❄Bagian 27

87 25 77
                                        

Angelia menghela napas panjang dengan gusar. Wanita itu kini terbaring seorang diri di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Irene baru saja pulang ke rumahnya, meninggalkan Angelia sendirian bersama pikirannya yang berisik dan hatinya yang penuh luka.

Malam ini terasa begitu sepi. Terlalu sepi. Biasanya, di jam seperti ini, akan ada sepasang lengan yang memeluk tubuhnya dengan erat, sebuah sentuhan hangat yang menenangkan, dan telapak tangan seorang lelaki yang dengan lembut mengusap perutnya seolah sedang berbicara dengan kehidupan kecil yang pernah tumbuh di sana. Namun kini, semua itu hanya tersisa sebagai kenangan. Kenangan yang begitu indah, namun juga begitu menyakitkan.

Angelia bahkan tidak tahu apakah semua yang ia alami bersama Edward benar-benar nyata, atau sekadar mimpi panjang yang terlalu kejam untuk ditinggalkan.

Wanita itu memejamkan matanya, mencoba memaksa dirinya untuk tidur, tetapi bayangan pertemuannya dengan Samuel siang tadi kembali muncul tanpa permisi. Hatinya campur aduk. Ada rasa senang karena sempat melihat wajah yang begitu mirip dengan Edward, tetapi juga rasa kecewa yang jauh lebih besar karena sosok itu bukanlah Edward. Bukan lelaki yang pernah berjanji akan selalu melindunginya, bukan lelaki yang pernah mengorbankan segalanya demi cinta mereka.

Dadanya terasa sesak. Sangat sesak. Kenangan demi kenangan kembali berputar di kepalanya, tawa Edward, tatapannya yang hangat, caranya memanggil nama Angelia seolah dunia hanya milik mereka berdua. Angelia menggigit bibirnya, berusaha bertahan. Ia tidak ingin menangisi Edward sepanjang malam. Ia sudah terlalu lelah untuk terus menangis.

Namun kegelisahan membuatnya kembali membuka mata. Tidur terasa mustahil malam ini. Angelia menatap kosong ke arah langit-langit kamar, membiarkan perasaannya tumpah tanpa ia tahan lagi.

“Ed… kenapa rasanya sesakit ini?” ucapnya lirih, suaranya bergetar. “Membayangkan dirimu yang tidak bisa lagi aku peluk, tidak bisa lagi menjadi tempat aku bersandar saat dunia terasa terlalu berat.”

Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. “Aku capek, Ed… aku benar-benar lelah,” lanjutnya, menumpahkan semua rasa sakit, rindu, dan keputusasaan yang selama ini ia pendam seorang diri.

Angelia tahu, mungkin dirinya terlalu cengeng. Padahal baru beberapa jam lalu ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Namun janji itu runtuh begitu saja. Air mata kembali mengalir tanpa bisa ia cegah.

“Di dunia ini… aku sama sekali tidak punya alasan untuk bertahan,” bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar. “Kalau begitu, untuk apa aku bertahan sejauh ini?”

Air mata kembali jatuh, membasahi bantal di sisinya. “Ed… aku ingin bersamamu,” ucap Angelia dengan suara penuh luka.

Malam terus berjalan, sementara Angelia tetap terjaga memeluk kesepian, merawat rindu, dan mencintai seseorang yang kini hanya hidup dalam kenangan.

***
Angelia tengah bersiap di rumahnya. Irene menatap sahabatnya dengan sabar, tangan gadis itu menekan buku novel yang tengah Angelia baca.

“Angelia, kau sudah siap?” tanya Irene.

Angelia mengangguk pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran buku di tangannya.

“Ayo berangkat,” ajak Irene, menarik tangan Angelia agar berdiri.

Angelia mengikuti langkah Irene dengan malas, tubuhnya terasa berat, pikiran masih terperangkap dalam kenangan yang sulit ia lepaskan.

“Ayo semangat! Apa kau tidak senang akan bertemu Chris?” oceh Irene, berusaha menyalakan semangat Angelia.

Angelia hanya menghela napas panjang.
“Senang,” jawabnya singkat, matanya menatap lurus ke lantai.

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang