❄Bagian 5

114 35 84
                                        

Meja makan panjang itu dipenuhi hidangan yang tersaji nyaris sempurna—roti hangat, sup bening, buah segar, dan peralatan makan berkilau yang tersusun rapi seolah tidak boleh bergeser satu inci pun dari tempatnya.

Angelia duduk di antara dua Putri lainnya, berhadapan dengan tiga Pangeran.

Secara visual, pemandangan itu nyaris seperti lukisan kerajaan yang ideal. Semua terlihat pantas. Semua terlihat tenang.

Terlalu tenang.

Tidak ada suara tawa.
Tidak ada percakapan ringan.
Tidak ada komentar kecil tentang rasa makanan atau udara pagi.

Hanya suara sendok yang menyentuh piring dengan sopan—pelan, terukur, nyaris tanpa jiwa.

Angelia menatap makanannya tanpa selera. Dadanya terasa sesak, bukan karena lapar, melainkan karena sunyi yang memekakkan.

Beginikah cara bangsawan menikmati pagi? batinnya kesal.
Makan tanpa bicara, duduk tanpa bernapas sebagai manusia.

Ia terbiasa dengan Irene—dengan obrolan kecil yang tidak penting, dengan tawa tiba-tiba, dengan komentar acak yang membuat waktu terasa hidup. Meja makan baginya bukan tempat pamer etika, melainkan ruang berbagi.

Dan sekarang—ia merasa seperti terjebak dalam sangkar emas.

Sendoknya bergerak lebih cepat. Angelia menghabiskan makanannya tanpa menikmati rasa apa pun. Begitu selesai, ia meletakkan peralatan makannya dengan suara yang sedikit lebih keras dari seharusnya.

“Hah… pagi hari ini sungguh membosankan.”

Ia merentangkan kedua tangannya ke atas, sama sekali tidak peduli pada tatapan yang mulai mengarah padanya.

Edward—yang duduk dengan sikap malas dan aura menyebalkan khasnya—melirik dengan ekspresi tidak senang.

“Pagi-pagi begini kau sudah merusak moodku.”

Angelia langsung menoleh. Tatapannya tajam, lengan dilipat di depan dada. “Kalau begitu jangan lihat.”

Edward mendengus kecil, sudut bibirnya terangkat mengejek. “Kau ada tepat di depan mataku. Jadi mau tidak mau aku harus melihatmu,” katanya santai, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Atau mungkin lebih baik aku menganggapmu makhluk halus saja?”

Putri-putri dan Pangeran lain hanya bisa menghela napas panjang. Bukan karena terkejut. Melainkan karena sudah lelah.

“Lebih baik matamu saja yang kau congkel,” balas Angelia dingin, “agar selamanya tidak melihatku.”

Edward tersenyum makin lebar. Menyebalkan. “Seharusnya kau yang berubah jadi kutu,” katanya enteng, “supaya bisa kupijak tanpa rasa bersalah.”

Angelia membuka mulut untuk membalas—namun—

Ting.

Denting sendok yang menghantam piring terdengar keras, memotong udara.

Semua mata beralih pada satu sosok.

Pangeran Fynn.

Tatapannya tajam, penuh peringatan. Wibawanya jatuh seperti bayangan gelap di atas meja makan.

Bound by Fire and Fate(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang