Limo

7.9K 415 2
                                        

Dia mengingatnya. Vallery atau lebih tepatnya indah mendengus sebal. Tubuh yang di tempatinya benar-benar lemah mental dan juga dia menatap obat yang berada di tangannya. Obat penenang. Benar, pertama kali dia sadar waktu ditubuh Vallery adalah ketika gadis itu hampir over dosis obat Penenang dan mengalami kecelakaan mobil.

Dengan perasaan gamang dia membuang obat itu.

"Val? Lo udah selesai?" Tanya Rein dari luar bilik toilet.

Vallery mendongak dan tanpa sadar mengangguk "Iya ini selesai"

Sekali lagi dia menatap obat itu "Good bye, Vallerynya udah mati. Sekarang gue indah Gak butuh obat sialan itu. Gak ada kata lemah di hidup indah" bisiknya dan keluar dari bilik toilet.

Di perjalanan ke kantin dia sempat berpikir, apa mungkin perasaannya yang menggebu-gebu itu adalah perasaan Vallery yang asli? Perasaan senang, gelisah, takut, bahkan ketertarikannya kepada Angkasa itu adalah palsu?

Sesaat dia memegang kepalanya pusing. Sialan, dia akan benar-benar gila jika tidak bisa membedakan mana yang asli.
"Val, lo baik-baik saja? Kepala lo sakit?" Tanya Rein khawatir ketika Vallery mendesis dan memegang kepalanya.

Vallery menoleh dan menggeleng "Enggak, gue cuma kelaparan kok, Hehe" jelasnya sambil tersenyum malu.

"Sialan lo, lo bikin gue khawatir. Ya udah ayok cepetan ke kantin, siapa suruh tadi mejeng ke toilet dulu" omel Rein.

"Ya yang namanya buang hajat siapa yang minta Rein. Itu udah hukum alam" ujar Vallery malas.

"Gak usah bahas hukum alam, ayok cepetan sebelum kantin penuh" tekan Rein dan menarik tangan Vallery untuk berjalan cepat.

Ketika mereka sudah sampai di pintu masuk kantin, mereka terhenti karena suara bentakan dan pecahan piring

PRANG!!

"Dasar Murahan!! Gak tahu mau lo? Cewek miskin kaya lo mau jadi pacarnya Angkasa? MIMPI!!" Teriak Kezia murka.

Sedangkan Isabella hanya terduduk lemah di lantai dan menangis sesenggukan.

"KEZ!!" Bentak Angkasa yang terburu-buru menghampiri Kezia dan Isabella di ikuti cewek yang Vallery duga adalah teman Isabella.

"Kez! Lo cewek tapi kasar banget sih?!! Bukan Isabella yang murahan tapi ELO yang murahan!!" Bentak Angkasa.

"Asa!! Gue begini karena gue cinta elo!! Lo milik gue!! Gak ada yang boleh milikin lo selain gue!!" pekik Kezia, dia menatap Angkasa tidak percaya. Sudah 2 tahun dia mengejar cinta Angkasa, tapi apa? Angkasa sama sekali tidak menoleh kepadanya, tidak memberi kesempatan sedikit pun kepadanya. Apakah salah kalau dia ingin berjuang??

"Gue bukan milik siapa-siapa. Gue ya milik gue dan orang tua gue. Entah lo mau bully siapapun itu gak akan merubah fakta kalau gue gak cinta sama lo!! Jadi berhenti sekarang, sebelum gue tambah muak dan bersikap lebih kasar sama lo!!"   Sentak Angkasa kali ini benar-benar di batas kesabarannya. Urat-urat lehernya sedikit menonjol menunjukkan seberapa geram dia dengan tingkah Kezia.

Kezia menatap Angkasa kecewa , kemudian dia memilih keluar, pergi dari kantin.

Angkasa menghela napas kasar, dia melirik Isabella yang masih terduduk di lantai "Bangun! Lo mau jadi keset?!"

Isabella mendongak, dan menatap Angkasa takut. Sedikit ragu untuk berdiri karena kakinya terasa sakit.

"Jangan lemah jadi cewek. Lo boleh bales kalau mereka udah kelewatan" ujar Angkasa setelah meneliti penampilan Isabella yang berantakan.

"Ma-makasih kak.. makasih karena selalu bantu aku" ucap Isabella lembut.

"Gue gak bermaksud bantu elo. Gue bersikap seperti itu karena gue tahu Kezia gak bisa dibiarkan" jelas Angkasa kemudian berjalan melewati Isabella dan menghampiri meja temannya.

Isabella sedikit tertegun, jadi selama ini bukan karena kak Angkasa suka kepadanya. Tapi karena kak Angkasa tahu kalau kak Kezia bakal bully dia terus. Entah kenapa Isabella sedikit sedih dengan kenyataan itu.

Sedangkan Vallery dan Rein belajan memasuki kantin setelah drama yang Kezia ciptakan selesai "Ayo pesen, kakak lo udah melototin gue karena dia pikir gue yang ajak lo ke toilet dulu tadi, ayok" ajak Rein menarik Vallery ke arah stan Batagor.

"Kasian kak Kezia, gue jadi dia pun bakal berusaha bikin cowok yang gue suka, balik suka sama gue" ucap Vallery tiba-tiba setelah meraka duduk di meja kosong.

Rein melirik Vallery aneh "Apaan, Lo sapa kak Angkasa aja grogi. Gimana mau berusaha kejar kak Angkasa" kata Rein sewot dan di balas delikan sinis oleh Vallery.

"Ini nih, teman rasa guk-guk. Halal di sembelih" balas Vallery sewot.

Rein memutar matanya julit "Dih, sejak kapan guk-guk halal. Ini nih, teman minus ilmu. Halal di qurbanin" balas Rein dengan nada yang Vallery gunakan.

"Anjir, ngele—" "Dek! Dimakan batagornya bukan malah berantem" Tegur Vello memotong perdebatan Rein dan Vallery.

Vallery mendongak menatap kakaknya "Hehe.. iya kak, ini mau makan" ujarnya dengan suara kecil, takut kakaknya marah. Vello mendengus dan duduk berhadapan dengan Vallery "Makan" ujarnya.

Dengan lahab Vallery memakan batagornya disusul kekehan geli di sampingnya. Vallery menoleh, ternyata Kakak dan teman-temannya ikut duduk di meja makan mereka, begitu pula Angkasa yang terkekeh geli.

Vallery melirik sebal Angkasa yang di balas dengan tatapan menggoda "Gue baru tahu kalau lo bisa imut juga" bisiknya saat melihat pipi Vallery yang mengembung ketika mengunyah batagornya.

Seketika Vallery melotot dan terbatuk-batuk, kaget dengan bisikan Angkasa yang dekat sekali dengan telinganya. Well, dia sangat sensitif dibagian telinga dan lehernya.

"Dek! Makan yang bener. Gak apa kan? Sakit gak tenggorokannya?" Tegur Vello sekaligus khawatir, takut Adeknya merasakan sakit lagi.

"Ma-maaf, kak Angaksa sih gangguin Adek makan" kata Vallery sebal. Entah kenapa di mata Vello dan teman-temannya, Vallery yang cemberut terlihat menggemaskan.

"Hiiih, Lo gemesin banget sih" ujar Samuel gemes dengan tingkah Vallery.

"Adek gue Sam! Gak usah gangguin" Tegur Vello setelah memberi Vallery minum.

"Gue muji anjir, bukan ganggu. Ya kan Dek.." balas Samuel menompang dagunya menatap Vallery dengan senyum manis.

"Halah, gaya lo" ucap Samudra meraup wajah Samuel dengan tangan besarnya.

"Gak usah di dengerin Val, bisikan setan emang merdu" kata Samudra.

Samuel melirik Samudra sinis "Sialan lo, kalau gue setan lo semua temannya setan dong"

"Dih, Lo aja yang setan. Elo kan yang suka keluar masuk lubang" ujar Devan membalas ucapan Samuel.

"Heh, bahasa lo. Adek gue dengerin ini" Tegur Vello.

"Iya nih, jaga wibawa dong pak Ketua OSIS. Malu tahu sama Adek gemes" ujar Samuel puas karena merasa menang dari Devan.

Seketika Devan berdehem seolah membersihkan kotoran yang tersangkut di tenggorokannya.

"Hihi.. kak Devan lucu ya" ucap Vallery terkekeh geli.

Setelahnya telinga Devan langsung memerah, sedikit salah tingkah dengan ucapan Vallery.

Angkasa yang melihat itu melirik tidak suka. Dia menoleh ke arah Vallery yang masih memandang Devan "Gue lebih lucu" ucapnya tiba-tiba.

♈️♈️♈️

Tbc.
Coba dong Komen 💜
Jangan lupa tekan ⭐️ ya.
Maaci😘

The Real Of MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang