Hari sudah hampir gelap, tetapi Hadif belum ingin pulang ke rumah. Laki-laki itu hanya duduk di lantai dua toko Lubby, toko milik orang yang sudah ia kenal dua tahun belakangan.
"Gak balik lo, Dif?" tanya si pemilik toko.
Hadif melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, "ntar deh. Males gue bang."
"Mau minum lagi?" tanyanya. "Mau cobain Vibe, gak?" imbuh Diska, pemilik toko Lubby.
"Nggak, udah cukup. Tapi Vibe tuh yang sering ada di podcast-podcast Youtubers, kan?" tanya Hadif untuk memastikan.
Diska terkekeh. "Iya, karena itu juga orang-orang pada nyari Vibe kayaknya. Asli sehari bisa puluhan orang nyari gituan, padahal dulu nggak banyak yang nyari."
"Berapa persen sih dia kadarnya?"
"Dia paling gede empat puluh persen," sahut Diska. "Mayan sih kalo kata temen-temen gue."
Hadif hanya mengangguk, lalu meneguk sisa minumannya sampai tandas. "Gapapa kan gue di sini dulu?"
"Mau sampe pagi juga gue enggak masalah, tapi orang rumah aman nggak? Ntar nyariin," ujarnya.
"Ntar jam sembilan gue balik," sahut Hadif sembari membuka ponselnya yang sedari tadi memunculkan beberapa notifikasi.
Ia membuka pesan pertama yang dikirim oleh Albi, isinya hanya sebuah pertanyaan yang menanyakan di mana keberadaan Hadif. Setelahnya ia membuka room chat nya dengan Gatra.
Gatra
| dif belom balik?
| lo di mana?
| sori bgt anya ikut ke rumah lo
| lo jgn balik dulu
| dif anaknya gak mau balik
| dif lo di mana?
Hadif hanya membaca pesan tersebut, lalu keluar dari room chat itu dan kembali membuka chatnya bersama Albi.
Hadif
| kenpa emang?
Albi
| lo udah di rumah blm? kalo udah ga jadi
Hadif
| gue lagi di tempat teme gue
| *n
Albi
| di mana? gue ke situ ya?
| pusing bgt, mau minum😔
Hadif
| pas banmbgt
|📍Lokasi
| klo mu ajak yg lain ajak aaa
| *aja
Albi
| otw..🏍️....
Setelahnya Hadif meletakkan kembali ponselnya, kini ia memperhatikan Diska yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Gue mau coba Vibe, deh."
Diska mengalihkan fokusnya ke Hadif, "katanya udah cukup?"
"Temen gue mau ke sini," jawab Hadif jujur. "Eh boleh gak?"
"Temen lo yang mana? Jason?" tanya Diska, laki-laki itu memang hanya mengenal Jason.
Hadif menggeleng, "bukan, boleh nggak? Kalo gak boleh biar gue larang nih anaknya, takut ke buru jalan."
"Ya boleh, asal jangan ngajak orang satu RT aja, bisa-bisa pelanggan gue ngiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hadif dan Senayan
Teen FictionTentang Hadif, yang memilih sekolah di daerah Senayan- yang jaraknya jauh sekali dari rumah- hanya untuk bisa bertemu dengan Ibu dan kakaknya. Tentang Hadif, laki-laki tujuh belas tahun; yang dihancurkan rumahnya, dipatahkan hatinya juga dikhianati...
