❄bagian 14

61 16 1
                                        

Edward mengusap sudut matanya perlahan. Rasa kantuk masih menggantung ketika ia terbangun di siang hari yang terik, berbaring santai di bawah pohon rindang yang selama ini menjadi tempat favoritnya untuk menenangkan diri. Angin sepoi berhembus pelan, mengibaskan rambut hitamnya yang sedikit berantakan—justru menambah kesan tampan dan bebas pada sosok pangeran yang dikenal kejam dan bengis itu.

Tidur siang kali ini terasa begitu nyaman. Terlalu nyaman, bahkan.

Beberapa wanita yang melintas tak bisa menyembunyikan senyum mereka. Ada yang menahan tawa kecil, ada pula yang berani melirik terang-terangan, bahkan memainkan mata dengan penuh harap. Edward menyadarinya, namun seperti biasa ia tak peduli. Kekaguman semacam itu sudah terlalu sering ia terima.

Edward menguap lebar, meregangkan tubuhnya.

“Ed.”

Suara dari balik pohon membuat tubuh Edward menegang seketika. Kepalanya menoleh cepat, refleks seorang ksatria yang tak pernah benar-benar lengah.

“Bella,” ucapnya lega, namun masih terkejut. “Kau hampir membuatku menghunus pedang.”

Putri Arabella tertawa ringan, langkahnya mendekat sebelum akhirnya duduk di samping Edward. Cahaya matahari menimpa wajahnya, membuat pipi putihnya merona. Tatapannya tertahan cukup lama pada Edward—terlalu lama untuk sekadar seorang sahabat.

“Heh,” ucap Edward santai, meliriknya. “Kau melamun. Sedang memikirkan apa?”

Lamunan Arabella buyar. Ia menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah. Butuh beberapa detik sebelum ia berani bicara.

“Kau… sangat tampan,” ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan, wajahnya semakin memerah.

Edward terkekeh pelan. Tangannya terangkat, mengelus rambut Arabella dengan gerakan yang begitu biasa—terlalu biasa, seakan itu hal yang telah mereka lakukan berkali-kali sebelumnya.

“Berani sekali kau sekarang,” godanya. “Sudah mulai terang-terangan menggoda pangeranmu?”

Arabella tersenyum kecil, tapi senyum itu cepat memudar.

“Oh iya,” katanya, berusaha mengalihkan pembicaraan. “Putri Angelia di mana? Tidak biasanya dia mengurung diri di kamar.”

Nada cemasnya tak bisa disembunyikan.

“Dia sedang beristirahat,” jawab Edward singkat, namun kali ini suaranya tidak sedingin biasanya.

“Apa dia baik-baik saja?” Arabella menatapnya penuh khawatir. “Aku takut dia tertekan karena pernikahan ini.”

Edward terdiam sejenak. Angin kembali berhembus, dedaunan bergesekan lembut di atas kepala mereka. Wajah Edward melembut, lalu ia menoleh menatap Arabella—tatapan yang terlalu dalam untuk sekadar empati biasa.

“Kurasa,” ucapnya pelan, “yang tertekan justru kau.”

Arabella mendongak, terkejut. “Kenapa malah aku?”

Edward tersenyum tipis, pahit. “Karena sebentar lagi… pangeranmu akan menikah.”

Kata-kata itu jatuh begitu saja, namun efeknya menghantam Arabella tanpa ampun.

Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan getaran di dadanya. “Tentu saja aku bahagia,” katanya, memaksakan senyum yang rapuh.

Edward menggeleng pelan. “Wajahmu tidak pandai berbohong, Bella.”

Pertahanan Arabella runtuh.

Ia menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca saat menatap Edward. “Pangeranku tidak akan bisa lagi tidur di pangkuanku,” ucapnya lirih. “Tidak akan bisa lagi memelukku ketika aku menangis… tidak akan membawaku ke desa dengan kuda kesayangannya, tertawa seolah dunia ini hanya milik kita berdua.”

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang