"Jihan, udah ketemu Rangga?"
Kalimat pertama yang keluar dari bibir Daisy, membuat Jihan bergerak gelisah. Ranesha yang berada di sebelahnya, menyikut lengan Daisy. Mengkode perempuan itu untuk tidak membahas apa pun yang berhubungan mantan kekasih Jihan.
Namun, sayang. Daisy tidak menggubris Ranesha yang berada di sebelahnya. Perempuan itu hanya menatap intens ke arah Jihan.
"Jihan?"
Jihan menggigit pipi bagian dalam. Jemarinya mencengkram erat lengan Saga, membuat sang empunya mengernyit menatap Daisy dan Jihan bergantian. Dia bisa merasakan bagaimana Jihan ketakutan ketika nama Rangga disebut.
"Jihan!"
Untuk ke sekian kalinya, suara Daisy mengisi kesunyian di antara mereka. Jihan yang mendengarnya, menarik napas sejenak. Kelopak matanya terpejam sesaat, sebelum akhirnya dia menatap Daisy, dan berucap, "Udah. Di minimarket tempat gua kerja."
"Brengsek!"
Daisy mendesis tajam, membuat mereka semua terhenyak. Kilatan amarah di bola mata itu jelas mengingatkan Jihan akan tragedi yang hampir merenggut mahkota dan masa depannya.
Daisy berdiri. Melangkah ke arah Jihan dan duduk di sebelahnya. Saga yang mengerti, memilih beranjak demi memberi ruang kakak beradik itu untuk berbicara satu sama lain.
Jihan bingung, harus bersikap bagaimana ketika Daisy menggenggam kedua tangannya. Dia hanya memperhatikan sang kakak yang tengah menunduk menatap jemarinya yang digenggam.
"Maaf, seharusnya gua nggak nyebut nama dia di depan lu."
Daisy mendongak, menatap intens ke arah Jihan. Tangan kanannya terulur mengusap kepala Jihan dengan sayang. "Tapi, gua juga nggak bisa ngebiarin dia berkeliaran disekitar lu.”
Daisy menelan ludah. Ingatannya berputar pada kematian Raina dan juga Riri. Kilas balik itu, membuat kerongkongannya terasa tercekat. Dia menatap Ranesha dan Sora, lalu beralih lagi ke Jihan. "Gua nggak mau sampai gagal, jaga adik-adik gua dan kehilangan lagi."
"Kak! Jangan ngomong gitu! Ini bukan salah lu! Lu nggak pernah gagal jadi kakak buat kita!" Bantah Jihan. Meremas telapak tangan Daisy lembut. Anggukan Sora dan Ranesha, menjadi pendukung apa yang Jihan katakan.
Daisy menarik senyum tipis. Hatinya sedikit lega. Namun, sebelum semuanya benar-benar tuntas, dia tidak bisa merasa tenang. Keselamatan adik-adiknya adalah satu hal utama yang harus dia amankan.
"Gua emang nggak nyaman waktu lu nyebut nama dia. Tapi, gua tau lu ngelakuin ini juga bukan tanpa alasan, 'kan?"
Daisy mengangguk. "Gua mau dia dapat ganjaran setimpal atas apa yang dia perbuat. Gimana pun, dia udah nyakitin lu. Setelah lu berjuang dan berhasil keluar dari mimpi buruk itu, dia muncul lagi seolah nggak ada apa-apa." Daisy mendengus. Mengatup bibirnya rapat. Emosi dan kemarahan itu, kembali memenuhi kepalanya.
Jihan menunduk, meremas ujung sweater yang dia kenakan. "Sejujurnya, selama satu tahun terakhir ini, gua udah coba berbagai cara untuk menjebloskan dia ke penjara. Tapi nihil. Gua selalu gagal. Backing–nya terlalu kuat."
"Jangan khawatir. Sekarang, nggak ada siapa pun yang bisa meloloskan dia."
Jihan mendongak medengar ucapan Sagara, dan usapan lembut di kepalanya yang dilakukan laki-laki itu.
"Satu-satunya backing yang dia punya, sekarang jadi buronan polisi."
Sebenarnya, Sagara sama sekali tidak tahu masalah apa yang terjadi antara Jihan dan Rangga. Satu hal yang dia tau, bahwa Rangga dan Liona adalah kakak beradik. Menurut data yang diketahui, keluarga Kusuma hanya tersisa kakak beradik itu. Jika Liona menjadi buronan, akan lebih mudah menyeret laki-laki itu ke balik jeruji besi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Family (REVISI)
General FictionKeluarga itu terbentuk dari beberapa hal. Hubungan darah, pernikahan, atau takdir yang saling mengikat. Seperti yang dialami oleh Daisy, Jihan, Sora, Zain, Ranesha, dan Riri. Hubungan mereka terjalin dari takdir yang saling mengikat hubungan mereka...