Angelia melangkah pelan namun mantap menuju kamar salah satu Pangeran yang berada di ujung lorong, langkahnya menyisakan jejak kecil di lantai marmer yang dingin.
Tok… tok… tok…
Cklek…
“Tck, siapa penggangu yang berani mengacaukan tidur nyenyakku?” gumam Pangeran itu, masih setengah mengantuk sambil mengucek matanya. Wajahnya yang tampan tampak masih lelah, namun tatapan matanya tetap menegaskan kewibawaannya meski dalam keadaan separuh sadar.
Angelia menatapnya dengan ekspresi malas, lalu menyerahkan syal yang telah dirajut dengan teliti. “Ini, ambillah,” ucapnya singkat, suaranya datar namun terdengar jelas.
Edward menggeser tubuhnya ke sudut pintu, memberi ruang. “Masuklah, letakkan syal itu di lemari,” ujarnya, nada suaranya santai namun penuh kewibawaan.
Alis Angelia mengerut, sikapnya tetap tak berubah. “Aku malas masuk ke kamarmu,” ketusnya, suara sedikit meninggi menandakan kekesalannya.
Edward sama sekali tidak bergeming. “Sekalian bersihkan kamarku,” ucapnya dengan nada datar, seperti memberikan perintah yang sudah biasa ia lakukan setiap hari.
“Nggak mau!” tegas Angelia, menegaskan pendiriannya dengan jelas, suara gadis itu memantul di dinding kamar yang luas.
Namun Edward tetap tak menyerah. Ia menambahkan tanpa memberi jeda, “Oh iya, jangan lupa setelah itu buatkan aku teh hangat. Cuaca di luar sangat dingin, jadi aku ingin minum sesuatu yang menghangatkan tubuh.”
Kerutan di dahi Angelia terlihat semakin jelas, kedua tangannya mengepal erat, seakan siap meninju wajah tampan Edward setiap saat.
Edward menghela napas panjang, matanya menyorot Angelia dengan kombinasi rasa kesal dan geli. “Hah… padahal aku sama sekali tidak ingin besok ada mayat yang terpenggal. Tapi sepertinya… satu-satunya mayat putri yang akan terpenggal adalah kau, karena tidak mematuhi perintah Pangeran,” gumamnya sambil menatap gadis itu, senyumnya tipis namun penuh sindiran.
“Dasar maksa!” geram Angelia, menghentakkan kaki dengan penuh frustrasi, lalu berjalan masuk ke dalam kamar Edward tanpa menoleh ke belakang.
Pangeran itu tersenyum puas, mengikuti Angelia masuk ke dalam kamar dengan langkah tenang.
Setibanya di dalam, Angelia membalikkan tubuhnya, menatap Edward dengan pandangan malas dan setengah menantang. “Kamarmu sangat bersih, bahkan tidak ada satu pun sampah yang tersisa. Jadi… apa lagi yang harus aku bersihkan sekarang, Pangeran yang terhormat?” ucapnya dengan nada sindiran yang tak tersembunyi, seakan menunjukkan bahwa kesabarannya sudah mulai menipis.
“Apa matamu buta? Lihatlah, di meja itu masih ada sedikit debu yang harus dibersihkan,” sarkas Edward tajam, suaranya menusuk telinga Angelia.
Angelia menatap meja di dekat kasur dengan rasa enggan, wajahnya memerah setengah kesal. Dengan langkah malas, dia meraih sebuah baju yang tergantung di dekat situ, hendak membersihkan debu yang tersisa.
“Selangkah lagi kau berjalan ke meja itu, dan aku benar-benar akan memenggal kepalamu,” ancam Edward, matanya menatap tajam, penuh peringatan.
Angelia membalikkan tubuhnya, menatap Edward dengan pandangan campur aduk antara frustrasi dan heran. “Apa maksudmu? Aku sudah berbaik hati ingin membersihkan debu itu, tapi kau malah ingin… memenggalku?” teriaknya, frustrasi hampir meledak.
Edward mengangkat alisnya, suaranya tetap dingin namun pedas. “Lihatlah kain yang kau pegang itu. Apakah kau pikir itu cocok untuk membersihkan debu?”
Mata Angelia tertuju ke kain yang ia genggam. Seketika, rasa terkejut membekapnya—ternyata itu adalah baju kebanggaan Pangeran, bercorak emas dan sangat mahal. “Ma… maaf, aku tidak melihatnya!” ucap Angelia terbata-bata, wajahnya memerah malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
