16. Menepati janji

237 52 7
                                        

Keesokan harinya, Hadif benar-benar datang menjemput Gemila. Laki-laki itu tiba di rumah Gemila pukul enam pagi, Gemila bahkan baru mau mandi ketika Hadif mengirim pesan yang mengatakan bahwa ia sudah di depan rumah Gemila.

Gadis itu buru-buru menghampiri Hadif dengan pakaian tidurnya, "kok pagi banget?" protes Gemila.

"Gue belum rapi tau," imbuh Gemila sembari melebarkan kedua tangannya, seolah menunjukkan dirinya yang masih memakai baju tidur.

"Yaudah rapi-rapi dulu, gue tungguin." Hadif menjawab apa adanya, ia sudah terbiasa datang pagi ke sekolah, jam berangkatnya pun sudah ditentukan setiap harinya. Itulah mengapa ia sudah sampai di rumah Gemila, semua itu ia lakukan agar tidak terlambat, jarak rumah yang jauh antar sekolah membuat Hadif harus pintar dalam mengatur waktunya.

"Lo mau nunggu di sini, apa masuk ke dalem?" tanya Gemila dengan ragu, takut jika Hadif ingin masuk ke dalam; sedangkan kedua orangtuanya belum tentu mengizinkan.

"Di sini aja," jawab Hadif. Ia cukup tahu diri, tidak enak juga pada kedua orangtua Gemila jika ia nunggu di dalam.

Gemila mengangguk tenang. "Oke, gue rapi-rapi dulu." Setelahnya gadis itu meninggalkan Hadif seorang diri di pelataran rumahnya.

Beberapa saat setelah Gemila pergi, seorang wanita keluar dari dalam rumah dan menghampiri dirinya. "Hadif, ya? Yang kemarin sore, kan?" tanyanya.

Hadif tersenyum, lalu menyalami wanita tersebut. "Iya tante, izin jemput Gemi, ya?"

Kemarin, Hadif dan Gemila pulang jam setengah tujuh malam. Cukup berbeda dari jam yang telah diperhitungkan oleh Hadif, hal itu dikarenakan Gemila yang awalnya menolak untuk diajak pulang, sebab masih merasa betah di pantai itu. Lalu selama di perjalanan pulang, Gemila juga terlalu banyak meminta beristirahat, katanya kakinya terasa kebas dan bokongnya pegal-pegal.

Untungnya kedua orangtua Gemila tidak banyak bertanya soal ke mana mereka seharian ini, mereka hanya sibuk bertanya soal siapa laki-laki yang pergi bersama anaknya itu. Karena biasanya Gemila hanya keluar bersama Albi.

"Ayo masuk ke dalem, masa nunggu di luar sih? Gemi pasti lama," ujarnya pada Hadif.

"Eh gapapa tante, di sini aja."

"Udah ayo masuk aja, gapapa ... sekalian sarapan, udah sarapan belum?"

Pada akhirnya Hadif menurut sebab wanita itu terus memaksa Hadif. "Nanti kita sarapan bareng, ya?"

Meski sebenarnya Hadif sudah sarapan, laki-laki itu tetap mengangguk ketika diajak sarapan bersama. Ia tidak enak untuk menolaknya, takut jika penolakannya membuat wanita itu tersinggung.

Sedangkan Gemila, gadis itu terkejut ketika melihat Hadif yang sudah duduk di meja makan. Lalu ia menatap mamanya yang tengah sibuk menuangkan air putih ke dalam gelas.

"Gemi, lain kali kalo ada yang jemput, terus kamu belum rapi ... diajak masuk dulu ya, Nak. Nggak sopan banget masa disuruh nunggu di luar?" ucap mamanya ketika melihat kehadiran Gemila melalui ekor matanya.

"Eh iya, Ma. Maaf."

"Lain kali nggak boleh kayak gitu ya, Gem. Sekarang sarapan dulu sebelum kalian berangkat."

*****

Di perjalanan menuju sekolah, Hadif hanya diam. Tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi di rumah Gemila tadi, tapi kenapa rasanya menyesakkan?

Makan bersama keluarga, dulu pernah menjadi kebiasaannya juga. Bahkan ia dan Haga tidak akan keberatan ketika diminta oleh Ibu untuk menunggu sang Ayah pulang, agar mereka bisa makan bersama.

Kini kebiasaan itu tidak pernah ada lagi di rumahnya, kegiatan sarapan bersama di rumah Gemila tadi berhasil menarik pikiran Hadif ke masa lalu, mengingat kembali betapa bahagianya menjadi dirinya di masa dulu.

Sedangkan sekarang, jangankan makan bersama keluarganya, sekadar melihat Ibunya saja ia tidak bisa. Atau main play station bersama Haga seperti dulu, ia tidak lagi bisa.

"Hadid, maaf ya gue lama," ungkap Gemila ketika menyadari kalau sejak tadi Hadif hanya diam.

Bahkan laki-laki itu tidak menjawab permintaan maafnya.

Merasa kalau Hadif marah padanya, Gemila kembali diam. Siapa juga yang tidak marah jika menunggu selama setengah jam? Albi telat lima menit saja Gemila tidak ada hentinya memarahi laki-laki itu.

Beberapa menit telah berlalu, sebentar lagi mereka akan sampai di sekolah. Tetapi Hadif malah menepikan motornya, melepas helmnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia menoleh ke belakang, menatap Gemila yang sedang termangu. "Kita ngobrol dulu ya," pinta Hadif.

"Hah? Gimana?" tanya Gemila heran, ia tidak mengerti maksudnya.

"Lo suka pelajaran apa?" tanya Hadif pada Gemila, mungkin ini akan terdengar aneh bagi Gemila. Tapi Hadif benar-benar harus mengalihkan pikirannya, ia tidak mau lagi jika pikiran-pikiran itu berakhir dengan dirinya yang selalu menyalahkan orang lain dan juga menyakiti dirinya sendiri.

Gemila mengerutkan keningnya, kentara sekali jika gadis itu bingung. "Tiba-tiba banget pertanyaan lo, tapi gue suka pelajaran Sosiologi sih."

"Oh ... kemarin Sukabumi seru?" tanya Hadif lagi.

"Banget, kapan-kapan mau lagi deh."

"Boleh, nanti ya. Nanti gue ajak ke pantai yang bagus."

Gemila mengangguk senang. "Lo nyampe rumah jam berapa semalem?"

"Sekitar jam sebelas, soalnya main ke rumah temen gue dulu sekalian balikin helm."

"Lo nyampe jam sebelas?" tanya Gemila, mengulang pengakuan Hadif.

Hadif hanya mengangguk sebagai responsnya.

"Lo nggak digebukin sama bokap nyokap lo kan balik jam segitu?" tanya Gemila lagi.

Mendengar itu Hadif terkekeh pelan. "Nggaklah, gue nggak tinggal bareng orangtua gue, Gemi. Tapi kalo ketauan balik malem, ya tetep diomelin."

"Orang tua lo ..." Gemila menggantung suaranya, ragu untuk mengatakan apa yang ada dipikirannya. Tetapi, Hadif menganggukkan kepalanya, seolah tahu apa yang sedang Gemila pikirkan.

"Kalo lo mikir orang tua gue divorce, lo bener."

******

terima kasih karena masih mau baca tulisan ini sampai di chapter 16, baca sampe tamat yaaaa pls😖

tp bakalan slow update soalnya ini mau lebaran(?) btw, selamat lebaran ya semua, mohon maaf lahir dan batin.

selain karena mau lebaran, aku juga lagi nggak punya banyak waktu buat nulis ... tapi bakalan selalu berusaha untuk update 💚

pokoknya jangan tinggalin aku😌

Hadif dan SenayanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang