hari kedua kompetisi pun dimulai. Hari ini bukan lagi sekadar memanah atau menunjukkan ketangkasan fisik—ini adalah kesempatan para Putri menampilkan bakat terpendam mereka. Para Pangeran duduk di kursi masing-masing, menatap penuh antisipasi, menunggu siapa yang pertama beraksi.
Putri pertama yang maju adalah Putri Elissa. Dengan langkah anggun, ia berdiri tepat di hadapan ketiga Pangeran, matanya memancarkan keseriusan.
"Baiklah, silakan tunjukkan bakatmu," ucap salah satu pengawal, nada suaranya formal, namun jelas menahan rasa penasaran.
Putri Elissa mengangguk, lalu memberi isyarat kepada seorang pelayan untuk mengambil perlengkapan melukisnya. Sejak kecil, Putri itu memang terkenal akan ketekunannya dalam seni lukis bahkan beberapa karyanya sudah terpajang di berbagai kerajaan. Kini, di hadapan audiens kerajaan, ia bersiap menciptakan mahakarya yang memikat mata.
Ketika kuas pertama menyentuh kanvas, semua mata menatap dengan penasaran. Beberapa pengawal menahan napas, para bangsawan dan putri lainnya menunduk penuh antusias. Setiap goresan kuas dari Putri Elissa terasa begitu hidup, detail wajah, bayangan, warna—semua terpadu sempurna. Beberapa Pangeran tampak tersenyum, kagum dengan ketelitian dan keanggunan yang terpancar dari sosok Putri itu.
Namun, tidak dengan Angelia. Sejak awal ia hanya berdiri di sisi, matanya kosong menatap ke arah lantai, pikirannya melayang ke dalam kebingungan. Bakat apa yang harus ia tunjukkan agar bisa mengesankan mereka? Memanah sudah ia tunjukkan, tapi itu tidak cukup untuk membuat para Pangeran melihat sisi lain dirinya—sisi yang tidak mereka kenal.
Angelia menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri. Setiap kali kuas Putri Elissa menyentuh kanvas, Angelia merasa tekanan itu semakin besar. Ia harus menemukan sesuatu yang unik, menonjol, dan membuat mereka terkesan, tapi pikirannya buntu.
Ia menatap Edward dari kejauhan, yang duduk dengan wajah datar namun matanya tajam mengikuti setiap gerakan para Putri. Ada senyum tipis yang hanya bisa ditangkap oleh Angelia—senyum yang entah bagaimana membuat gadis itu semakin gelisah.
“Apa yang harus kulakukan?” gumam Angelia dalam hati. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
“Di dunia aku punya hobi menulis, tapi tidak mungkin kan aku malah menulis cerita di depan mereka?” batin Angelia, matanya menatap kosong ke arah lukisan Putri Elissa. “Yang ada aku malah langsung di ejek oleh pangeran sialan itu.”
Ia menatap ke samping, melihat Putri Arabelle yang tampak serius menonton setiap goresan kuas Putri Elissa. Angelia mengernyit, lalu dengan hati-hati menyikut lengan Putri Arabelle.
“Hei,” bisiknya.
Putri Arabelle menoleh, senyum manisnya masih tersungging. “Ada apa, Putri?” tanyanya lembut.
Angelia merapatkan bibirnya ke telinga Putri Arabelle, suara hampir tidak terdengar. “Anda… akan menunjukkan apa di pertandingan ini?”
Putri Arabelle ikut menundukkan kepalanya, berbisik penuh rahasia. “Mungkin aku akan bernyanyi,” jawabnya dengan nada lembut.
Wajah Angelia langsung berbinar-binar. “Wah! Kau pandai menyanyi?”
Putri Arabelle mengangguk, senyum manisnya menenangkan sejenak kegelisahan Angelia. “Hanya sedikit,” jawab Arabelle malu-malu.
Tapi tiba-tiba terdengar dehem dari Pangeran Arthur, membuat kedua Putri langsung menegangkan tubuh. Mereka saling menoleh, kemudian cepat-cepat menarik jarak satu sama lain, pura-pura fokus kembali ke lukisan Putri Elissa. Angelia menahan napas, matanya tetap menatap tajam ke arah pangeran itu, tapi hatinya berdetak lebih cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasíaAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
