❄bagian 8

73 19 0
                                        

Seharian Angelia mengurung dirinya di kamar, tak beranjak dari kasur yang empuk itu. Malas dan enggan, ia membiarkan sinar matahari meninggi di luar jendela, sementara tubuhnya tetap terbaring lemas, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Bayangan kejadian sore kemarin terus berputar di kepalanya, apalagi ketika malam tiba saat Angelia melihat dari balkon kamarnya Edward yang duduk sendirian menangis di bawah pohon, entah apa yang terjadi sehingga membuat lelaki itu terlihat rapuh.

Cklek…

Pintu kamarnya terbuka lebar. Angelia terkejut, refleks berbalik, siap memarahi siapa pun yang berani mengganggu ketenangannya. Namun, kata-kata itu tak pernah sempat terucap ketika matanya menangkap sosok tegap seorang laki-laki yang menatapnya dengan serius.

"Pangeran Arthur…" gumam Angelia pelan, setengah tak percaya.

"Anda masih belum bersiap?" tanya Arthur, nada suaranya tegas namun tenang.

Angelia menatapnya bingung, lalu bertanya, "Untuk… apa, Yang Mulia?"

Arthur mencondongkan tubuh sedikit, menatapnya dengan pandangan yang jelas dan lugas. "Agenda kita hari ini adalah mengunjungi salah satu desa yang dipimpin oleh adik bungsuku."

Angelia terkejut seketika, menyadari betapa pentingnya kunjungan itu. "Baiklah, saya akan segera bersiap," jawabnya, sedikit terburu-buru namun sopan.

"Hm, kami menunggu di luar," kata Arthur sebelum menundukkan kepala sedikit sebagai tanda pamit, lalu mundur dan meninggalkan kamar.

Setelah kepergiannya, Angelia menghela napas panjang, matanya menatap ke langit-langit kamar. "Hah… lagi-lagi harus bertemu dengannya," bisiknya pelan, perasaan campur aduk antara was-was dan enggan.

---

"Semuanya sudah siap?" tanya Arthur dengan nada tegas namun terdengar penuh perhatian.

"Siap!" jawab kedua pangeran dan ketiga putri serempak, suara mereka penuh semangat.

"Baiklah, ayo," Arthur memimpin rombongan.

Semua mulai bergerak, menunggangi kudanya masing-masing. Angelia menunggangi kuda putihnya dengan perasaan yang lebih ringan. Ia sudah terbiasa menunggang kuda sejak berada di dunia nyata, sehingga gerakan dan kendali kudanya kini terasa alami dan luwes.

Mereka mengikuti Pangeran Arthur yang menunggangi kuda dengan gagah dan penuh wibawa. Semua mata menatap kagum pada sang pangeran, kecuali Angelia. Sedari tadi ia hanya menatap punggung seorang lelaki yang saat ini, tampak tenang, pendiam, dan cuek. Padahal biasanya, Edward akan menghampiri Angelia tanpa ampun, menghujatnya semaunya, membuat hati gadis itu naik turun seperti ombak.

Dari belakang, Angelia menatap Edward yang menunggangi kudanya dengan tegap dan penuh wibawa. Dalam matanya, sosok laki-laki itu tampak seperti seorang pangeran dalam dongeng, setiap gerak dan posturnya memancarkan aura keberanian sekaligus ketegasan yang sulit diabaikan. Angelia menahan napasnya sebentar, seakan kagum sekaligus sedikit waswas menghadapi laki-laki yang selalu bisa membuat hatinya berdebar.

Setelah sekitar sepuluh menit perjalanan yang menyenangkan sekaligus melelahkan, rombongan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka mengikat tali kuda dengan rapi, lalu duduk di bawah naungan pohon yang rindang, menikmati sejuknya angin sore yang berhembus lembut.

Putri Arabelle menoleh ke Angelia dan memberi isyarat agar ia duduk bersamanya di bawah pohon yang teduh. Angelia membalas dengan senyum tipis, kemudian berjalan perlahan menuju pohon lain yang cukup rindang, di mana ia bisa duduk dengan tenang dan menikmati waktu istirahatnya sendiri.

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang