Edward sedang sibuk mengemasi peralatan berkudanya, tangannya cekatan merapikan tali kekang, sadel, dan kantong-kantong perbekalan yang akan dibawa dalam perjalanan ke Kerajaan seberang. Hari ini, ia harus melakukan urusan penting menjalin kerja sama yang mungkin akan menentukan masa depan kerajaan. Ia begitu fokus, pikirannya setengah berada di medan perang diplomasi, setengah lagi pada tanggung jawabnya sebagai pemimpin.
Tiba-tiba, hawa di belakangnya berubah. Edward menoleh, dan pandangannya langsung membeku. Di sana, berdiri sosok wanita yang membuat detak jantungnya serasa berhenti sekejap. Bola matanya menatap Edward dengan campuran perasaan yang sulit ia jelaskan sendiri.
“Kenapa?” tanya Edward, suaranya datar, dingin, nyaris tanpa emosi. Nada itu berbeda dengan kemarin, sekarang nada itu terdengar seperti tembok batu yang menutup rapat perasaannya.
Alis Angelia mengernyit. Ada rasa kesal yang jelas menebal di matanya. Wajah datar Edward, sikapnya yang dingin seperti es, membuat darah Angelia mendidih sedikit demi sedikit. Padahal baru kemarin Edward berkata ia merindukannya. Kenapa sekarang bisa berubah begitu saja?
“Apa kau hanya akan berdiri di sana, menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata pun?” ujar Edward, nada ketus menyelimuti setiap kata yang keluar. “Aku sibuk, tidak bisa meladenimu sekarang.”
Edward berbalik, mengabaikan Angelia, tangannya tetap sibuk menyusun peralatan. Angelia tetap berdiri di tempatnya, mematung, memperhatikan setiap gerakan Edward, seperti mencoba membaca pikirannya dari tatapan mata yang dingin itu.
Waktu berlalu. Mungkin sekitar tiga puluh menit Angelia tetap di sana, diam, tidak bergerak, hanya menatap. Keheningan itu menekan Edward dan Ketidaknyamanan mulai merayap ke pundaknya, setiap kali tangannya berhenti sebentar, matanya tanpa sadar melirik Angelia.
Akhirnya, Edward tak tahan lagi. Ia berbalik dengan cepat, wajahnya kini dipenuhi kemarahan yang sulit ia sembunyikan. “Jika memang tidak ada keperluanmu, pergilah sekarang juga!” serunya, suaranya meninggi, tegas, seolah ingin menegaskan jarak antara mereka.
"Tck, dasar laki-laki kasar, apa salahnya aku melihatmu," sahut Angelia, nada suaranya dipenuhi campuran kesal dan keheranan. Matanya menatap Edward yang berdiri tegap, wajahnya tetap dingin dan tak tersentuh. Ada rasa frustrasi yang menumpuk di dada Angelia karena selama ini setiap pertemuan dengan Edward selalu berujung pada ketegangan yang tak kunjung reda.
Edward melangkah maju, tubuhnya tegap dan aura keperkasaan mengelilinginya. Senyum sinis terbit di bibirnya seolah menantang Angelia untuk berani menentangnya. "Kasar? Kau tahu kan, dari kemarin aku sudah berusaha bersikap baik padamu?" ujar Edward.
Angelia melipat kedua tangannya di dada, tubuhnya sedikit tegak menantang, dan pandangannya menancap tajam ke mata Edward yang hitam pekat, seolah menembus seluruh isi hatinya. "Apa-apaan, dari kemarin kau juga bersikap ketus padaku, tidak segan-segan mengejekku, bahkan sejak dulu sikapmu memang selalu buruk!" kesal Angelia.
"Cukup! Sedari kemarin aku hanya diam mendengarmu menghina dan menghinaku. Kau tahu kan aku siapa? Aku Raja di sini, jangan macam-macam!" tegas Edward, suaranya meninggi, tubuhnya menegangkan, seakan ingin menegaskan jarak dan otoritasnya. Kata-katanya menggema di ruang itu, menekan setiap sudut hati Angelia.
Angelia menggigit bibirnya, menahan ledakan emosi yang nyaris membuatnya menjerit. "Ak---" katanya serak, tapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya, terhimpit oleh rasa campur aduk antara takut, kesal, dan sedikit kecewa.
Edward menghembuskan napas panjang, langkahnya mundur sedikit, pandangannya masih menancap tajam ke Angelia. "Pergi. Aku tidak ingin diganggu." Kata-kata itu keluar dingin, tegas, dan menutup ruang antara mereka, seperti dinding batu yang kokoh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasíaAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
