Angelia terbangun dari tidurnya dengan kepala yang masih terasa berat. Tenggorokannya terasa sangat kering, seolah sepanjang malam ia tidak meneguk setetes air pun. Dengan tubuh yang masih lemas, gadis itu bangkit perlahan dan berjalan tertatih keluar dari tenda.
Di luar, malam masih memeluk hutan dengan gelapnya. Langit belum menunjukkan tanda-tanda pagi, hanya sinar api unggun yang berkelip pelan di kejauhan. Angelia berhenti sejenak, kebingungan ia tidak tahu harus mengambil air dari mana di tengah gelap seperti ini.
Namun langkahnya terhenti.
Tatapan Angelia terpaku pada satu sosok yang duduk diam di dekat api unggun. Dari punggungnya saja, Angelia sudah tahu siapa orang itu.
Edward.
Angelia melangkah mendekat dengan hati yang entah mengapa terasa berat. Semakin dekat, semakin jelas ia melihat pria itu--Edward rupanya tertidur dalam posisi duduk. Lengannya memeluk tubuhnya sendiri, kedua kakinya meringkuk seolah menahan dingin yang menusuk.
Hati Angelia langsung terasa diremas.
Ia tidak tega.
Melihat Edward dalam keadaan seperti itu, sendirian, terlelap dengan tubuh yang terlihat kelelahan, membuat dada Angelia sesak tanpa alasan yang jelas. Gadis itu menghela napas pelan.
“Gimana aku bisa membencimu,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar, “kalau melihatmu seperti ini saja aku tidak tega.”
Angelia berjongkok dan menggoyangkan bahu Edward perlahan.
“Hei… bangunlah,” ucapnya pelan.
“Engh….”
Mata Edward terbuka sedikit, masih menyisakan kantuk. Ia menyipitkan mata, mencoba menyesuaikan penglihatannya.
“Siapa?” tanyanya dengan suara serak.
“Ini aku.”
Pandangan Edward yang semula buram perlahan menjadi jelas. Matanya langsung tertuju pada wajah Angelia di hadapannya.
“Ada apa?” tanyanya. “Kau perlu sesuatu?”
Angelia menggeleng pelan. “Masuklah,” ucapnya singkat.
Edward menggeleng ringan. “Tidak. Aku tidur di sini saja.”
Angelia berdecih pelan, kesal. “Jangan keras kepala, Edward. Pinggangmu bisa sakit kalau kau tidur dengan posisi seperti itu.”
Edward merenggangkan tubuhnya sebentar, lalu tersenyum tipis ke arah Angelia. “Tenang saja. Aku laki-laki. Sudah terbiasa tidur seperti ini.”
“Di dalam lebih hangat dan tidurmu pasti lebih nyaman,” balas Angelia cepat. “Masuklah sebelum aku benar-benar marah denganmu.”
Edward terdiam sesaat, menatap Angelia lebih lama dari sebelumnya. “Kau tidak keberatan?” tanyanya.
Angelia terdiam sejenak.
“Wajahmu terlihat sangat berat,” lanjut Edward pelan.
Tanpa berkata apa pun, Angelia menyodorkan tangannya ke arah Edward. “Ayo masuk,” tekan Angelia.
Edward menatap ragu tangan yang tersodor itu.
“Ed.”
“Hah… baiklah, baiklah.”
Edward berdiri dari duduknya tanpa meraih tangan Angelia. Gadis itu langsung menarik kembali tangannya, sedikit merasa canggung.
Namun tiba-tiba tubuh Angelia menjadi kaku, Edward dengan tiba-tiba meletakkan tangannya di pinggang Angelia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
