"Dekat lah dengan temanmu. Namun, lebih dekat lah dengan musuhmu."
__Liona kusuma__
🌼🌼🌼🌼
Satu bulan yang lalu ....
Terik matahari terasa begitu menyengat. Bulir keringat mengalir di dahi dan leher, membuat Jihan berulang kali mengusap dahinya secara berkala. Waktu menunjukkan pukul dua siang, yang artinya setengah jam lagi rapat organisasi akan segera dimulai.
Panik menyelimuti, dan sialnya tidak ada ada satu pun taksi kosong yang lewat. Mau memesan taksi online pun dia tidak bisa. Kuota internetnya habis.
Jihan mendengus kasar, mengabsen semua penghuni kebun binatang dan jajarannya. Disaat genting seperti ini, dia justru tidak bisa mengandalkan apa pun selain keajaiban dunia.
"Sepertinya kau sedang buru-buru, ya."
Jihan menoleh, keningnya mengkerut sebentar. Kemudian, dia mengangguk sebagai jawaban. Merasa tidak perlu banyak menjelaskan, Jihan kembali melihat jalanan lalu lintas. Sesekali mengecek arloji di pergelangan kiri.
"Di jam seperti ini, memang tidak akan ada taksi yang lewat di sekitar sini."
Jihan lagi-lagi menoleh, rambut pirang sepunggung milik perempuan di sebelahnya beterbangan tertiup angin. Kulitnya yang putih memerah akibat terik matahari. Jihan berani bertaruh, jika perempuan ini satu fakultas dengannya pasti akan menjadi primadona bagi semua mahasiswa.
"Ah, sayang sekali. Padahal ada rapat organisasi sebentar lagi," keluh Jihan menjawab.
"Kalau begitu, ikut saja dengan mobilku."
Jihan menggaruk pipi, ragu untuk mengikuti perempuan yang bahkan tidak dia ketahui namanya. "Apa nggak merepotkan?"
"Tidak," jawabnya seraya menggeleng. "Aku juga punya beberapa urusan di kampusmu." Lanjutnya kemudian. Menarik lengan Jihan untuk ikut, dan tidak membiarkannya menolak.
Jihan turun dari mobil dengan tergesa, setelah mengucapkan terima kasih. Dua orang dengan almamater sama dengannya menghampiri dengan wajah kesal.
"Terlambat sepuluh menit," ketus salah satunya kesal.
Jihan meringis, perempuan itu meraih dokumen dengan map merah dari dalam Tote bag yang dia pakai. Menyerahkannya pada keduanya. "Maaf," cicitnya pelan.
"Hai."
Dua mahasiswa yang sedang sibuk dengan dokumen yang diberikan jihan, menoleh. Keduanya tersentak dengan mulut menganga.
"L-Liona Kusuma!" pekik keduanya dengan ekspresi terkejut.
Liona tersenyum. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa begitu serius?"
"Tidak ada, hanya membahas organisasi yang kami urus." Pada akhirnya, Jihan membuka suara ketika tidak melihat tanda-tanda kedua rekannya ini akan menjawab, dan malah sibuk menyeka keringat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Family (REVISI)
Fiction généraleKeluarga itu terbentuk dari beberapa hal. Hubungan darah, pernikahan, atau takdir yang saling mengikat. Seperti yang dialami oleh Daisy, Jihan, Sora, Zain, Ranesha, dan Riri. Hubungan mereka terjalin dari takdir yang saling mengikat hubungan mereka...