❄bagian 10

74 15 0
                                        

Angelia duduk di meja makan dengan posisi sedikit kaku. Putri Arabella duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arahnya dengan senyum lembut, seolah mencoba membuatnya merasa diterima. Di hadapan mereka, Edward bersandar malas di kursinya, wajahnya menunjukkan kejengkelan yang sama sekali tidak ia sembunyikan.

"Lama sekali," gerutu Edward sambil menepuk meja pelan. "Aku sudah sangat lapar."

Angelia meliriknya sekilas dengan tatapan datar, nyaris malas. "Diamlah," balasnya singkat tanpa basa-basi.

"Sudah-sudah, jangan ribut," tegur Pangeran Arthur dengan suara tenang namun tegas.

Setelah semua orang lengkap, pelayan segera menyajikan hidangan. Suasana meja makan mendadak hening. Suara sendok dan piring menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.

Namun ketenangan itu terasa aneh bagi Angelia.

Keningnya mengerut saat menyadari Edward sejak tadi terus memandangnya, seolah tak tertarik pada makanannya sendiri. Angelia mendengus pelan, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Apa," bisiknya ketus.

Edward hanya tersenyum tipis, senyum yang membuat Angelia langsung menunjukkan ekspresi jijik. Laki-laki itu ikut merendahkan suaranya. "Kenapa kau makan sedikit sekali?"

Angelia menoleh ke piringnya-nasi hanya satu sendok, nyaris tak tersentuh. "Aku sedang diet," jawabnya ringan.

"Ekhem."

Suara Arthur membuat mereka berdua langsung kembali bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Angelia menunduk, Edward pura-pura sibuk makan.

Setelah makan selesai, pembicaraan beralih pada urusan politik kerajaan. Nama wilayah, aliansi, dan strategi terus disebutkan-hal-hal yang sama sekali tidak dipahami Angelia. Ia menguap kecil, memainkan jarinya di bawah meja, jelas merasa tersiksa oleh kebosanan.

Pangeran Fynn yang memperhatikan gelagat itu akhirnya angkat bicara. "Jika Tuan Putri merasa tidak nyaman, Anda boleh kembali ke kamar untuk beristirahat."

Mata Angelia langsung berbinar. Ia tersenyum lebar, berdiri dengan cepat, lalu membungkuk sopan ke arah mereka semua. "Terima kasih," ucapnya singkat sebelum bergegas meninggalkan ruangan.

Begitu Angelia pergi, suasana berubah.

"Sebenarnya aku merasa tidak nyaman dengannya," celetuk Putri Elissa sambil menyilangkan tangan. "Dia terlihat sangat bar-bar. Tidak pantas menjadi seorang putri."

"Hush, tidak boleh berbicara seperti itu," tegur Arabella lembut, meski sorot matanya menunjukkan kegelisahan.

"Namun memang benar," sambung Pangeran Fynn. "Putri Angelia tidak sopan dan jelas tidak memiliki tata krama yang layak."

Edward yang mendengarnya hanya terdiam. Tatapannya dingin, tertuju pada meja, namun rahangnya mengeras.

"Kau juga sependapat, bukan?" tanya Fynn sambil melirik Edward.

Edward mengangkat wajahnya, tersenyum samar. Senyum yang sulit dibaca.

"Apakah kau mencintainya?" tanya Arthur tiba-tiba.

Edward tertawa pelan. "Tidak mungkin aku mencintai gadis seperti dia."

"Tapi Pangeran Edward terlihat sangat nyaman saat berbicara dengannya," sela Elissa dengan nada penuh selidik.

"Nyaman?" Edward terkekeh. "Kau bercanda."

Arabella tersenyum kecil, mencoba meredakan suasana. "Mungkin Pangeran Edward hanya menganggap Putri Angelia sebagai teman. Itu sebabnya ia merasa nyaman."

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang