❄bagian 15

66 13 1
                                        

Sudah lima hari penuh orang-orang di kerajaan sibuk mempersiapkan pernikahan Edward dan Angelia. Lima hari yang terasa begitu panjang bagi Angelia—karena selama lima hari itu pula ia harus terkurung di dalam kamar, tanpa boleh keluar, tanpa boleh bertemu siapa pun, terutama laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.

Tradisi kerajaan memang kejam. Wanita dan pria yang akan menikah dilarang keras bertemu menjelang hari pernikahan. Mereka hanya akan “dipertemukan kembali” tepat saat upacara suci itu dimulai, seolah takdir sengaja dibuat menegangkan hingga detik terakhir.

Angelia tak punya pilihan selain pasrah.

Gadis itu menatap kosong ke arah atap kamarnya, matanya mengikuti pola ukiran yang sudah ia hafal luar kepala. Rasa bosan bercampur sesak memenuhi dadanya. Ia sangat merindukan berjalan-jalan di taman istana, merasakan angin sore menyapu wajahnya, atau sekadar duduk diam di bawah pohon rindang untuk menenangkan pikirannya.

Dan tanpa ia sadari…

Ia juga merindukan Edward.

Kesadaran itu membuat Angelia mendengus pelan, seolah marah pada dirinya sendiri.

Angelia menghembuskan napas kasar.
“Pasti pangeran sialan itu sekarang lagi bersama Putri Arabella,” gumamnya kesal.

Bayangan Edward yang tersenyum lembut pada gadis lain langsung muncul di kepalanya. Seketika dadanya terasa nyesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Angelia menggigit bibirnya, mencoba menahan perasaan yang tak seharusnya ia rasakan.

Ia sama sekali tidak tahu seperti apa nasibnya nanti setelah menikah. Apakah ia hanya akan menjadi istri atas nama? Atau sekadar pengganti yang dipilih kerajaan tanpa pernah benar-benar dicintai?

Tok… tok… tok…

Angelia tersentak.

Suara ketukan terdengar—bukan dari pintu, melainkan dari arah jendela kamarnya. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Ia bangkit dari tidurnya dan melangkah perlahan menuju jendela yang tertutup gorden tebal.

Tok… tok… tok…

Kali ini lebih jelas.

Dengan sedikit rasa penasaran bercampur nekat, Angelia membalas ketukan itu pelan.

“Oi.”

Suara berat itu langsung membuat tubuh Angelia menegang.

“Edward?” Angelia menaikkan suaranya, hampir tak percaya.

“Sstt, diamlah,” bisik Edward dari balik jendela.

Angelia memutar bola matanya. “Ck. Untuk apa kau datang ke kamarku?” ucapnya pelan tapi ketus.

“Buka dulu jendelanya biar aku bisa masuk,” jawab Edward santai.

“Tidak mau,” tolak Angelia cepat. “Kau sendiri yang dengar kemarin. Kita nggak boleh bertemu sampai hari pernikahan.”

Hening.

Tidak ada jawaban.

Angelia mengerutkan kening. “Ed, kau masih di sana?”

Beberapa detik berlalu sebelum suara Edward kembali terdengar, kali ini jauh lebih pelan—lebih jujur.

“Aku… sebenarnya sedikit merindukan gadis cerewet ini.”

Kalimat itu membuat jantung Angelia bergetar tanpa izin. Namun ia buru-buru menahan diri agar tidak terlihat senang.

“Helleh, alasan,” balasnya sinis. “Padahal kudengar setiap hari kau masih bertemu dengan Putri Arabella.”

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang