26. Kehilangan Ibu

209 32 13
                                        

Gemila sedikit terkejut ketika Hadif benar-benar membawa dirinya ke rumah, dan memperkenalkan dirinya pada seorang wanita yang mungkin seusia dengan Mamanya.

"Waduh, dateng sama siapa ini anak Bunda?" tanyanya dengan ramah.

"Bunda, ini Gemi. Temen aku yang aku bilang di iMess tadi."

Hilda mengangguk, lalu melempar senyumnya kearah Gemila. "Salam kenal ya, Gemi. Maaf ya, tante jadi ganggu acara kalian. Tadi Hadif bilang udah terlanjur janji sama kamu, tapi nggak enak juga kalo nolak ajakan Bundanya. Kamu gapapa, kan, Nak, kalo anterin Tante dulu?"

Gemila sedikit membungkukkan badannya, lalu mengangguk dan tersenyum ramah. "Ih tante jangan minta maaf, aku malah nggak enak. Tante kan Ibunya, jelas lebih berhak. Justru aku yang harus minta maaf, takut tante ke ganggu sama aku."

"Nggak kok, Tante nggak ke ganggu. Yaudah, kalau gitu aman ya ... masing-masing dari kita nggak ada yang terganggu."

"Bunda aku ikut," teriak seorang perempuan dari lantai atas, orangnya belum terlihat tapi suaranya sudah santer terdengar. Siapa lagi kalau bukan Anya.

"Eh ... mmm, siapa, Bun?" tanya Anya pada Bundanya ketika sudah tiba di lantai dasar bersama Bunda, Hadif dan Gemila.

Lagi-lagi Hilda tersenyum, tapi kali ini ada kejahilan di senyumnya. "Pacar Abang kamu tuh."

Baik Hadif maupun Gemila tidak ada yang membantah, sedangkan Anya memperhatikan Gemila dari ujung kaki, sampai ujung kepala. Tidak ada senyum di wajahnya, membuat Gemila menjadi sedikit grogi dan takut; lalu menundukkan wajahnya.

"Yaudah kalo mau ikut ayo," ucap Hilda, Anya langsung menggeleng.

"Nggak jadi, aku mau main."

"Sama siapa? Kalau emang mau main pulangnya jangan malem-malem, ya? Maksimal jam tujuh ya, Sayang?"

"Iya Bunda, aku ke kamar dulu." Lalu setelahnya Anya langsung pergi, tanpa menyapa Hadif maupun Gemila.

"Kita berangkat sekarang, yuk?" ajak Hilda, Hadif dan Gemila kompak mengangguk.

*****

Mereka sudah tiba di pasar lama Tangerang sejak satu jam yang lalu, Bunda Hilda sudah dikembalikan ke rumah, bersama dengan mobil yang tadi mereka pakai untuk pergi ke dokter kandungan.

Hari ini, pasar lama Tangerang tidak terlalu ramai, jadi tidak terlalu antre saat membeli makanan. Gemila sudah memakan cumi bakar, souffle pancake, takoyaki, potato twist, dan beberapa makanan lainnya.

Saat ini mereka tengah berjalan dengan langkah pelan, memperhatikan berbagai macam jajanan yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Di tengah perjalanannya, Gemila mempertanyakan apa yang sempat menjadi pertanyaan di kepalanya beberapa waktu lalu.

"Jauh juga ya jarak rumah lo ke sekolah," ucap Gemila setelah melakukan perjalanan dari sekolah ke rumah Hadif.

"Kalo ke rumah gue lebih jauh, Gem."

Gemila mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud Hadif; sebab mereka sudah ke rumah Hadif tadi. "Hah? Emang tadi rumah siapa? Rumah lo, kan?"

"Yang tadi rumah Ayah sama Bunda gue, rumah gue mah masih dua puluh menitan lagi kalau dari sana. Lebih jauh pokoknya kalo ke sekolah."

Gadis itu semakin tidak mengerti, "gimana si maksudnya? Lo nggak tinggal bareng orangtua lo?"

"Nggak, kan gue udah pernah bilang kalo orang tua gue udah cerai."

"Oh iya paham-paham, lo tinggal sama nyokap gitu."

Hadif menggeleng, lalu terkekeh. "Nggak gitu, gue tinggal sendiri di rumah. Ibu sama Abang gue di Jakarta."

Hadif dan SenayanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang