“Udah siap?” tanya Chris sambil menoleh sekilas ke arah Angelia yang sudah duduk rapi di kursi penumpang.
Angelia mengangguk pelan, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. “Iya.”
Chris kemudian menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Angelia. Mesin mobil berdengung pelan, memecah keheningan pagi itu. Hari ini mereka akan pergi ke perpustakaan, tempat yang mereka harapkan bisa memberi petunjuk tentang keberadaan dunia lain yang selama ini hanya hidup di dalam kenangan Angelia tentang dunia tempat Edward pernah ada, mencintainya, dan kemudian menghilang tanpa jejak.
Sepanjang perjalanan, Angelia lebih banyak diam. Pandangannya sesekali menatap jalan di depan, lalu beralih ke luar jendela, memperhatikan pepohonan yang berlalu begitu saja, seperti waktu yang terus berjalan tanpa menunggunya pulih.
Angelia melirik Chris.
“Chris,” panggil Angelia pelan, seolah ragu untuk membuka percakapan itu.
“Hm?” sahut Chris tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, namun nada suaranya lembut, penuh perhatian.
“Aku bermimpi bertemu Edward tadi malam,” ucap Angelia akhirnya.
Kalimat itu meluncur begitu saja, tapi dadanya terasa sesak setelah mengatakannya. Seakan nama itu sendiri masih memiliki kuasa untuk melukai dan menenangkan di waktu yang sama.
Chris tersenyum tipis. “Sepertinya dia merindukanmu sehingga selalu muncul di mimpi,” jawabnya tenang, seolah itu adalah hal yang wajar bahwa seseorang yang dicintai akan selalu mencari jalan untuk kembali, bahkan lewat mimpi.
“Mungkin aku yang terlalu merindukannya,” balas Angelia lirih. Ia tersenyum getir, senyum yang tak benar-benar sampai ke matanya. Rindu itu sudah terlalu lama bersarang, tumbuh menjadi luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Chris mengangkat satu tangannya, lalu mengacak rambut Angelia dengan lembut. “Kita akan cari sama-sama di mana Edward berada,” ucapnya mantap, seolah memberi janji yang tidak akan ia tarik kembali.
Angelia mengangguk. Kali ini lebih pelan, lebih dalam. Di balik anggukan itu, ada harapan kecil yang kembali menyala, meski rapuh.
Dalam diamnya, Angelia berdoa.
Ia memejamkan mata sesaat, memohon dalam hati agar hari ini, di antara rak-rak buku dan lembaran sejarah yang berdebu, Tuhan memberinya satu petunjuk saja. Satu tanda kecil tentang keberadaan Edward. Tentang dunia yang pernah menjadi rumah bagi hatinya.
Karena jika memang Edward masih ada di suatu tempat… Angelia siap menempuh jalan apa pun untuk menemukannya.
Tiga jam penuh mereka habiskan untuk berpindah dari satu rak ke rak lain, dari satu perpustakaan ke perpustakaan berikutnya. Angelia membaca judul demi judul buku dengan saksama, membuka halaman-halaman yang berdebu, berharap menemukan satu kalimat saja yang menyebut tentang dunia lain, tentang kerajaan, tentang perpindahan dimensi, tentang sesuatu yang bisa membuktikan bahwa apa yang ia alami bersama Edward bukan sekadar ilusi.
Namun hasilnya nihil. Tidak ada satu pun buku yang menceritakan tentang dunia lain seperti yang Angelia alami. Tidak ada petunjuk, tidak ada penjelasan, seolah dunia itu sama sekali tidak pernah ada.
Langkah Angelia mulai melambat. Bahunya tampak turun, napasnya semakin berat, meski ia berusaha menutupinya. Chris yang menyadari hal itu akhirnya mengajak Angelia berhenti sejenak di pinggir jalan. Mereka duduk berdampingan, di bawah bayang-bayang pohon yang rindang.
Chris menyerahkan satu botol minuman ke tangan Angelia. “Minumlah, kau pasti haus.”
Angelia menerimanya tanpa banyak bicara, lalu langsung meneguk minuman itu dengan cepat, seolah cairan dingin itu bisa menghapus rasa sesak di dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasiaAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
