Tentang Hadif, yang memilih sekolah di daerah Senayan- yang jaraknya jauh sekali dari rumah- hanya untuk bisa bertemu dengan Ibu dan kakaknya.
Tentang Hadif, laki-laki tujuh belas tahun; yang dihancurkan rumahnya, dipatahkan hatinya juga dikhianati...
Hadif dan teman-temannya baru meninggalkan area sekolah pukul lima sore, sebelum pulang ke rumah; Hadif memberanikan dirinya untuk kembali menginjak rumah peninggalan kakek-nenek, yang kini telah dikontrakkan. Di sana, Hadif bertemu dengan istri dari pak Faisal.
"Permisi, Tante?" itu adalah dua kata pertama yang keluar dari mulutnya ketika melihat istri pak Faisal tengah membuang kardus-kardus ke tempat sampah yang berada di depan.
"Eh? Kamu yang kemarin?" tanyanya.
Hadif mengangguk. "Iya, tante. Saya boleh tanya-tanya?"
"Tanya apa, ya?"
"Soal rumah ini, dan pemilik sebelumnya."
"Sebenernya kamu ini siapa sih? Saya nggak bisa sembarangan jawab pertanyaan kamu, saya nggak kenal kamu lho."
Mendengar itu, Hadif langsung mengulurkan tangannya. Meski ragu, istri dari pak Faisal itu tetap menjabat uluran tangannya. "Saya Hadif, anak Ibu Sanaya dan adik kandung Haga."
"Adiknya Aga? Beneran?"
"Iya, tapi nggak tinggal bareng sama Aga, soalnya orangtua kita udah pisah."
"Oh ... maaf ya, kirain siapa. Kalo gitu masuk aja, kebetulan di dalem lagi ada Aga, kita ngobrol bareng-bareng ya," sahutnya sembari mengizinkan Hadif untuk masuk.
Hadif tersenyum kecil, lalu mengikuti langkah wanita yang berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu sampai di ruang tamu. "Aga, ini ada adik kamu."
Haga yang tengah asik mengobrol dengan seorang pria yang sebaya dengan dirinya langsung menegang, sedangkan temannya menatap bingung kearah Haga. "Lah lo punya adek?"
"Agaa," panggil Hadif pelan.
"Kenapa rumah ini lo kontrakin?" tanya Hadif langsung pada intinya. "Terus lo sama Ibu tinggal di mana?"
Haga berdiri, lalu melangkah mendekati adiknya. "Ikut gue."
Laki-laki yang berusia dua tahun lebih tua dari Hadif itu membawa adiknya ke pekarangan rumah. "Mau tau kenapa rumah ini gue kontrakin ke orang?"
Hadif mengangguk.
"Gue risi, gue benci, gue nggak nyaman tiap kali lo dateng ke rumah."
"Lo kenapa sih? Aneh banget. Wajar gak sih kalo gue dateng ke rumah? Gue mau liat ibu, mau liat lo."
Haga terkekeh. "Gausah nanya gue kenapa deh, lo tanya sama diri lo ... kenapa lo ngebiarin Ayah nikah sama perempuan itu? Biar lo bisa makin nempel sama si Anya?"
"Lo tau gak, berapa besar rasa kecewa Ibu sama Ayah? Sesakit apa perasaan Ibu tiap liat perempuan brengsek itu? Belum lagi kenyataan kalo ternyata cewek kesayangan lo itu anak Ayah. Ibu lo hancur, anjing. Lo tau, gak?"
"Bisa-bisanya lo lebih milih tinggal sama Ayah lo yang brengsek itu daripada ikut sama Ibu lo. Sadar gak kalo lo sama brengseknya sama dia? Lo cuma mikirin diri lo sendiri, bangsat!"
"Lo salah, Ga," sela Hadif.
"Gue? Salah? Lo yang salah, anjing. Jadi tolong, berhenti. Gue sama Ibu bener-bener gak mau ketemu lo dan Ayah lo lagi."
"Gue nggak pernah milih buat tinggal sama Ayah, tapi Ibu yang minta gue buat jangan tinggalin Ayah!" Hadif berteriak tepat di depan Haga.
Mendengar itu Haga tertawa. "Halah, Ibu juga minta gue buat tinggal sama Ayah, tapi apa gue nurut? Enggak! Karena gue tau sebrengsek apa Ayah lo, ngapain juga gue hidup bersinggungan sama orang yang udah nyakitin Ibu gue?"
"Gue aja nggak tau lo sama ibu pergi dari rumah, gue nggak tau sama sekali, Ga. Lo sama ibu yang ninggalin gue di rumah, gue nggak dikasih pilihan sama sekali; dari awal ibu udah mesen sama gue buat stay sama ayah, gue nggak tau kalo mereka mau pisah saat ibu bilang kaya gitu. Sampe akhirnya lo sama ibu pergi, dan gue beneran harus tinggal sama ayah."
"Gue nggak bisa nolak, gue nggak ada pilihan lain; lo sama ibu udah terlanjur pergi dari rumah, tanpa sepengetahuan gue."
"Soal pernikahan ayah, gue nggak pernah setuju, ayah nggak minta persetujuan gue, Ga. Gue juga nggak pernah nerima tante Hilda, atau Anya sekalipun. Selama ini gue cuma tinggal sendiri di rumah, nggak ikut sama mereka. Kalo lo mikir hidup gue bahagia-bahagia aja, lo salah."
"Gue minta maaf kalo menurut pandangan lo gue jahat sama ibu, tapi tolong maafin gue dan kita mulai semuanya dari awal, bareng ibu."
"Basi, balik lo sana." Haga menyahut dengan ketus.
Hadif menggeleng. "Bawa gue pulang ke rumah lo, Ga."
"Balik, anjing!"
Kemudian, Hadif bersimpuh di kaki Haga dengan perasaan getir. "Maaf, tolong maafin gue." Tidak peduli jika ini membuat harga dirinya hilang, Hadif benar-benar sudah bingung harus melakukan apa lagi; ia ingin bertemu Ibu nya. Apapun caranya akan Hadif lakukan, asal ia bisa melihat Ibu lagi.
Perlahan, kedua bahunya diangkat. Seseorang membantunya untuk berdiri, "anjing Aga, jahat banget lo tai!" pekik teman Haga tidak habis pikir dengan kelakuan Haga.
"Lo ngapain sih kaya gitu?" tanya teman Haga pada Hadif.
"Lo diem deh, Wil. Lo nggak ngerti masalahnya, jangan ikut campur."
Willy mengangguk. "Gue emang nggak ngerti, gue juga bukan mau ikut campur. Tapi lo kelewatan kalo sampe ngebiarin adek lo berlutut di kaki lo kayak tadi. Nggak enak diliat sama orang, Ga. Di dalem aja deh kalo emang mau ngobrol, pelan-pelan, biar bisa saling paham."
Haga tidak memedulikan permintaan Willy, ia tidak ingin berbicara lebih lama lagi dengan Hadif, melihat wajahnya saja Haga sudah tidak ingin.
"Denger, ya. Gue nggak peduli sama apapun penjelasan lo tadi, gue nggak bakal maafin lo sama bokap lo, sama keluarga baru lo yang brengsek-brengsek itu. Jangan harap bisa ketemu sama Ibu gue, sampe kapanpun gak akan pernah bisa!"
"Kalo lo masih berusaha buat nyari gue sama Ibu, gue nggak bakal ragu buat matahin kaki tangan lo!" Setelahnya Haga masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Hadif bersama Willy.
"Lo ... gapapa?" tanya Willy, terdengar bodoh; tetapi ia bingung harus mengatakan apa lagi.
"Menurut lo aja," sahut Hadif sembari tersenyum canggung. "Maaf ya, udah bikin keributan di sini. Lo temenan sama Aga, bang?"
Willy mengangguk, "satu kampus."
"Yaudah, titip kakak gue ya, bang?"
"Iya ... omongan Aga jangan dipikirin, emang rada stres dia sekarang."
"Haha enggak, emang gitu dia, udah sering. gue pamit ya, bang. Maaf udah bikin rame," ucap Hadif dengan tenang.
Hadif kembali ke motornya, dan bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut. Ia membelah jalanan di perumahan itu dengan rasa getir di dadanya.
Perasaan itu selalu muncul tiap kali Hadif mendatangi rumah itu, tapi kali ini terasa lebih sakit daripada biasanya. Ia pikir, selama ini dia sudah benar ... ternyata masih salah.
continued
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
XKSHEBEBWKWHEB INI UDAH PERNAH DIUPLOAD TP KMRIN AKU UNPUBLISH SOALNYAAAAAA KAYAK KURENG SREG GITU.
terus mau se-cringe, absurd, atau seburuk apapun ni tulisan, aku bakal ttp lanjutin sampe akhir tanpa revisi ditengah jalan. alias mls bgt kalo revisi mulu yang ada nggak kelar-kelar.
jd kalo mnurutmu ini cringe, yaudah. nanti aku benerin kalo semuanya udah rampung👹