❄Bagian 29

56 13 0
                                        

Angelia membuka matanya, napasnya tersangkut sejenak di tenggorokan. Ada harapan kecil yang sempat muncul, harapan bodoh yang selalu ia benci bahwa ketika kelopak matanya terangkat, dunia akan berubah. Bahwa ia akan berada di tempat lain. Bahwa suara itu, kehangatan itu, akan nyata.

Namun wajah wanita itu langsung kecewa ketika melihat dia masih tertidur di kasurnya, di kamar yang sama, sunyi yang sama, dan kenyataan yang sama kejamnya.

Tak ada Edward. Tak ada pelukan. Tak ada suara yang memanggil namanya dengan lembut.

Angelia beranjak dari kasur dengan langkah gontai, telapak kakinya terasa berat menyentuh lantai dingin. Tubuhnya bergerak otomatis, seolah ia hanya bayangan dari dirinya sendiri, lalu berjalan menuju cermin.

Disana dapat dia lihat wajahnya yang tirus, bibir yang pucat, serta matanya yang hitam dan bengkak.

Pandangan Angelia tertahan lama. Mata itu mata yang dulu selalu berbinar setiap kali Edward tersenyum kini kosong, lelah, dan menyimpan terlalu banyak malam tanpa tidur. Lingkar hitam di bawah matanya seperti saksi bisu dari doa-doa yang tak pernah terjawab.

Angelia tersenyum getir, penampilannya saat ini benar-benar hancur tidak terurus, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dari dalam. Wanita itu menghembuskan napas dalam-dalam, dadanya naik turun berat seakan setiap tarikan napas adalah perjuangan.

Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, kukunya menekan telapak tangan sendiri, mencoba menahan gemetar yang tak kunjung reda.

"Ayolah Angelia, jangan seperti ini terus. Kau harus kuat dan menjalani hidup tanpanya," ujar Angelia pada dirinya sendiri.

Angelia menepuk kedua pipinya, pelan namun tegas, seolah ingin membangunkan dirinya dari mimpi panjang yang menyakitkan.

"Kamu harus kuat Angel, jangan terlalu mudah menyerah, kau sudah berjanji di makam Ayah dan Ibu kalau kau akan kuat kan? Tapi kenapa hanya karena kehilangannya kau terpuruk seperti ini." lanjut Angelia lagi.

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Dadanya mengencang, tenggorokannya terasa panas. Nama Ayah dan Ibunya menggema di kepalanya, mengingatkannya pada janji yang pernah ia ucapkan dengan air mata yang sama janji untuk bertahan, apa pun yang terjadi.

"Jangan pernah menangis lagi Angelia, lupakan Edward. Dia hanya tokoh yang kau buat dalam ceritamu, dia sama sekali tidak nyata dan tidak akan pernah bisa kau gapai."

Angelia tersenyum manis di depan cermin itu, senyum yang terlalu dipaksakan, senyum yang lebih mirip topeng daripada ketulusan.

Di balik senyum itu, ada luka yang masih menganga, ada rindu yang belum menemukan tempat pulang. "Ayo kembali memulai perjalanan hidup sebelum dia datang."

Kalimat itu menggantung di udara, pelan, lirih, seolah Angelia sendiri tidak yakin ia mampu melakukannya. Namun ia tetap berdiri di sana, menatap bayangannya sendiri, berusaha percaya bahwa suatu hari entah kapan ia benar-benar bisa hidup tanpa terus memanggil nama Edward di dalam hatinya.

***
Irene menatap heran ke arah Angelia sejak beberapa menit lalu. Alisnya bertaut, matanya mengikuti setiap gerakan tangan Angelia yang tanpa jeda terus menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Angel, udah berapa lama kamu nggak makan sih?" ujar Irene akhirnya, setengah tidak percaya. "Kok rakus banget hari ini."

Saat ini mereka berdua tengah duduk di kantin kampus. Awalnya Irene hanya berniat mengajak Angelia menemaninya makan siang sekadar teman duduk, namun yang terjadi justru sebaliknya, makanan yang ia pesan hampir seluruhnya berpindah ke piring Angelia, bahkan sebelum Irene sempat menikmati setengahnya.

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang