Raja tersenyum hangat, tatapannya menelusuri seluruh tamu undangan yang hadir. Laki-laki paruh baya itu mengangkat gelasnya, suaranya tegas namun penuh kebahagiaan.
"Mari kita rayakan acara pernikahan ini dengan meriah!" seru Raja, suaranya menggema di aula istana.
Sorak sorai menyambut seruan itu. Semua orang ikut mengangkat gelas mereka, tertawa, dan mulai menikmati hidangan serta hiburan yang telah dipersiapkan dengan mewah. Musik orkestra mengalun lembut, penari berpakaian indah menari di sisi aula, dan aroma makanan yang menggoda menyeruak di seluruh ruangan.
Edward, yang baru saja mengikat janji suci pernikahan, ikut bergabung dengan pangeran-pangeran dari kerajaan lain. Laki-laki itu tertawa, berbincang, dan tampak menikmati suasana pesta, meninggalkan Angelia yang berdiri sendiri di tengah keramaian.
"Suami sialan!" keluh Angelia dalam hati, bibirnya merengut. "Baru saja mengikat janji, dia langsung pergi begitu saja tanpa mengajak istrinya."
Gadis itu menghela napas panjang, matanya menatap Putri Arabella dan Putri Elissa yang sedang berbincang santai dengan beberapa gadis kerajaan lainnya, tertawa dan tersenyum tanpa mempedulikannya. Perasaan sepi dan terasing menekan dada Angelia, membuatnya merasa seperti asing di tengah keramaian yang ramai ini.
"Aku seakan terasingkan," gumam Angelia lirih, suaranya nyaris hilang di antara tawa dan musik yang mengalun.
"Ck, ck, ck… lihatlah putri kecil ini, sendirian di tengah keramaian," suara Chris terdengar, menambah sedikit humor di tengah kesunyiannya.
Angelia menoleh malas ke arah Chris, alisnya terangkat. "Kau juga sendirian," ujarnya, nada suaranya campur kesal dan geli.
Chris terkekeh pelan. "Kau seharusnya bersama suamimu, bukan sendirian seperti orang kebingungan saja," katanya, menatap Angelia dengan pandangan hangat namun menyiratkan sindiran lembut.
Angelia menunduk sebentar, menahan rasa kesal. Ia tahu Chris benar, tapi hatinya tetap panas membayangkan Edward yang begitu santai meninggalkannya begitu saja, meninggalkannya sendiri di tengah lautan senyum dan bisik-bisik orang-orang.
"Aku memang kebingungan, tidak ada satu pun orang yang bisa kuajak bicara," gumam Angelia sambil melipat tangannya di dada, wajahnya masih menampilkan rasa sepi dan sedikit cemberut.
"Kenapa tidak bergabung dengan para tuan putri?" Chris menatap ke arah Putri Arabella yang tengah bercengkerama dengan teman-temannya, senyumnya tetap hangat.
"Cih… aku bahkan tidak mengerti topik pembicaraan mereka. Jadi percuma aku duduk di sana," jawab Angelia, nada suaranya penuh kesal tapi juga ada sedikit rasa minder.
Chris menggelengkan kepala, menatap Angelia dengan ekspresi campur heran dan prihatin. "Mau kutemani?" tanyanya, suaranya lembut tapi ada nada bercanda yang membuat Angelia sedikit tersentak.
Angelia menatapnya sebentar, pasrah. "Baiklah… ayo kesana. Ini adalah pesta pernikahanmu, jadi kau harus menikmatinya," gumamnya pelan, mencoba menerima bantuan Chris.
Tanpa menunggu izin lebih jauh, Chris langsung meraih tangan Angelia dan membawanya ke meja yang telah disiapkan dengan makanan lezat dan minuman berwarna keemasan yang menggoda. Ia menepuk bahu Angelia dengan ringan. "Lupakan masalah yang ada di hatimu, nikmati saja pesta ini," ucap Chris sambil menyodorkan secangkir alkohol.
Angelia menatap cangkir itu ragu-ragu. "Aku… aku tidak bisa minum alkohol," jawabnya dengan suara lemah, matanya menatap ke arah cangkir itu seolah berdebat dengan dirinya sendiri.
"Ayolah… sekali saja. Lagian, jika kau minumnya sekali teguk, tidak akan langsung membuatmu mabuk," rayu Chris, senyum tipis di wajahnya.
Angelina menatap dalam cangkir itu, tangannya sedikit gemetar. Matanya menatap permukaan cairan keemasan yang berkilau di bawah cahaya lampu pesta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
