Zen menelan ludah. Cowok itu melirik Sora yang sedang bersandar di kaki sofa. Dengan tiga buah kotak martabak dan satu kotak es krim di genggaman tangannya. Bukan apa-apa, dia hanya takut kalau yang ada di sebelahnya ini bukan Sora. Melainkan makhluk yang menyerupai.
Lagi, Zen melirik Sora. Sedikit menggeser tubuhnya mendekati sang kakak. Menempelkan tangannya di dahi Sora kemudian berucap, "Maneh teh saha?"
Sora yang mendapati kelakuan absurd itu melongo. Tidak paham dengan konspirasi baru yang dibuat Zen. Apaan coba? Dia lagi enak makan eskrim malah diajak ngomong bahasa alien.
"Aing teh mercon."
Zen menoleh, jawaban itu bukan berasal dari Sora. Melainkan Riri dan
Ranesha yang sedang bergaya seperti singa di dua anak tangga terakhir."Kok lu berdua yang kerasukan sih?"
"Ya nggak papa dong, kan kita berdua mewakili ekspresi kak Sora. Ya nggak, Ri?"
Riri menganguk, keduanya turun dari dua anak tangga terakhir. Menuju meja makan.
"Kak Ichi mana? Kok nggak keliatan?"
Jihan yang sedang sibuk menggoreng tempe melirik dua bungsu tersebut. "Katanya tadi ke rumah pak RT, ngurus surat-surat pindahan."
"Ohh."
"Mau ngapain lu berdua?"
Riri menyengir, matanya melirik sepiring tempe goreng lengkap dengan beberapa varian gorengan lainnya. "Kak."
"Apa?" Jihan menoleh sebentar. Kembali fokus dengan masakannya.
"Kak." Lagi, Riri kembali menyengir.
Sementara Jihan sudah berkacak pinggang dengan wajah super kesal. "Lu itu kalo mau sesuatu ngomong yang jelas. Nggak usah kak, kek, kak, kek. Pusing tau nggak gua dengarnya."
Rasanya Jihan ingin menenggelamkan diri ke inti bumi saja. Dia baru saja merasa tenang setelah perdebatan absurd Ranesha, Zen, dan Riri beberapa waktu lalu. Dan sekarang mereka kembali mengacau dengan konspirasi baru. Ya Tuhan. Dia tidak yakin bisa menahan segala gejolak ini. Rasanya ingin sekali mengabsen segala jenis penghuni kebun binatang.
Ugh, sebenarnya kak Ichi kemana sih? Sejak sore tadi dia belum kembali. Padahal Jihan sudah sangat lelah menghadapi kegilaan adik-adiknya ini.
"Aaa ... Kok Lu nggak ngingetin gua lagi diet sih." Sora memekik histeris, mengguncang bahu Zen tidak terima.
"Lah? Kok nyalahin gua? Kan kakak sendiri yang ngasih hukuman martabak seminggu penuh." Zen mengernyit tak mengerti. Yang memberi hukuman siapa, yang disalahkan siapa. Gini nih, nasib jadi anak cowok satu-satunya. Jadi kambing gembel mulu. Di jadiin babu sana sini. Untung sayang.
Melihat perdebatan itu Jihan mendengus seraya memijit pangkal hidung. Dia lelah raga juga jiwa. Untung saja dia sudah selesai memasak. Jika tidak, Jihan tidak akan tahu seperti apa rasa masakannya.
"Kalian berdua mau tetep ribut. Atau gua cincang satu satu?"
"Bukan gua yang mulai, Kak. Nih, kak Sora nuduh-nuduh gua."
Sora melotot tak terima. "Kok gua? Yang jelas-jelas salah itu lu, Zen. Udah tau gua lagi diet malah dikasih martabak."
"Dih, yang ngasih hukuman siapa?"
"Ya, kan-"
"Diem!" Jihan melotot garang ke arah keduanya. Jihan menarik napas dalam-dalam, menetralkan segala gejolak emosi di dada. Punya adik model beginian emang harus punya stok kesabaran di atas rata-rata.
"Zen, lu panggil itu dua kurcaci ke sini! Baru gua khilaf sedikit aja udah main gondol gorengan ke kamar."
"Rane, Riri. Keluar lu berdua!" Zen memekik, menggedor kamar ke dua bungsu tersebut. Bukan apa-apa, masalahnya dia udah nggak kuat meladeni dua perempuan yang ada di belakangnya. Apalagi Jihan yang kalau ngamuk melebihi singa. Hiyyy.

KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Family (REVISI)
General FictionKeluarga itu terbentuk dari beberapa hal. Hubungan darah, pernikahan, atau takdir yang saling mengikat. Seperti yang dialami oleh Daisy, Jihan, Sora, Zain, Ranesha, dan Riri. Hubungan mereka terjalin dari takdir yang saling mengikat hubungan mereka...