❄Bagian 4

97 22 1
                                        

Hari ini ketiga Putri akan berjuang untuk mendapatkan hati para Pangeran dengan menggunakan bakat yang mereka punya. Sebuah hari yang sejak pagi sudah dipenuhi ketegangan, harapan, dan tatapan penuh penilaian.

Agenda hari ini adalah memanah, ketiga Tuan Putri akan menunjukkan bakat memanah mereka. Sebuah ujian yang tidak hanya menilai ketepatan, tetapi juga harga diri. Dan sekarang Angelia dan kedua Putri sudah berkumpul lengkap dengan ketiga Pangeran dan Pengawal.

Lapangan memanah itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah semua orang menahan napas.

Jujur, Angelia cukup percaya diri dalam memanah. Karena di dunia nyata pun dia sering memanah dengan Irene.
Keyakinan itu bukan muncul tiba-tiba, melainkan dari kebiasaan dan kenangan yang pernah ia jalani.

Pertandingan dimulai, Putri Arabella dengan keanggunannya maju pertama menuju tempat memanah. Di sisi kanannya ketiga Pangeran tengah memperhatikan dengan seksama.
Langkah Arabella anggun, gerakannya rapi, seolah setiap sudut tubuhnya sudah dilatih untuk terlihat sempurna.

Putri Arabella membidik busur panahnya tepat di tengah titik lingkaran.
Tangan gadis itu stabil, pandangannya fokus, tanpa ragu sedikit pun.

Semuanya terlihat kagum bahkan dapat Angelia liat kedua pangeran tersenyum bangga melihatnya.
Tepuk tangan menggema pelan, sorot mata penuh kekaguman tidak bisa disembunyikan.

Angelia hanya diam menunjukkan wajah datarnya.
Tidak iri, tidak kagum—atau mungkin ia terlalu pandai menyembunyikannya.

Peserta kedua adalah Putri Elissa, dengan anggun dia mengambil busur panah dan melesetkan mata panahnya, tapi sayangnya mata panah itu tidak tertancap di pinggir lingkaran.
Busur dilepaskan, anak panah meluncur, lalu gagal menemukan tempatnya.

Angelia yang melihat itu sontak tertawa.
Tawa yang terdengar ringan, namun tajam bagi siapa pun yang mendengarnya.

"Pfft kupikir anda akan berhasil mengenai titik tengah karna wajah anda yang terlihat yakin, tapi dugaanku benar-benar tidak sesuai dengan kenyataan."
Ucapan itu meluncur begitu saja, tanpa dipikirkan akibatnya.

Sontak seluruh mata memandang ke arah Angelia yang tertawa.
Suasana berubah seketika, senyap, berat, penuh keterkejutan.

Putri Elissa yang melihat itu menahan malu, dia segera berlari meninggalkan lapangan memanah.
Langkahnya tergesa, bahunya bergetar, air mata yang tertahan akhirnya jatuh.

Putri Arabella memandang tidak percaya kepada Angelia yang tega berkata seperti itu.
Raut wajahnya jelas menunjukkan kekecewaan.

"Tuan Putri anda seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu."
Nada Arabella lembut, namun tegas.

Setelah mengatakan itu Putri Arabella beranjak pergi mengejar Putri Elissa.
Meninggalkan Angelia di tengah tatapan yang mulai berubah dingin.

Angelia seketika menutup mulutnya, dengan takut-takut dia menatap ke arah tiga Pangeran.
Baru sekarang ia menyadari beratnya kata-kata yang telah ia lontarkan.

Dapat Angelia liat mereka yang memandang dingin Angelia.
Tidak ada senyum, tidak ada toleransi.

"Apakah anda tidak punya sopan santun hingga melayangkan perkataan menyakitkan kepada Putri Elissa?"
Dengan tegas Pangeran Arthur berucap pada Angelia, suaranya keras dan penuh wibawa.

Angelia menatap tidak suka ke arah Pangeran pertama. Tatapan itu dingin, bukan karena takut, melainkan karena enggan tunduk. Seolah sejak awal ia memang tidak berniat menurunkan kepalanya pada siapa pun.

"Apakah salah? Aku hanya menertawakannya." Ucapannya terdengar ringan, nyaris santai, seakan luka yang barusan tercipta bukanlah tanggung jawabnya.

Pangeran Fynn terlihat terkejut melihat keberanian Angelia yang secara terang-terangan melawan perkataan kakaknya. Sedangkan Pangeran Edward, ia hanya berdiri diam, wajahnya datar, matanya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sebenarnya sedang menahan sesuatu.

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang