"Edward tolonglah, aku benar-benar ingin melukis wajahmu." ucapan Angelia terdengar penuh permohonan.
Saat ini, Angelia dan Edward tengah berada di kamar. Tiba-tiba, Angelia berlari ke meja riasnya dan mengambil sekumpulan barang-barang make-up miliknya. Wanita itu memohon dengan tatapan penuh harap agar suaminya mau merelakan wajah tampannya untuk dirias, namun Edward langsung menolak mentah-mentah.
"Kau sudah gila ya? Sampai kapanpun aku tidak akan pernah ikhlas wajah tampanku di rias." ucap Edward tegas, nada suaranya meninggi sedikit.
Angelia mengerucutkan bibirnya, berusaha meyakinkan suaminya. "Ayolah, ini bukan keinginanku. Ini keinginan bayimu." keluh Angelia, mencoba terdengar meyakinkan.
Edward berkacak pinggang, menatap Angelia dengan mata yang menahan kesabaran. "Selalu saja berbohong, memang janin itu bisa berbicara sampai-sampai kau tahu apa yang dia inginkan? Menjadi bayi saja dia belum."
Angelia tidak mau kalah. "Tentu saja aku tau, aku kan ibunya." jawabnya lantang.
"Aku lelah Angelia, biarkan aku tidur." Edward kembali berbaring, menutup matanya.
Namun, bukan Angelia namanya jika menuruti perintah. Wanita itu bahkan sudah mengeluarkan barang-barang make-up dan bersiap untuk merias Edward yang telah menutup matanya. Ia mengambil sebuah lipstik dan mengarahkannya ke bibir Edward.
Mata Edward langsung terbuka lebar ketika sebuah benda dingin menyentuh permukaan bibirnya. Laki-laki itu langsung terduduk dan menatap sang pelaku. "Sudah kubilang kan! Aku tidak mau." suara Edward meninggi tanpa sengaja.
Angelia biasanya tidak akan menangis saat dibentak, namun mungkin karena hormon ibu hamil, kedua matanya sudah berair dan siap tumpah. "Kau membentakku?" isak Angelia, air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Edward gelagapan, cepat merengkuh tubuh Angelia. "Hei, aku tidak sengaja." Edward panik, suara dan gerak tubuhnya penuh kecemasan.
Isakan kecil lolos dari bibir Angelia. "Kau tidak mencintaiku lagi sehingga membentakku. Aku kan hanya ingin merias wajahmu." suara Angelia tersedu-sedu, penuh perasaan.
Edward menepuk-nepuk punggung Angelia lembut. "Aku benar-benar menyesal, maafkan aku ya." bujuknya, lembut.
Angelia melepaskan pelukan Edward, mata bulatnya yang berair menatap ke arah laki-laki itu. "Aku akan memaafkanmu jika kau mau wajahmu aku rias." ucap Angelia, nada suaranya terdengar tidak mau di bantah.
Edward mengacak rambutnya, frustasi dan menyerah. "Kau tidak mau?" tanya Angelia lagi, suara seraknya terdengar jelas.
Edward menghembuskan napas panjang, menghapus air mata yang membasahi pipi Angelia. "Baiklah-baiklah. Kau bisa merias wajahku dengan sesuka hatimu." Edward akhirnya mengalah.
Angelia tersenyum sumringah, matanya berbinar. Dia langsung mengambil kembali lipstik berwarna merah merona, Edward berbaring dan memasrahkan wajahnya sepenuhnya.
"Tenang saja, aku akan membuatmu menjadi cantik." ucap Angelia sambil terkikik kecil, penuh semangat.
Edward hanya bisa diam, dapat merasakan sapuan benda dingin di bibirnya, kemudian pipinya diolesi perlahan.
Lima belas menit Angelia berkutat dengan pekerjaannya hingga selesai, ia tersenyum puas sambil menatap Edward. "Dia terlihat sangat cantik." gumam Angelia, penuh kepuasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by Fire and Fate(END)
FantasyAngelia seharusnya tidak pernah berada di dunia ini. Namun takdir menyeretnya ke Kerajaan yang hidup dari darah dan tumbal, ke sisi Edward pangeran bermata api yang mewarisi sihir terkutuk dan dosa seorang Raja. Di dunia tempat perempuan dijadikan p...
