Biasakan vote sebelum membaca♡
Happy reading><
"Kiss dulu baru gue maafin." Ucap Yumna yang membuat Albi terkejut.
"M-maksudnya?"
"Kiss dulu. Budek?"
"T-tapi-"
"Yaudah kalo nggak mau ya gausah. Gue gak maksa juga." Yumna sebenarnya hanya bermain main dengan ucapannya. Ia hanya senang melihat bagaimana reaksi Albi, ia sangat terhibur melihat tampang polosnya.
Namun Yumna memantung beberapa saat setelah Albi tiba tiba mengecup pipinya. Walau hanya sekilas, namun masih terasa sampai sekarang.
"A-anu kak-" Albi yang menjadi pelaku utama pun mendadak canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal serta menatap berbagai arah kecuali pada Yumna.
"Albi. Gue minta kiss. Bukan kecup." Albi menoleh mendengar penuturan Yumna.
Tiba tiba Yumna mendorong Albi ke tembok, menghimpit tubuhnya. Wajah Albi memerah saat Yumna menangkup kedua pipinya dan menariknya kedepan secara perlahan. Jantungnya berdetak kencang saat Yumna memiringkan kepalanya dengan mata yang terfokus pada bibirnya. Perlahan wajah mereka semakin mendekat saat tiba tiba-
"Aden. Bibik mau nganterin baju buat neng Yumna."
Yumna menghentikan aksinya dan merutuk dalam hati. Ia menjauhkan diri dan tanpa kata langsung berbalik meninggalkan Albi, masuk kedalam kamar mandi.
Albi menghembuskan napas lega. Bagaimana pun, kejadian tadi sangat menengangkan. Ini adalah pertama kalinya ia berada dalam situasi seperti tadi. Situasi yang menegangkan namun anehnya terasa menyenangkan.
Yumna memukul mukul kepalanya pelan, ia merutuki kebodoannya tadi. Bisa bisa nya ia hampir mencium Albi, menodai laki laki polos itu. Jika bukan karna ketukan dan suara Bik Marni, mungkin sekarang mereka sedang saling memangut satu sama lain.
Non Yumna. Ini bajunya." Pintu kamar mandi di ketuk membuat Yumna langsung membukanya. Ia menerima paper bag berisi pakaian dan kembali menutup pintu setelah mengucapkan terima kasih.
.
.
.
Yumna keluar dari kamar Albi karna tidak mendapati pemilik kamar di dalam sana. Ia turun ke lantai bawah, dan ternyata Albi dan kedua ibu ibu itu sudah duduk di meja makan.
"Udah selesai?" Tanya Dahlia saat Yumna menghampiri mereka.
"Udah tante. Maaf ngerepotin." Balas Yumna. Yumna duduk di samping maminya dan berhadapan langsung dengan Albi. Makanan satu persatu di dihidangkan dengan berbagai menu pilihan khas orang kaya.
Yumna melirik Albi sekilas. Laki laki itu hanya diam dan tak mau bersitatap dengannya. Lagi lagi Yumna merutuki kebodohannya, pasti Albi sangat tidak nyaman dengan apa yang sudah ia lakukan tadi.
"Minggu depan ulang tahunnya Albi. Kamu jangan lupa dateng ya." Dahlia menatap Yumna dengan senyum lebar. Alhasil Yumna menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Gausah Bunda. Albi udah gede. Gausah di raya in." Sambung Albi yang membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Gabisa gitu dong. Acara nanti harus berkesan sayang. Soalnya kolega bisnis juga pada dateng." Albi tidak menjawab. Ia terlihat pasrah pasrah saja dengan keputusan bundanya.
Yumna kembali menikmati makanan yang ada di depannya. Ia ingin segera pulang, berlama lama di rumah Albi membuatnya merasa tak nyaman, walau rumah itu mewah sekalipun.
"Kira kira. Konsep pesta Albi nanti kayak gimana ya? Yumna ada saran?" Yumna kembali mendongak dan menatap Dahlia. Yumna berpikir sejenak kemudian mengutarakan pendapatnya.
"Mungkin. Topeng?"
"Ah iya topeng. Gimana Al? Kamu setuju?" Dahlia kini menatap putranya. Albi hanya mengangguk singkat kemudian kembali menyantap makanannya, dia terlihat tidak perduli dengan sekitar.
Yumna mengalihkan perhatiannya dari Albi pada suara deringan ponselnya. Ia mengambil ponsel berlogo apel itu dan melihat nama yang tertera di sana.
Vano calling
Yumna menggigit pipi bagian dalamnya saat ia melihat siapa yang menelpon. Ia mengangkat pandangannya pada semua orang yang ternyata hanya Albi yang balas menatapnya.
"Mih. Tan. Aku permisi sebentar ya. Mau angkat telpon." Yumna kemudian berjalan menjauh setelah ia mendapat izin. Yumna menuju teras depan karna disana tidak ada orang.
"Iya hallo Van?" Yumna membuka suara.
"Lo dimana? Kenapa chat gue belum dibales sampe sekarang?" Vano, suara laki laki itu terdengar sedang kesal.
"Aduh maaf. Gue nggak sempet buka WA soalnya."
"Emang lo dimana? Gue sampe nyari lo kerumah lo tau kaga? Tapi kata pak satpam lo gak ada dirumah. Lo kemana si?"
"Gue lagi di rumah temen nyokap gue. Lagian kenapa si lo lebay banget cuma gara gara nggak gue balesin chat. Emang lo pikir gue nggak punya kerjaan lain apa?!" Yumna menaikkan nada bicaranya. Ia sangat tidak suka dengan orang yang sok mengaturnya.
Yumna dan Vano sudah berpacaran dari minggu yang lalu. Setelah Yumna memutuskan untuk tidak mengganggu Albi lagi, ia memutuskan untuk menerima Vano yang merupakan kapten basket menjadi pacarnya.
"Bukan begitu. Gue cuma khawatir sama lo. Katanya lo di skors? Kenapa?" Vano melembutkan suaranya membuat Yumna merotasikan bola matanya.
"Intinya gue di skors selama 3 hari. Dan gausah nanya panjang lebar. Mami gue manggil tuh, ntr telpon lagi ya byeee." Yumna langsung menekan tombol merah, memutuskan sambungan sepihak. Ia kemudian membuka aplikasi WA dan membuka room chat Vano.
Anda
Kita putus
Gue mau tobat
Setelah mengirim pesan itu kepada Vano, Yumna kemudian mengganti bio WA nya dengan kata 'udah tobat'. Terlihat Vano membalas pesannya panjang lebar namun tidak Yumna hiraukan. Ia lebih memilih menghidupkan mode pesawat dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jeansnya.
"Astaga!!" Yumna terkejut karna saat membalikkan badan ia mendapati Albi sudah berdiri di belakangnya. Laki laki itu hanya diam, bukannya minta maaf.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Yumna dengan masih menormalkan detak jantungnya.
"Kak Yumna udah punya pacar?" Bukannya malah menjawab, Albi malah kembali bertanya. Yumna menghela napas dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Punya lah. Wajar dong kalo cewek kek gue punya pacar." Jawab Yumna.
"Kalo punya. Kenapa malam itu kakak peluk aku? Kakak nggak peduli gimana perasaan pacar kakak?"
Yumna terdiam sejenak kemudian menjawab. "Gue peluk lo karna gue kasian. Jangan mikir maksud lain."
"Trus yang tadi? Kenapa kakak mau cium aku?"
Yumna langsung menolehkan kepala kesembarang arah. Ia takut jika ada yang mendengar selain mereka, terlebih dengan tante Dahlia.
"Lo yang cium gue duluan." Tuduh Yumna.
"Kakak yang nyuruh."
"Trus kenapa lo mau?"
Albi terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Yumna.
"Lo suka ya sama gue?" Pertanyaan Yumna langsung membuat Albi menggeleng. Yumna tertawa melihat bagaimana reaksi laki laki di depannya ini.
"Jadi kapan suka nya?"
"Ng-ngak tau."
"Yaudah kalo gitu. Nyoba pacaran sama gue aja dulu. Mau nggak?" Ucap Yumna dengan maksud menjahili Albi.
"Nggak mau." Yumna kembali terkekeh dan menepuk nepuk pelan bahu Albi.
"Kalo udah suka. Jangan lupa bilang."
To be Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Adik Kelas
Teen Fiction[Romance & Teen Fiction] Yumna Putri Kencana, gadis cantik yang memiliki segudang cara menggait laki laki agar tertarik padanya. Fuckgirl, itu adalah julukannya, karna tak jarang ia bergonta ganti pacar. Namun semuanya berubah saat seorang laki laki...
