24. Tapi Ibu tau; jadi Abang juga nggak mudah

229 36 12
                                        

Matahari sedang terik-teriknya ketika Hadif dan yang lainnya bermain futsal di lapangan utama; yang dikelilingi oleh gedung-gedung kelas. Tapi katanya, jam sepuluh adalah waktu yang baik untuk berjemur, karena mengandung sinar UVB.

Sudah lama mereka tidak mengisi lapangan dengan bermain futsal, meski hanya sekadar permainan biasa. Tetapi sangat seru untuk ditonton. Ini bukan karena mereka pada ganteng dan keren, tetapi karena terlihat seru dan ramai, sehingga mengundang banyak perhatian. Kadang kalau sudah dimulai, akan ada banyak anak laki-laki dari kelas lain yang ingin bermain juga, yang pada akhirnya semakin membuat suasana lapangan menjadi ramai.

Kalau lapangan sudah ramai, suara bel berbunyi pun mereka tidak akan dengar. Seperti lima menit yang lalu, bel masuk sudah berbunyi. Tetapi sama sekali tidak ada kesadaran dari anak-anak yang tengah bermain.

Biasanya guru kesiswaan harus memberitahu melalui alat pengeras suara, bahkan kadang itu pun tidak akan mempan. Sampai harus disamperin dan dibubarkan secara langsung. Percaya tidak percaya, hampir di setiap sekolah, pasti selalu memiliki siswa-siswa ngeyel seperti mereka.

Adnan menarik salah satu siswa yang sedang bersiap untuk mengoper bola, "udah, cukup mainnya. Masuk ke kelas masing-masing!"

Tapi bodohnya, bola itu sudah terlanjur di tendang dan membuat amarah Adnan memuncak. "Jason, nggak denger bapak bilang apa?"

"Hadif, berhenti di kamu!" titah Adnan jauh lebih keras.

Laki-laki itu menurut dan mengunci bolanya di kaki. "Ayo masuk-masuk," kata Hadif pada teman-temannya.

"Kita lanjut pas istirahat kedua ya," ucap Andaru sebelum melipir ke pinggir lapangan dan berjalan menuju kelasnya, disusul oleh Jason dan yang lainnya.

"Khusus Hadif jangan ke kelas dulu, kamu disuruh ke ruangan Ibu Jua."

Hadif menghentikan langkahnya, memberi anggukkan pada Pak Adnan lalu menepuk bahu Albi. "Bi, kalo guru nanyain, bilang gue dipanggil Bu Jua, ya."

*****

"Jadi kapan orangtua kamu bisa datang?" tanya Jua sembari menatap kearah Hadif, sedangkan yang ditatap langsung menggeleng.

"Kemungkinan nggak bisa dateng, Bu."

Jua mengerutkan keningnya, "kamu meremehkan panggilan ini? Tau, kan, konsekuensinya?"

"Tau kok, Bu. Tapi orangtua saya beneran nggak bisa dateng."

"Oke, apa alasannya?" tanya Jua.

"Ayah saya kerjanya di Salatiga, jadwal liburnya cuma Sabtu-Minggu; di hari itu sekolah libur, kan? Ayah saya juga nggak bisa ambil cuti, jatah cutinya di tahun ini sisa empat hari, jatah itu bakal dipake buat hadirin wisuda saya dan adik saya nanti, Bu. Kemarin udah saya jelasin, kan?"

Jua mengangguk mengerti. "Iya, kan udah Ibu bilang juga kemarin, nggak harus Ayah kamu kok. Ibu kamu pun boleh datang ke sini, tapi kamu diem aja. Ibu cuma pengin tahu, kamu ini di rumah gimana? Peran orangtua kamu juga di rumah gimana? Kenapa kamu bisa kesiangan, Kenapa kamu bisa malas dan apa orangtua kamu tahu; kalau kamu malas sekolah? Ini semua kan harus dibicarakan sama orangtua kamu, biar ketemu akar masalah dan solusinya."

"Ibu saya juga nggak bisa datang, Bu."

"Orangtua saya kan udah pisah," ucap Hadif seraya melihat kearah Ibu Jua. "Saya juga udah nggak ketemu sama Ibu saya selama tiga tahun," sambungnya dengan wajah yang ia tundukkan.

"Jadi kalo Ibu tanya peran orangtua saya di rumah gimana, jawabannya nggak ada. Saya udah nggak tinggal bareng sama orangtua saya, mereka udah punya kehidupan sendiri."

Hadif dan SenayanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang