Bulan demi bulan sudah terlewati, kini tiba saatnya Angelia melahirkan bayi perempuannya. Saat ini Angelia sudah berbaring, kamarnya telah dipenuhi oleh tabib perempuan yang akan membantunya melahirkan. Di sisinya, Edward mengenggam tangan Angelia dengan erat.
"Semangat, kau pasti bisa melahirkannya," bisik Edward.
Angelia mengangguk sembari tersenyum lemah.
"Anda sudah siap, Putri?" ucapan tabib terdengar tegas.
Angelia mengangguk.
"Baiklah, Tuan Putri, cobalah untuk mengedan," perintah tabib itu.
Angelia menghembuskan napasnya, dan dengan satu tarikan napas, wanita itu melakukan apa yang diperintahkan tabib. Bulir keringat membasahi keningnya. "Aghh...." Angelia berteriak kesakitan.
Edward meremas tangan Angelia, berusaha menyalurkan kekuatan. "Ayo, Angelia, kau pasti bisa," ucap Edward penuh semangat.
Tabib itu terus memerintahkan Angelia, hingga akhirnya kepala bayi terlihat. "Tuan Putri, kepala bayinya sudah muncul. Teruslah mengedan," perintah tabib itu tegas.
Angelia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa, keringat dan air matanya membasahi wajahnya tanpa henti. "Aghh...." teriak Angelia lagi.
"Oeoeoe," suara tangisan bayi pecah di ruangan itu. Tubuh wanita itu langsung lemas tidak berdaya. Tabib tersenyum sambil memuji, "Wah, Tuan Putri sangat cantik sekali," melihat wajah bayi Angelia.
"Tunggu sebentar, Pangeran dan Putri, kami ingin membersihkan bayi kecil ini terlebih dahulu," kata tabib.
Edward mengangguk, menatap haru bayi kecil yang dibawa ke kamar mandi.
"Ed," panggil Angelia lemah.
Edward menatap Angelia, mengecup keningnya. "Kau sangat hebat, terima kasih sudah melahirkan bayi kita," bisik Edward.
Angelia tersenyum, namun air matanya kembali mengalir.
"Hei, kenapa menangis?" tanya Edward lembut.
"Aku bahagia, Edward, terima kasih. Setelah ini aku akan pasrah menjadi tumbal untuk Kerajaan Athelia," jawab Angelia dengan suara parau.
Edward menggelengkan kepala, genggaman tangannya mengerat. "Kau tidak perlu menjadi tumbal, kau cukup kembali ke dunia aslimu," jawab Edward.
Angelia menatap tak mengerti. "Maksudmu?" tanya Angelia.
"Setelah bayi itu dibersihkan, aku akan membawamu ke Hutan Keabadian. Aku sudah menemukan sebuah portal untuk membawamu kembali ke dunia aslimu bersama dengan bayi kita," jelas Edward.
Angelia menggeleng. "Kau pasti sedang merencanakan hal bodoh, kan? Aku menolak dengan keras perintahmu barusan," ucap Angelia.
"Ssttt, tolong kali ini dengarkan aku, ini demi keselamatanmu dan bayi kita," bujuk Edward.
Angelia menggeleng lagi. "Aku tidak ingin kau terluka hanya karena aku," ujar Angelia tegas.
Edward mengelus kepala Angelia. "Apa pun akan kulakukan demi keselamatanmu," jawab Edward lantang.
"Edward, tolong jangan pernah melakukan hal berbahaya yang mengancam nyawamu," kata Angelia dengan air mata berlinang. "Aku sangat ikhlas menjadi tumbal bagi Kerajaan Athelia, kau bisa tetap hidup dengan bayi kita di sini," lanjut Angelia lagi.
"Dan kau pikir aku akan bahagia hidup tanpamu?" suara Edward terdengar lemah, hampir pecah.
"Pangeran, ini bayinya," tabib itu datang sambil membawa seorang bayi yang ada di gendongannya. Tabib itu menyerahkan bayi itu ke gendongan Edward.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasíaAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
