30. Bahas ginian selalu bikin badan gue berasa sakit

275 40 16
                                        

Semenjak memutuskan untuk kembali ke rumah lamanya, kebiasaan-kebiasaan yang sudah ia tinggalkan, belakangan ini kembali ia lakukan. Hadif sudah mencoba menghabiskan waktunya dengan merapikan seisi rumah, namun rasanya belum cukup untuk menghilangkan berbagai macam hal yang sedang berkecamuk di kepalanya.

Hadif butuh sesuatu yang bisa menenangkan isi kepalanya, juga melapangkan dadanya yang belakangan terasa penuh dan sesak. Dan di sela-sela belajarnya, sesekali Hadif menenggak minumannya. Terlihat konyol, tapi sudah teramat sering ia lakukan.

Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menutup buku yang sudah dua jam ia biarkan terbuka tanpa benar-benar mempelajari isinya.

Semenjak pulang ke rumah, Hadif hanya keluar untuk sekolah, lalu menghabiskan waktunya di kamar, mengunci pintu rumah tanpa mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam.

Pikirannya selalu tertuju pada Gatra dan Haga, juga Ayahnya yang akhir-akhir ini melarang dirinya melanjutkan kuliah di Malang. Entah apa yang membuat Randi tiba-tiba melarangnya, yang jelas Hadif tetap bersikeras untuk pergi ke Malang.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, perutnya terasa perih akibat lapar. Laki-laki itu memutuskan untuk turun ke bawah dan mencari sesuatu yang bisa ia makan di dapur.

Namun, sama seperti di hari-hari sebelumnya, tidak ada apa-apa di dapur selain beberapa bungkus mie instan. Kontrak Mbak Ayu sudah diputus oleh Randi ketika Hadif memutuskan untuk tinggal di rumah Ayah bersama Bunda, jadi tidak ada lagi yang mengisi keperluan rumah.

Lagi-lagi, Hadif harus mengabaikan rasa lapar di perutnya, lalu ia kembali ke kamar dan menikmati minumannya dengan perut yang terasa perih.

Hadif memutar-mutar batang rokoknya yang sudah pendek, lalu meletakkan rokok tersebut ke dalam asbak dan beralih memegang gelas; yang seperkian detik kemudian gelas itu melayang ke sudut kamar, dan menghantam tembok kamarnya.

Tidak, tindakan yang baru saja ia lakukan, bukan karena perutnya terasa lapar. Tapi karena emosi yang belakangan ini ia pendam sendiri, juga karena hidup yang terasa semakin sulit untuk dijalani.

Sampai di jam lima pagi, dengan mata yang sedikit berat akibat terjaga semalaman dan mungkin juga efek minuman yang ia konsumsi, Hadif melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dan mencuci wajahnya di sana.

Setelah selesai membersihkan diri, Hadif mengganti pakaiannya menjadi seragam sekolah, lalu berangkat di jam setengah enam pagi.

Tidak ada sarapan, sebab Hadif langsung bergegas menuju rumah Gemila. "Lama ya gue," tanya Hadif pada Gemila yang sepertinya sudah menunggu.

"Tumben banget agak mepet jam masuk," sahut Gemila sembari mengambil helm yang diberikan pada Hadif.

"Kesiangan," jawab Hadif sekenanya.

"Muka lo aja muka-muka orang belum tidur." Gemila naik ke motor setelah selesai memakai helmnya.

Hadif mengabaikan Gemila yang mengatakan dirinya seperti orang yang belum tidur, lalu melajukan motornya menuju sekolah.

"Bener kan lo nggak tidur?" tanya Gemila lagi.

"Nanti pulangnya temenin gue belanja mingguan ya?" pinta Hadif tanpa mempedulikan pertanyaan Gemila sebelumnya.

"Di mana?" balas Gemila, gadis itu tidak membahas kenapa pertanyaannya tidak dijawab, ia seolah lupa dengan pertanyaannya sendiri.

"Biasanya mbak gue di Indogrosir."

"Kenapa nggak sama Mbak lo aja?" tanya Gemila.

"Masa kerjanya udah selesai."

Gemila mengangguk paham, "yaudah, nanti gue temenin."

Hadif dan SenayanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang